Zhang Yang, Jendral China yang Gantung Diri Setelah Dituduh Korupsi

Zhang Yang, Jendral China yang Gantung Diri Setelah Dituduh Korupsi

Jenderal Zhang Yang, seorang pejabat militer senior China, dilaporkan bunuh diri di kediamannya pada Selasa (28/11), setelah dia diperiksa atas tuduhan korupsi.(Foto: Jenderal Zhang Yang - ist)

TIONGKOK, dawainusa.com Jenderal Zhang Yang, seorang pejabat militer senior China, dilaporkan bunuh diri di kediamannya pada Selasa (28/11).

Menurut laporan South China Morning Post, Jendral Zhang menggantung dirinya sendiri di rumahnya yang berlokasi di Beijing, setelah dia diperiksa atas tuduhan korupsi.

Baca juga: Berdamailah dengan Pemberontak: Konflik Moro dan Gerakan MILF

Dikabarkan, pemegang posisi penting di Komisi Militer Pusat China tersebut tengah diselidiki atas hubungannya dengan sejumlah pejabat militer yang terjerat kasus korupsi, yaitu Guo Boxiong dan Xu Caihou.

Kantor berita Xinhua melaporkan, penyelidikan tersebut berkaitan dengan pelanggaran disiplin serius, satu istilah yang biasa digunakan untuk merujuk pada korupsi.

Kampanye Anti Korupsi Xi: Berantas ‘Harimau dan Lalat’

Kampanye melawan korupsi dimulai di China menyusul berakhirnya Kongres Nasional Partai Komunis China ke-18 pada tahun 2012. Di bawah kendali Xi Jinping, Kampanye tersebut merupakan upaya anti-korupsi terbesar yang terorganisir dalam sejarah pemerintahan Komunis di China.

Pada rapat pleno terakhir partai sebelum kongres pada tahun lalu, Partai Komunis China (CCP) juga mengadopsi dua dokumen yang bertujuan mendirikan institusi pemberantas korupsi dalam tubuh partai.

Baca juga: Mengenal Mugabe, Sang Marxis Besutan Jesuit yang Dikudeta

Sebagaimana dilansir The Straits Times, dokumen pertama menjabarkan satu set aturan yang melarang nepotisme, faksionisme, dan penjualan kekuasaan. Sementara itu, dokumen kedua merangkum aturan supervisi internal dan peninjauan antar-anggota partai untuk inspeksi mendalam.

Setelah menjabat, Xi bersumpah untuk menindak ‘harimau dan lalat’, yaitu pejabat tingkat tinggi dan pegawai negeri sipil yang terlibat skandal korupsi. Sebagian besar pejabat yang diselidiki telah dikeluarkan dari jabatannya dan mendapat tuduhan penyuapan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Pada 2016, kampanye tersebut telah menjaring lebih dari 120 pejabat tinggi, termasuk sekitar belasan perwira militer berpangkat tinggi, beberapa eksekutif senior perusahaan milik negara, dan lima pemimpin nasional. Selain itu, lebih dari 100.000 orang telah didakwa melakukan korupsi.

Kampanye tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk membersihkan penyimpangan dalam jajaran partai dan menopang persatuan partai. Ini telah menjadi ciri dan lambang dari merek politik Xi Jinping.

Xi mengatakan bahwa ia akan memperkuat ideologi partai sehingga para kadernya dapat terhindar dari pemikiran yang melenceng.

“Masalah utamanya adalah ketidakjernihan dalam berpikir, organisasi, dan perintah dalam partai yang hingga kini belum terselesaikan dari akar hingga cabang,” katanya, sebagaimana dilansir Reuters.* (AT)