Virus ASF dan Matinya Usaha Para Peternak Babi di Kupang

Dampak virus ASF, Ribuan Ekor Ternak Babi di Kabupaten Kupang Mati
Wakil Bupati Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jerry Manafe - ist

KUPANG, dawainusa.com Virus African Swine Feve (ASF) menyerang Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ribuan ekor ternak babi mati akibat demam babi Afrika itu.

Wakil Bupati Kupang, Jerry Manafe  menyebutkan 1.753 ekor babi milik para peternak di daerah setempat mati akibat terserang virus African Swine Fever (ASF).

“Berdasarkan data pada Dinas Peternakan Kabupaten Kupang sudah sekitar 1.753 ekor babi milik peternak yang mati akibat terserang virus ASF atau flu babi. Serangan penyakit ASF ini mulai terjadi pada Februari 2020 lalu,” kata Jerry Manafe dikutip Antara di Oelemasi, Senin, (9/3).

Baca juga: Merinding, Ini Status FB Terakhir Siswi SMP yang Habisi Bocah 5 Tahun

Ia mengatakan, serangan penyakit ASF telah berdampak pada matinya usaha para peternak babi di Kabupaten Kupang.

Pemerintah Kabupaten Kupang kata dia, terus melakukan upaya menangkal penyebaran virus African Swine Fever (ASF) dengan memberikan vaksin kepada semua ternak babi milik warga yang belum terpapar dengan virus African Swine Fever (ASF).

“Para dokter hewan maupun para penyuluh pada Dinas Peternakan Kabupaten Kupang selalu turun ke kecamatan-kecamatan untuk memberikan vaksin dan penyuluhan terhadap para peternak babi tentang pencegahan virus ASF ,” tegas Jerry Manafe.

Peternak Babi di Kupang Harus Jaga Kebersihan Kandang

Ia berharap para peternak babi di Kupang yang berbatasan dengan wilayah Oecusse, Timor Leste itu untuk selalu menjaga kebersihan kandang babi sehingga tidak mudah bagi virus ASF berkembang.

“Kami menghimbau agar babi yang mati akibat virus ASF segera dikubur karena jika dibuang sembarangan dapat menimbulkan virus baru,” tegasnya.

Dia mengatakan, pemerintah Kabupaten Kupang belum bisa memberikan kompensasi kepada para peternak yang tertimpa musibah virus ASF.

“Kami belum bisa memberikan kompensasi karena penetapan anggaran sudah selesai dilakukan,” tegas Jerry Manafe.

Ilustrasi
Ilustrasi – ist

Tutup Wilayah Lalu Lintas Ternak Babi

Sebelumnya, pada Februari lalu, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menutup wilayah atau tidak mengizinkan lalu lintas ternak babi atau produk asal ternak babi, baik masuk maupun keluar NTT menyusul ASF terhadap babi di Pulau Timor.

“Pemprov NTT juga memproteksi pulau-pulau yang masih bebas virus ASF dengan memperketat pengawasan,” kata Asisten II Setda Nusa Tenggara Timur Semuel Rebo kepada Antara di Kupang, Selasa (25/2).

Baca juga: Kunjungi Kupang, Menkes Puji Penangan DSS di RSUD Johannes

“Hasil pemeriksaan laboratorium sudah terkonfirmasi positif ASF di Kabupaten Belu. Langkah yang diambil pemerintah ialah melakukan penutupan wilayah atau tidak mengizinkan lalu lintas ternak babi ataupun produk asal ternak babi, baik masuk maupun keluar,” katanya.

Langkah lain adalah melakukan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) secara meluas kepada semua lapisan masyarakat, pendataan peternak babi dan penanganan biosecurity.

Dia menambahkan, Pemerintah Provinsi NTT sedang membangun kordinasi dengan pihak Kementerian Pertanian untuk mendapatkan dukungan penanganan ASF.

Semuel Rebo juga menegaskan, tidak menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi daging babi yang sakit atau mati karena terserang virus ASF, walaupun menurut para ahli daging babi aman untuk dikonsumsi.

“Kalau soal bisa dikonsumsi atau tidak, menurut ahli, daging ternak babi yang terkena virus bisa dikonsumsi, tetapi kami tidak menyarankan masyarakat untuk mengonsumsinya,” kata Semuel Rebo.*

Artikulli paraprakMerinding, Ini Status FB Terakhir Siswi SMP yang Habisi Bocah 5 Tahun
Artikulli tjetërAurel Hermansyah Ungkap Alasan Tak Mau Serumah dengan KD