Setelah PKS-PPP Bertemu, Yusril Sambut Baik Koalisi Partai Islam di 2024
Foto Instagram/@yusrilihzamhd

Dawainusa.com – Yusril Ihza Mahendra menyambut baik pertemuan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) tersebut juga mengunkapkan bahwa dirinya menyanbut baik kemungkinan dibentuknya poros partai Islam di Pemilu 2024.

Dilansir dari TribunNews, hal itu diungkapkan Yusril menanggapi silaturahmi antara PPP dan PKS, di Kantor DPP PKS, Jl TB Simatupang No.82, Jakarta Selatan, Rabu (14/4/2021) kemarin.

Baca juga: Pasca Bencana, Listrik 105 Desa di Pulau Adonara Belum Normal

Tanggapan Yusril Ihza Mahendra 

Terkait dengan pertemuan PKS dan PPP, Yusril mengungkapkan lebih cepat lebih baik untuk membahas hal tersebut.

“Saya menyambut baik pertemuan PKS dan PPP kemarin yang mulai membahas pembentukan poros tengah partai-partai Islam. Pemilu masih tiga tahun lagi. Namun lebih cepat membahas hal di atas akan lebih baik,” ujar Yusril, dalam keterangannya, Kamis (15/4/2021).

Yusril mengungkap dalam pemilu lalu ada tiga partai Islam yang turut serta, yakni PKS, PPP, dan PBB.

Namun karena saat ini hanya PKS dan PPP yang memiliki wakil di DPR RI, Yusril meminta agar kedua parpol itu berinisiatif membentuk koalisi partai Islam.

“Alangkah baiknya jika kedua partai Islam ini mengambil inisiatif untuk membentuk koalisi atau poros tengah partai-partai Islam itu,” kata Yusril.

“PBB akan ikut aktif dalam pertemuan-pertemuan lanjutan yang nanti akan diadakan,” imbuhnya.

Yusril
Foto Instagram/@yusrilihzamhd

Baca juga: Nama Yenny Wahid dan Gus Yaqut Jadi Pembahasan Arus Bawa PKB

Ketua Umum PBB itu mengungkap pihaknya selalu menyambut baik setiap gagasan dan niat untuk menyatukan partai-partai Islam, baik dalam bentuk koalisi, aliansi bahkan peleburan partai-partai Islam menjadi satu kekuatan.

Hanya saja, dia menilai gagasan besar penyatuan partai Islam memang tidak mudah.

Sebab partai seringkali terpecah bukan karena masalah fundamental terkait ideologi atau prinsip perjuangan, tetapi karena perbedaan kepentingan politik praktis di lapangan.

Oleh karena itu, ia menuturkan untuk menyatukan partai-partai Islam dapat dimulai dengan pembentukan koalisi partai, yang harus mendapat legitimasi undang-undang, baik UU Parpol maupun UU Pemilu.

“Partai-partai Islam bisa saja tampil dengan satu Partai Koalisi dalam Pemilu, katakanlah misalnya diberi nama Partai Koalisi Islam yang terdiri atas beberapa partai Islam peserta Pemilu. Tanda gambar Peserta Pemilunya terdiri atas beberapa partai Islam yang bergabung dalam koalisi itu,” ungkapnya.

“Mengenai daftar calon, partai-partai Islam yang bergabung ke dalam koalisi itu dapat menegosiasikan calon-calon yang akan tampil di daerah pemilihan tertentu. Karena kita menggunakan sistem suara terbanyak, maka nomor urut nampaknya tidak lagi memainkan peran penting dan menentukan,” tandasnya.