Wadah Pegawai KPK Minta Kasus Novel Segera Diungkap

Wadah Pegawai KPK Minta Kasus Novel Segera Diungkap

JAKARTA, dawainusa.com – Wadah Pegawai KPK meminta kepada pihak kepolisian untuk segera mengungkap pelaku dibalik teror yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan.

Pasalnya, pelaku dan aktor intelektual penyerangan terhadap Novel belum berhasil diungkap oleh pihak kepolisian. Hal ini disampaikan oleh Ketua WP KPK Yudi Purnomo memperingati 500 hari teror terhadap Novel Baswedan.

Baca jugaDPR Minta Pemerintah Evaluasi Pengiriman TKI ke Arab Saudi

Yadi mengaitkan kasus penyerangan Novel Baswedan sama seperti tewasnya penggiat HAM Munir Said Thalib, pada 2004 lalu. Kejadian seperti ini memberi gambaran bahwa ada upaya sistematis dari orang-orang yang tidak suka dengan penegakan hukum dan keadilan. Terbukti bahwa Novel Baswedan diserang karena keberaniannya mengungkap kasus-kasus di KPK

“7 September 2004, Munir Said Thalib dibunuh dalam perjalanan menuju Amsterdam untuk melanjutkan pendidikan. Pejuang Hak Asasi Manusia yang mengawal para korban mendapatkan keadilan pasca reformasi berpulang. Kematiannya membawa berbagai prasangka bahwa Munir dihabisi karena ketidaksukaan oknum-oknum mengenai keadilan yang diperjuangkannya,” kata Yadi di Jakarta, Kamis,(1/11).

“13 Tahun kemudian, pada tanggal 11 April 2017, penyerangan kembali terjadi kepada salah seorang yang berupaya menegakan keadilan, yaitu Novel Baswedan,” lanjutnya.

Upaya mengungkap pelaku teror terhadap Novel Baswedan memiliki banyak manfaat. Selain sebagai upaya menegakkan hukum dan keadilan, juga untuk menemukan siapa pelaku dan orang yang paling berkepentingan dalam melakukan penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Ancaman Teror Kepada Pegawai KPK

Yudi kemudian menjelaskan bahwa kerja pemberantasan korupsi selalu dalam tekanan. Tekanan tersebut datang dari mereka yang berada dalam pantaun KPK terutama karena kejahatan korupsi. Namun, penyidik KPK tetap bekerja sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku dan berusaha mengabaikan tekanan yang dihadapi.

Kejadian yang menimpa Novel, kata Yadi, seringkali dialami oleh pegawai KPK dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. Ancaman tersebut datang dalam bentuk bentuk teror dan upaya pembuhunan. Upaya seperti ini seringkali membuat kerja pemberantasan korupsi terhambat karena berada di bawah bayang-bayang ketakutan.

Baca jugaKisah Laura, Mantan Pramugari Lion Air yang Selamat dari Kecelakan

“Bukan hanya Novel Baswedan, KPK mencatat setidaknya ada 10 kali teror yang diarahkan kepada pegawai KPK dalam menjalankan tugasnya. Teror dan intimidasi tersebut antara lain kriminalisasi terhadap pegawai KPK, penyerbuan dan teror terhadap fasilitas KPK, ancaman bom ke rumah penyidik KPK, penyiraman air keras ke rumah dan mobil milik penyidik KPK, ancaman pembunuhan terhadap pejabat dan pegawai KPK, perampasan perlengkapan penyidik KPK, penangkapan dan penculikan terhadap pegawai KPK yang sedang bertugas, percobaan pembunuhan terhadap penyidik KPK,” jelas Yadi

Yadi juga mengakui bahwa ancaman dan teror seperti yang disebutkan di atas merupakan bentuk tantangan tersendiri dalam kerja pemberantasan korupsi di Indonesia. Hal ini muncul karena banyak pihak yang menginginkan KPK tidak bekerja secara maksimal.

Harapan Kepada Jokowi Terkait Kasus Novel

Hingga saat ini, kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan genap 500 hari. Yadi Berharap, Presiden Jokowi memberikan perhatian penuh tehadap kasus ini. Terutama dalam upaya untuk mengungkap pelaku teror yang menimpa penyidik KPK Nove Baswedan.

“Melalui peringatan 500 hari penyerangan terhadap Novel Baswedan, kami berharap Presiden memberikan perhatian penuh terhadap pengusutan kasus penyerangan kepada penggiat keadilan di Indonesia dan memastikan pengusutan kasus dilaksanakan dengan tepat dan tuntas,” ujarnya.

Baca jugaTragedi Lion Air, Hotman Paris Minta Pengacara Amerika Datang ke Indonesia

Hal yang sama disampaikan oleh Novel Baswedan yang menjadi korban penyiraman air keras. Ia berharap, Jokowi menjadi motor penggerak dalam penegakan hukum di Indonesia. Harapan ini disampaikan karena mengingatkan kasus ini sudah berjalan begitu lama dan pelakunya belum terungkap

“Beliau ini (Jokowi) adalah presiden kita. Ada waktu beberapa bulan ke depan sampai Pilpres, semoga Pak Presiden bisa menunjukkan sikap beliau,” ujar Novel.

Novel menaruh harapan besar kepada presiden dalam mengungkap kasus ini hingga pelaku bisa ditangkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Novel berharap kepada presiden karena pihak kepolisian gagal mengungkap pelaku penyiraman air keras kepada dirinya.

“Saya cuma bilang penyerangan kepada orang-orang di KPK itu diungkap deh, enggak usah perkara saya. Itu banyak kok kejadian (ancaman ke pejabat KPK),”tutupnya.*

COMMENTS