Viktor Laiskodat, Gubernur yang Suka Ucapkan Hal Kontroversial
Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat - Foto: Tempo

KUPANG, dawainusa.com – Sejak dipilih dan dilantik menjadi Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 5 September 2018 lalu, Viktor Laiskodat kerap mengucapkan hal-hal kontroversial di hadapan publik.

Bahkan, sebelum menjadi pemimpin di provinsi berbasis kepulauan itu, Viktor Laiskodat sempat dilaporkan ke pihak kepolisian terkait dengan sebuah pidatonya yang diduga menuding sejumlah partai politik di Indonesia sebagai pendukung berdirinya khilafah.

Adapun pidato itu disampaikan Laiskodat saat dirinya menghadiri acara deklarasi dukungan paket calon Pilkada serentak 2018 di Tarus, Kabupaten Kupang, NTT pada Selasa (1/8/2017) lalu.

Baca juga: Viktor Laiskodat Disebut sebagai Gubernur yang Hanya Bisa ‘Omong’

“Mau bikin satu negara, dong mau di negara NKRI, dong mau khilafah. Ada sebagian kelompok ini yang mau bikin negara khilafah. Celakanya partai pendukung ada di NTT. Yang dukung khilafah ini ada di NTT itu nomor satu Partai Gerindra, nomor dua itu namanya Demokrat, partai nomor tiga itu PKS, nomor empat itu PAN. Situasi nasional ini partai mendukung kaum intoleran,” kata Laiskodat.

Meski saat itu dilaporkan oleh pihak Gerindra, PAN dan PKS, akan tetapi, kasus ini kemudian dihentikan oleh pihak kepolisian.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Herry Rudolf Nahak waktu itu mengatakan, penghentian kasus ini dilakukan dengan alasan terkait hak imunitas yang masih melekat di dalam diri terlapor.

“Itu kita dapat informasi bahwa dia laksanakan pada saat reses dan melaksanakan tugas ada surat tugas. Sehingga berlaku hak imunitas diatur UU MD3. Itu berarti hak imunitas anggota DPR,” tutur Nahak.

Gubernur NTT Viktor Laiskodat bersama Wakil Josep Nae Soi
Gubernur NTT Viktor Laiskodat bersama Wakil Josep Nae Soi – Foto: Tagar.id

Sejumlah Pernyataan Kontroversial Viktor Laiskodat 

Tidak berhenti di situ, setelah dilantik menjadi Gubernur NTT, Viktor Laiskodat bahkan terus melahirkan sejumlah ujaran kontroversial.

Beberapa bulan lalu misalnya, yakni pada Rabu (27/11), Viktor Laiskodat melontarkan ucapan yang menimbulkan polemik bagi publik, yakni soal pekerja migran asal NTT.

Saat itu, politisi dari Partai Nasdem ini mengecam seluruh buruh migran yang bekerja secara ilegal di luar negeri. Terhadap para migran tersebut, Laiskodat mengatakan demikian.

“Yang ilegal kalau dia meninggal di sana ya sudah kita siap kubur saja, mau apalagi? Itu yang ilegal kita tidak tahu darimana,” ujar Laiskodat di Bolok, Kabupaten Kupang.

Viktor Laiskodat, yang saat itu menghadiri acara peluncuran Kampung Cendana mengatakan, untuk ke depannya, pengiriman pekerja migran ke luar negeri akan didata dengan baik oleh dinas terkait.

Hal itu dilakukan aga segala aktivitas dan keberadaan para migran tersebut dapat dipantau dan diketahui, secara khusus oleh pemerintah NTT.

Baca juga: Sejumlah Sapi di NTT Tewas Tersambar Petir

“Tapi sekarang kita tidak tahu, kita tunggu saja yang makmur syukur Alhamdulillah, kalau yang meninggal ya kubur, mau apalagi. Tidak ada upaya lain, polisi Malaysia saja susah dapat mereka karena ilegal, orang datang mereka kabur,” kata Laiskodat.

Meski mengandung ikhtiar baik, pernyataan Laiskodat itu ternyata mendapat kecaman dari beberapa pihak seperti Perhimpunan Mahasiswa Katolik RI (PMKRI) Cabang Kupang.

Mereka menilai, ucapan Laiskodat itu sangat tidak berperikemanusiaan dan tidak mengandung rasa empati sama sekali.

“Kami mengecam keras dan sangat menyayangkan pernyataan: ‘TKI ilegal itu sukses yah syukur, kalau meninggal yah dikubur’ bisa keluar dari seorang gubernur NTT,” kata Presidium Gerakan Kemasyarakatan (Germas) PMKRI Kupang, Alexius Easton Ance.

“Bagaimana mungkin di tengah duka yang dialami para keluarga korban perdagangan orang NTT yang jumlah kasusnya tinggi, lantas mengeluarkan pernyataan yang begitu menyayat hati,” lanjut dia.

Tidak hanya terkait pekerja migran, pada Rabu (27/11) lalu, Viktor Laiskodat juga mengeluarkan pernyataan yang cukup menghebohkan publik, yakni terkait pelaku pembalakan liar atau illegal loging di area hutan lindung di NTT.

Saat itu, Laiskodat menyatakan akan memotong tangan setiap pelaku jika tetap melakukan aksi ilegal loging. “Saya minta aparat tindak tegas, kalau gubernurnya yang dapat, pasti potong tangannya,” tutur Laiskodat.*