Jawaban Gubernur Ketika Ditanya Soal Penerapan PSBB di NTT
Gubernur NTT, Viktor Laiskodat - Foto: Bisnis Tempo

KUPANG, dawainusa.com – Kinerja Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Viktor Laiskodat belakangan ini mendapat sorotan dan kritikan tajam dari berbagai kalangan.

Pasalnya, setelah setahun lebih memimpin daerah berbasis kepulauan itu, terhitung sejak dilantik pada 5 September 2018 lalu, banyak pihak belum melihat adanya perubahan yang cukup signifikan di daerah tersebut.

Salah satu pihak yang mengungkapkan hal itu misalnya ialah Pengamat Politik dari Universitas Nusa Cendana, Lasarus Jehamat. Dilansir dari ANTARA, Jehamat menilai bahwa selama dipimpin oleh Laiskodat, daerah NTT tidak mengalami perubahan dan kemajuan yang berarti.

“Belum terlihat ada perubahan yang signifikan terhadap pembangunan NTT dalam satu tahun kepemimpinan gubernur dan wakil gubernur NTT,” ujar Jehamat di Kupang, Selasa (3/12).

Menurut Jehamat, sampai saat ini, Laiskodat belum mampu melakukan dan atau memberikan suatu aksiĀ  yang bisa memberikan daya dalam rangka peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran warga NTT.

Berbagai rencana kerja yang pernah ia katakan, seperti rencana pinjaman dana senilai Rp1 Triliun dari pihak pemerintah China dinilai hanya sebatas narasi.

Dampaknya, berbagai segi pembangunan di daerah NTT sama sekali tidak berjalan dengan maksimal. “Pelaksanaan pembangunan daerah ini menjadi tidak optimal,” ujar Jehamat.

Selain itu, Jehamat sendiri mengungkapkan bahwa baru-baru ini, Viktor Laiskodat juga mewacanakan akan melakukan pinjaman uang di Bank NTT senilai Rp900 Miliar. Pinjaman itu diketahui akan dipergunakan untuk pembangunan infrastruktur di daerah tersebut.

Namun sampai saat ini, belum ada tindak lanjut dari semua perkataannya itu. Jehamat pun menyimpulkan bahwa Laiskodat merupakan seorang Gubernur yang hanya bisa ‘omong-omong’.

“Kalau seorang pemimpin daerah hanya bisa omong-omong seperti ini, apa yang bisa kita harapkan untuk kemajuan daerah ini ke depan,” tutup Jehamat.

Viktor Laiskodat Gagal

Kritikan terhadap kinerja Gubernur NTT, Viktor Laiskodat tidak hanya datang dari Jehamat. Pengamat Pertanian dari Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, Ir Zet Malelak juga mengungkapkan pikiran yang senada.

Malelak menilai bahwa sejauh ini, politisi dari Partai Nasdem itu sama sekali tidak memberikan kontribusi yang signifikan bagi pembangunan dan perubahan di daerah tersebut.

Bahkan secara tegas ia mengatakan, Laiskodat gagal hadir dan bertindak sebagai pemimpin untuk daerah NTT. Selama ini, demikian Malelak, semua program kerja yang ditawarkan oleh Laiskodat sama sekali tidak berjalan.

“Sudah setahun lebih Viktor Laiskodat pimpin NTT sebagai gubernur. Namun, semua program kerjanya, saya nilai tidak berjalan. Di sini, saya menilai Viktor Laiskodat gagal memimpin NTT,” kata Malelak di Kupang, Selasa (03/12).

Bagi Malelak, Viktor Laiskodat merupakan seorang pemimpin yang hanya pandai menghasilkan wacana dan tidak mampu menjawab dan mengatasi masalah di daerah tersebut.

“Baru kali ini, Nusa Tenggara Timur dipimpin oleh pemimpin yang hanya bisa berwacana saja. Selama setahun lebih memimpin NTT, program-program kerja yang disampaikan kepada masyarakat hanyalah wacana belaka, tidak ada yang rill,” ungkap Malelak.

Malelak sendiri mengatakan demikian dengan mengambil contoh di bidang pertanian. Menurut dia, sejauh ini, pemerintahan Laiskodat sama sekali tidak memiliki satupun kebijakan yang dapat mengatasi apalagi memajukan sektor pertanian di NTT.

“Di sektor pertanian, misalnya, apa yang dilakukan oleh Gubernur Laiskodat. Tidak ada, sebab apa yang disampaikan selama ini hanya wacana saja,” ujar Malelak.

Bagi Malelak, apa yang dilakukan Laiskodat dalam memimpin NTT sangat jauh berbeda dengan pemerintahan sebelumnya, yakni ketika NTT dipimpin oleh Frans Lebu Raya.

Lebu Raya, kata dia, memiliki banyak program yang menyentuh kebutuhan hidup warganya. Hal itu, demikian Malelak, terlihat di dalam beberapa program misalnya Desa Mandiri dan Anggur Merah.

“Walaupun Desa Mandiri Anggur Merah ada kekurangannya, namun hal itu berjalan dan sebagian masyarakat merasakan manfaat dari program tersebut,” tutur Malelak.*