Dawainusa.com – Wanita bertubuh montok atau gemuk, padat, berisi seringkali merasa minder. Berbagai cara dicoba agar berat badannya menjadi langsing, mulai dari memakai obat-obatan, diet, hingga membayar instruktur senam pribadi.

Meski kadang merepotkan, sebuah riset menunjukkan, wanita bertubuh montok ternyata mampu melahirkan anak-anak yang cerdas.

Hal itu diungkapkan hasil analisa atas 16 ribu wanita dan remaja putri dalam penelitian Universitas Pittsburgh dan Universitas California, Amerika Serikat.

Baca jugaSering Duduk Terlalu Lama? Waspadai 5 Hal Ini

Antara Bertubuh Montok dan Kecerdasan Anak

Disebutkan, wanita dan remaja putri yang berbadan montok, pinggul berisi, dan pinggang ramping ternyata mampu menyelesaikan tes psikologi dan kognitif lebih baik ketimbang wanita yang berbadan kurus. Hasil serupa ditemukan pada anak-anak yang lahir dari wanita berpinggul padat.

Lebih mengejutkan lagi, penelitian ini menyatakan bahwa semakin besar perbedaan lekuk antara pinggang dan pinggul, maka semakin baik pula kecerdasan anak mereka.

Profesor Will Lassek, public health epidemiologist di Pittsburgh University, Pennsylvania, Amerika Serikat, yang melakukan penelitian ini mengatakan, “Lemak pada area bokong adalah ‘gudang’ untuk membangun otak pada bayi.”

Menurutnya, hal ini terjadi karena lemak pada bokong kaya akan docosahexaenoic acid (DHA), di mana DHA sangat penting untuk membangun komponen untuk otak manusia.

Antara Bertubuh Montok dan Kecerdasan Anak
Foto: Pixabay/SplitShire

Baca juga5 Hal yang Diam-diam Dibutuhkan Pria dari Pasangannya

Hal ini tentunya menjawab pertanyaan banyak perempuan dan ilmuwan, mengapa perempuan memiliki lemak tubuh yang cukup banyak, yakni sekitar 30 persen dari total berat tubuhnya.

“Tampaknya perempuan telah berevolusi untuk menimbun lemak pada bokong sampai mereka mengandung bayi,” tambah Profesor Lassek.

Meski hasilnya cukup mengejutkan, namun para ahli tidak berharap banyak hasil analisa tersebut disetujui publik. Karena bagaimanapun, kecerdasan tiap anak juga ditentukan oleh kelas sosial, kondisi ekonomi, psikologis, serta peran ibu sebagai orang tua.

Namun, tentu saja hasil analisa ini bisa menjadi semangat baru bagi wabita bertubuh montok, untuk bangga dengan apa yang dimilikinya, dan tidak menyiksa diri agar memiliki tubuh yang kurus.*