Winter Is Coming, Ketakutan yang Melebihi Kontestasi Pilpres

Winter Is Coming, Ketakutan yang Melebihi Kontestasi Pilpres

SENANDUNG, dawainusa.com Ketika sedang menanti penuh tanya tentang kapan film serial Game of Throne season 8 dirilis, Presiden Jokowi menggebrak dunia melalui ungkapan winter is coming dalam pidatonya pada Annual Meeting IMF-WB Bali tanggal 12 Oktober 2018.

Ungkapan winter is coming yang terinspirasi dari Novel Game of Throne karya George R.R. Martin yang difilmkan tersebut lantas mendapat pujian dari berbagai tokoh nasional dan internasional. Bagi para penggemar Film serial Game of Throne tentunya ungkapan winter is coming bukanlah suatu hal yang asing.

Baca juga: Komodo itu Legenda, Investasi itu Biasa

Ungkapan tersebut merujuk pada ekspansi pasukan white walkers yang dipimpin oleh dark knight. Dalam ekspansinya, white walkers pada akhir season 7 berhasil membobol tembok es dan sedang bergerak untuk menyerang dunia Seven Kingdom yang berada dalam lindungan tembok es tersebut.

Perang Dagang sebagai Serbuan White Walkers

Semenjak Amerika Serikat dan China mempraktikkan perang dagang yang dinilai oleh para pakar ekonomi global sebagai perang dagang terbesar sepanjang sejarah, pertumbuhan ekonomi kedua negara tersebut kian melambat bahkan semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

Donald Trump yang menaikan bea masuk senilai US$200 miliar untuk sekitar 6.000 jenis barang import dari China, dijawab oleh China dengan memberlakukan 5 persen bea masuk tambahan pada produk AS seperti pesawat kecil, komputer dan tekstil, juga tambahan 10 persen bagi produk kimia, daging, gandum dan anggur.

Perang dagang ini dinilai bisa mengakibatkan pelemahan ekonomi dunia. Tidak hanya negara-negara maju, hal ini juga berimbas pada kondisi ekonomi negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang menjadi mitra dagang dari kedua negara raksasa ekonomi tersebut.

Baca juga: Hierarki Diantara Politik dan Tugas Utamanya

Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro saat Media Briefing di Plaza Mandiri pada 30 Agustus 2018 menyatakan bahwa setiap perlambatan pertumbuhan ekonomi 1 persen di China, pertumbuhan ekonomi Indonesia pun ikut turun 0,09 persen.

Demikian pun setiap perlambatan pertumbuhan ekonomi 1 persen di Amerika Serikat, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga akan turun 0,07 persen. Untuk situasi sekarang, memang perang dagang ini belum memberikan dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi jika terus berlangsung maka dapat dipastikan bahwa situasi ekonomi Indonesia akan terpuruk.

Presiden Jokowi dalam pidatonya pada AM IMF-WB 2018 melihat fenomena perang dagang sebagai serbuan white walkers kepada lanskap ekonomi dunia dan khususnya Indonesia. Winter is coming merujuk pada sebuah awasan bahwa perang dagang antara kedua negara adidaya tersebut sudah pasti akan memberi dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi global pada umumnya, dan Indonesia khususnya.

Winter is coming merupakan sebuah pernyataan imperatif kategoris kepada semua negara termasuk Indonesia untuk berbenah dan bersatu secara internal untuk menghadapi serbuan dampak negatif dari perang dagang tersebut. Jika kita tidak berimprovisasi untuk mencari mitra dagang yang lain sembari membenah sistem ekonomi dan perdangan kita, maka kita akan ditelan oleh dark knight atau kehancuran ekonomi itu sendiri.

Pilpres 2019 sebagai Game of Throne

Novel Game of Throne karya George R.R. Martin yang kemudian diangkat dalam Film serial Game of Throne memperlihatkan sebuah taktik dan trik politik kelas wahid dari beberapa tokoh kunci yang ingin memperebutkan The Iron Throne.

Siapa pun yang bisa menduduki The Iron Throne akan menguasai seluruh kerajaan dan ketujuh Houses (Kerajaan-kerajaan kecil) yang mengelilinginya. Dalam film itu juga, diperlihatkan bagaimana para tokoh yang memiliki ambisi menghalalkan segala cara untuk menduduki The Iron Throne.

Mulai dari politik adu domba, pencemaran nama baik, negative campaign, black campaign yang mengakibatkan pembunuhan dilakonkan untuk memenangkan preferensi politiknya. Tidak ada kawan abadi dan musuh abadi; semuanya mungkin dalam politik feodalisme tersebut. Satu hal yang pasti; semua lawan politik adalah musuh yang harus dilenyapkan.

Baca juga: Meiliana dan Masa Depan Diskursus Kita

Panasnya gejolak politik menjelang Pilpres 2019 setidaknya memiliki sedikit kemiripan dengan Film serial Game of Throne. Kedua kubu, baik petahana maupun oposisi saling serang melalui dunia maya (facebook, twitter, dan instagram) dan online news. Hoaks-hoaks bertebaran di jagad maya.

Propaganda semakin masif dipraktikkan. Rakyat jadi sulit mengidentifikasi mana yang benar dan mana yang sekedar membenar-benarkan yang tidak benar. Indonesia seolah menjadi panggung sandiwara di mana tokoh-tokoh politik kawakan dari kedua kubu saling serang satu sama lain.

Dunia maya jadi ring pergulatan Munculnya istilah “cebong” dan “kampret” membuat situasi politik yang irasional ini semakin jauh panggang dari api demokrasi yang benar. Tidak hanya itu, acara-acara televisi dan industri media semakin menunjukkan keberpihakan politik.

Framing pemberitaan dibuat untuk menaikkan popularitas dari tokoh-tokoh yang berpotensi menduduki The Iron Throne pada Pilpres 2019. Agenda setting dibuat untuk mengendalikan opini publik hanya demi kepentingan politik semata.

Situs resmi Kementerian Komunikasi dan Informatika pada 14 Oktober 2018 menyebutkan bahwa ada sekitar 800.000-an situs penyebar hoaks yang ada di seluruh Indonesia. Data ini diambil berdasarkan hasil analisa mesin AIS Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Situs-situs hoaks tersebut umumnya menyebarkan berita-berita hoaks dan propaganda politik yang pada akhirnya merujuk pada keberpihakan politik untuk Pilpres 2019. Selain web-web terindikasi hoaks, dunia siber seperti facebook, Twitter, dan Instagram pun tidak luput dari serbuan akun-akun penebar hoaks dan propaganda.

Munculnya buzzer-buzzer politik dan akun-akun robot dari kedua kubu sebagai senjata utama dalam Game of Throne Pilpres 2019 membuat situasi politik dalam negeri jadi kacau. Bukan lagi adu gagasan dan program kerja yang diperhatikan, tetapi adu propaganda dan adu menyebar hoaks.

Semua ini menunjukkan bahwa situasi politik Indonesia menjelang Pilpres 2019 tidak ada bedanya dengan situasi politik feodal Seven Kingdom dalam Film Game of Throne yang mana masing-masing kubu politik menghalalkan segala cara untuk menduduki The Iron Throne.

Winter is Coming?

Benarkah “musim dingin akan tiba” dan menghancurkan semuanya? Ketika seluruh animo dunia Seven Kingdom ditujukan pada perebutan The Iron Throne, secara pelan-pelan pasukan white walkers yang berarak bersama musim dingin datang untuk menghancurkan dunia setelah berhasil membobol tembok es.

Daenerys Targaryen dan John Snow selaku pemeran urama dalam serial tersebut berusaha memperingatkan orang-orang yang berada dalam Seven Kingdom bahwa bahaya yang lebih besar sedang dalam perjalanan menuju kemari. Hentikan perebutan takhta, mari bersatu untuk melawan “Sang Dingin”.

Pasca Pilpres 2014, situasi bangsa Indonesia terbelah menjadi dua berdasarkan preferensi politik. Kakak dan adik tidak saling tegur hanya karena berbeda haluan politik kendati pertarungan sudah usai. Teman dekat tidak saling menyapa karena tokoh junjungannya kalah saing.

Tanpa disadari fenomena ini kembali terulang menjelang Pilpres 2019 dan mungkin akan tetap seperti ini pasca Pilpres 2019. Pada fase sekarang ini, ketegangan iklim politik antara kedua kubu kemudian membuat para loyalis dan “prajurit pendukung” yang seolah mati suri pasca Pilpres 2014 kembali bangkit dan beresistensi. Perang siber antara anak-anak bangsa kembali terjadi. Semua memiliki tujuan yang sama yaitu Iron Throne RI 1.

Ketika animo masyarakat Indonesia ditujujikan pada Pilpres 2019, tanpa disadari kemelut yang lebih besar sedang mengancam. Perang dagang internasional sedang dalam perjalanan untuk menyerang pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tidak ada yang peduli.

Semua berjalan pada arah politiknya masing-masing dan tetap berfokus pada Game of Throne Pilpres 2019. Pada saat-saat yang krusial ini, Jokowi dalam pidatonya mengajak masyarakat Indonesia untuk bersatu karena winter is coming.

Janganlah anak-anak bangsa Indonesia saling serang dan saling menjatuhkan. Bangsa Indonesia harus bersatu untuk menghadapi gejolak ekonomi global sembari mencari jalan keluar yang tepat bagi kebaikan pertumbuhan ekonomi Indonesia kendati berbeda preferensi politik.

Pernyataan ini juga secara tidak langsung menyatakan bahwa jika bangsa Indonesia ingin besar di mata dunia dan tetap bertahan dalam efek perang dagang internasional, jangan ada lagi produktivitas hoaks dan propaganda separatis menjelang Pilpres 2019 maupun perang-perang internal lainnya yang berpotensi membelah kesatuan Negara Republik Indonesia.

Pilpres 2019 adalah pesta seluruh rakyat Indonesia. Jangan kita kotori pesta tersebut dengan isu-isu negatif dan kampanye-kampanye hitam yang memecah-belah. Ada hal lain lagi yang lebih mengancam eksistensi bangsa Indonesia daripada sekedar berebut The Iron Throne. Jika Indonesia belum mampu melekatkan keretakan pasca Pilpres 2014 hingga saat ini, Indonesia akan tetap lemah dan semakin lemah di mata dunia.

Untuk menghadapi “Musim dingin yang datang”, Indonesia perlu melakuka tiga hal: Pertama, Segenap bangsa Indonesia dan seluruh “tumpah darah” Indonesia perlu bersatu untuk membangun kekuatan bersama.

Jika selama ini anak-anak bangsa terbelah menjadi dua bagian, kini saatnya segenap rakyat Indonesia bersatu untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih baik untuk Indonesia yang paripurna. Kalah menang dalam konstelasi politik adalah hal yang biasa. Pilpres 2019 jangan sampai menjadi game of throne yang memecah-belah kesatuan NKRI.

Kedua, membenah tata ekonomi internal. Salah satu cara membenah tata ekonomi internal adalah dengan menerapkan sistem ekonomi syariah sebagaimana dijargonkan sebagai salah satu komitmen Indonesia pada AM IMF-WB 2018 di Bali. Ekonomi syariah atau sistem ekonomi koperasi berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara sejahtera (Welfare State).

Berbeda dari sistem kapitalisme, sistem ekonomi syariah menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan. Sifat dari ekonomi syariah antara lain: kesatuan (unity), keseimbangan (equilibrium), kebebasan (free will), tanggung jawab (responsibility).

Jika sistem ekonomi neoliberal menjamin kebebasan perusahaan maupun perseorang dalam mengumpulkan aset kekayaan, dalam sistem ekonomi syariah hal yang diutamakan bukan hanya kebebasan tetapi juga kesatuan bangsa dan negara, keseimbangan antara yang kaya dan miskin, dan tanggung jawab terhadap sesama dalam satu kesatuan sistem (negara).

Hanya dengan mempertahankan kesatuan berbangsa dan membangun ekonomi koperasi, bangsa Indonesia akan bertahan dari gempuran perang dagang Internasional.

Ketiga, Mencari mitra dagang lain. Tak dimungkiri bahwa Amerika Serikat dan China adalah dua mitra dagang terbesar bagi Indonesia dan bagi banyak negara-negara dunia. Namun hal tersebut bukan berarti bahwa Indonesia tidak bisa mencari alternatif lain berupa mitra dagang dari negara-negara lain dengan biaya ekspor dan impor yang layak.

Berkaca pada China yang sedang mencari mitra dagang lain selain AS, Indonesia juga agaknya perlu membuka sayap-sayap perdagangan lebih luas ke negara-negara berkembang dan negara-negara maju lainnya agar efek perang dagang antara kedua negara tersebut bisa sedikit berkurang. Hanya melalui cara ini, efek negatif dari winter (perang dagang) yang akan segera datang akan dapat teratasi.

Oleh karena itu, sudah saatnya Indonesia merajut kembali persatuan dan kesatuan bangsa guna menghadapi serbuan “musim dingin” yang mengancam dari luar. Indonesia adalah bangsa yang kuat jika bersatu. Pilpres 2019 adalah pesta demokrasi bangsa yang harus dirayakan dengan sukacita dan persaudaraan.

Siapapun yang menang adalah pemimpin kita, dan siapapun yang kalah harus legowo, karena ada ancaman yang lebih besar dari sekedar game of throne Pilpres 2019. Hati-hati: Winter is coming!*

Oleh: Eiil Kadju* (Mahasiswa Pascasarjana Universitas Mercubana Jakarta)