Warga Pertanyakan Pengerjaan Air Minum dari PAMSIMAS di Desa Bere

Warga Pertanyakan Pengerjaan Air Minum dari PAMSIMAS di Desa Bere

FOKUS, dawainusa.com – Pengerjaan air minum bersih dengan sumber dana dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) di wilayah Desa Bere, Cibal Barat, Manggarai, NTT menyisahkan sejumlah pertanyaan dari masyarakat setempat.

“Kenapa program penyediaan air minum bersih dari PAMSIMAS ini dikerjakan di atas jaringan air yang sudah ada, yakni jaringan air yang dibangun melalui PPIP (Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan tahun 2014/2015 dengan total dana Rp250 juta)? Kenapa tidak dibuka jaringan baru saja?,” kata salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya.

Warga tersebut menyebutkan bahwa pengerjaan program PAMSIMAS dengan total anggaran sebesar Rp150 juta di atas jaringan air yang dibangun melalui PPIP di Desa Bere ini sama sekali tidak masuk akal. Ia mengatakan demikian karena jaringan air yang dibangun lewat dana PPIP tersebut sejauh ini masih sangat baik.

Baca juga: Diduga Korupsi, Kades Bere Tolak Diwawancara, Ada Apa?

“Pipa-pipa PPIP yang sudah dicabut oleh pekerja program PAMSIMAS ini masih sangat baik. Sebelum mereka mencabut semua pipa tersebut, airnya juga masih mengalir lancar. Jadi, sangat tidak benar kalau pipa-pipa PPIP itu dicabut dan diganti dengan pipa baru dari PAMSIMAS ini,” jelas warga tersebut.

Sumber tersebut juga lebih jauh mengkritisi program PAMSIMAS itu sendiri. Ia menyebutkan bahwa, jika diperhatikan dan dicermati, program PAMSIMAS ini sebenarnya dimaksudkan untuk membuka jaringan air minum yang baru.

“Kalau kita cermati, PAMSIMAS ini sebenarnya harus dilaksanakan di wilayah yang baru, yakni wilayah yang air minumnya belum tersedia. Tetapi, kenapa PAMSIMAS ini justru tumpang tindih dan bahkan merusak jaringan air yang dibangun melalui PPIP?” kata dia.

Dengan hal ini, warga tersebut mencurigai bahwa sepertinya ada penyalahgunaan anggaran dalam pelaksanaan program PAMSIMAS tersebut. Ia mengatakan, dana yang seharusnya dipakai untuk penyediaan jaringan air minum baru, nyatanya hanya dipakai untuk merehabilitasi jaringan lama dari PPIP.

Lebih ajaib lagi, demikian warga tersebut menjelaskan, jaringan air minum bersih dari PPIP itu masih sangat baik, pipa-pipanya masih dalam keadaan utuh. Tetapi, pekerja program PAMSIMAS dengan sengaja mencabut semua pipa itu dan menggantikannya dengan pipa-pipa baru.

“Saya juga pertanyakan, kemana pipa-pipa dari PPIP yang sudah mereka cabut itu? Pipa-pipa tersebut masih baik, jangan-jangan mereka jual itu pipa-pipa,” tutur warga tersebut.

Ada Kampung yang Tak Tersedia Air Minum Bersih

Lebih lanjut, warga tersebut juga mengatakan bahwa seharusnya dana penyediaan air minum dari program PAMSIMAS tersebut tidak boleh dipakai untuk rehabilitasi atau pemeliharaan jaringan air yang dibangun melalui dana PPIP yang ada, yang masih baik itu.

Sebab, merujuk pada berita yang diturunkan oleh dawainusa.com pada (20/12) lalu, masih ada kampung di Desa Bere yang sampai saat ini tidak mendapatkan layanan dan akses terhadap air minum bersih. Kampung yang dimaksudkan itu ialah Kampung Nanga.

Dalam berita tersebut, Warga Kampung Nanga itu sendiri mengungkapkan bahwa sudah bertahun-tahun lamanya mereka sama sekali tidak pernah merasakan atau menikmati air minum bersih.

Baca juga: Masalah Air Minum dan Jawaban Dungu Kepala Desa Bere

Untuk memenuhi segala kebutuhan yang terkait dengan air semisal untuk minum, masak, mandi, dan cuci, mereka secara terpaksa harus menggunakan air kali yang mengalir di Sungai Wae Racang. Jarak antara kampung dengan sungai tersebut sekitar 200 meter.

Seharusnya, dengan melihat adanya fakta ini seperti ini, demikian warga tersebut menjelaskan, dana PAMSIMAS ini dipakai untuk menjawab masalah air minum yang ada di Kampung Nanga, bukan justru dipakai untuk pemeliharaan jaringan air yang masih sangat baik itu.

Anak-anak Kampung Nanga usai menimbah air di Sungai Wae Racang 3

Anak-anak Kampung Nanga usai menimbah air di Sungai Wae Racang – Foto: Dawainusa.com

Adanya PAMSIMAS Tidak Diketahui Warga

Adanya program PAMSIMAS yang masuk ke wilayah Desa Bere ini juga tidak diketahui oleh warga desa. Sebab, pihak Pemerintah Desa selaku penanggung jawab di wilayah Desa Bere tidak pernah memberikan informasi terkait hal ini kepada masyarakatnya.

Terkait dengan program PAMSIMAS ini, seperti diberitakan dawainusa.com sebelumnya, salah satu sumber yang tidak mau disebutkan namanya menerangkan bahwa PAMSIMAS ini diketahui hadir di Desa Bere pada Mei 2018 lalu. Saat itu, mereka melakukan sosialisasi dengan pemerintah desa, tetapi warga desa sendiri tidak mengetahuinya.

“Pada saat sosialisasi, tim dari kabupaten – sebagai fasilitator program PAMSIMAS ini – meminta kepada Pemerintah Desa untuk melakukan identifikasi masalah yang ada di Desa Bere. Saat itu, aparat desa mengungkapkan kepada tim tersebut bahwa masalah utama yang terjadi di Desa Bere ialah air minum bersih,” ungkap sumber tersebut.

Baca juga: Warga Minum Air Kali, Kades Bere: Tak Pernah Ada Usulan Pembangunan Air Bersih

Bahkan, pada saat sosialisasi ini, sumber itu mengatakan bahwa dirinya pernah menyuarakan, “Kalau bisa program PAMSIMAS ini dipakai untuk pengadaan air minum bersih di Kampung Nanga. Sebab, Kampung Nanga merupakan satu-satunya kampung yang ada di desa tersebut yang tidak tersentuh oleh air minum bersih.”

“Namun, pada saat sosialisasi program tersebut, tidak ada kejelasan apakah Pemerintah Desa Bere akan menindaklanjuti hal tersebut. Tiba-tiba, pada bulan November lalu, ada beberapa pipa yang didatangkan ke Desa Bere dan diturunkan tepat di depan rumah pribadi Kepala Desa Bere yang terletak di Kampung Akel,” jelas dia.

Pipa-pipa tersebut yang kemudian diketahui dipakai untuk menggantikan seluruh pipa lama yang diadakan melalui dana PPIP tahun anggaran 2014/2015 tadi.

Pipa PAMSIMAS di depan rumah pribadi Kade Bere, Ignasius Beon

Sejumlah pipa PAMSIMAS di depan rumah pribadi Kade Bere, Ignasius Beon

Tidak Ada Musyawarah di Desa

Terkait dengan pengerjaan air minum bersih dari PAMSIMAS yang dibuat di atas jaringan air yang dibangun lewat PPIP itu, sumber tersebut juga mengaku bahwa hal itu hanya diketahui oleh Kepala Desa (Ignasius Beon) sendiri.

Ia mengatakan demikian karena selain pipa-pipa PAMSIMAS itu turun tepat di depan rumah pribadi Kepala Desa, pengerjaan jaringan air itu juga tidak pernah disinggung apalagi dibicarakan di dalam rapat atau musyawarah desa oleh Kepala Desa Bere selaku pemilik wilayah.

Kemudian, pada awal pengerjaan, papan tender yang berisi informasi terkait program PAMSIMAS ini juga tidak ada di lokasi. Setelah dawainusa.com menurunkan berita terkait PAMSIMAS ini, baru papan tender itu terlihat di lokasi.

Baca juga: Keluhan Warga Kampung Nanga Soal Air Minum Bersih

Selain itu, sumber tersebut juga melaporkan bahwa anggota-anggota pelaksana atau pekerja program PAMSIMAS ini tidak ditetapkan melalui musyawarah desa. Ia mengatakan, semua anggota yang mengerjakan program itu ditetapkan secara sepihak oleh Kades Bere, Ignasius Beon.

Kepala Desa Bere, Ignasius Beon

Kepala Desa Bere, Ignasius Beon – Foto: Facebook Ignasius Beon

Padahal, demikian dia, berdasarkan ketentuan Undang-undang, semuanya harus melalui musyawarah desa. Apalagi, jelas dia, ada badan khusus di desa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk persoalan air ini.

“Ada divisi yang mengurus segala hal terkait air. Orang-orang di dalamnya ditentukan secara resmi melalui musyawarah desa. Mereka bahkan mendapatkan gaji setiap bulan dari Dana Desa. Tetapi, saat pengerjaan air ini, mereka ini tidak dipakai. Ada apa?” kata sumber tersebut.*

COMMENTS