Dawainusa.com — Gubernur Nusa Tenggara Timur Victor Bungtilu Laiskodat (VBL) berambisi besar mengeluarkan NTT dari label provinsi miskin dan bodoh.

Sejak terpilih menjadi Gubernur NTT tahun 2018, kader Partai Nasdem itu terus mengkampanyekan agar NTT bisa keluar dari label-label tersebut.

Menurut VBL, salah satu pembangunan yang dianggap mampu mengeluarkan masyarakat NTT dari kemiskinan dan kebodohan adalah sektor pendidikan.

Dengan dan melalui pendidikan, NTT bisa menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan mampu bersaing pada level yang lebih tinggi.

Secara politik, VBL mengakui bahwa biasanya seorang pemimpin lebih tertarik untuk membangun fisik, karena dampaknya akan langsung dirasakan masyarakat, ketimbang berinvestasi di pembangunan SDM yang manfaatnya setelah puluhan tahun.

“Kita harus membangun sistem pendidikan yang menghasilkan output yang berguna di masyarakat, yaitu manusia berpengetahuan baik dan kritis, berkelakuan baik serta terampil sehingga bisa melakukan pekerjaan secara baik nantinya,” ujarnya, seperti diberitakan Pos Kupang, Selasa (11/8).

Baca JugaAda Tujuh Titik Panas, Warga NTT Diminta Waspada

VBL Rombak Pendidikan NTT

Provinsi NTT memang belum memiliki kualitas pendidikan yang baik. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi NTT meski membaik dari tahun ke tahun tetapi masih bergerak melambat. Pertumbuhannya tidak signifikan.

Karena itu, VBL berniat merombak desain pendidikan di NTT dengan tujuan menghasilkan output yang baik di masa depan.

Nah, salah satu elemen yang penting menurut VBL adalah peningkatan kualitas tenaga pendidik yang disiplin, pintar, berkarakter serta berkualitas baik.

Ia melihat bahwa selama ini sistem pendidikan di NTT lebih fokus untuk menghasilkan output yang baik baru dimulai pada tingkat SMA.

“Kedepannya sistem ini harus dibalik. Dari tingkat TK sampai SMP akan diisi dengan pengetahuan yang baik dari tenaga pengajar yang hebat agar ketika tamat SMP, siswa sudah mampu untuk menentukan pada bidang apa dia harus tekuni,” terangnya.

Di tengah geliat pembangunan teknologi, kata VBL, pendidikan sudah inklusif, di mana semua orang dapat mengakses secara gampang, termasuk ilmu pengetahuan.

VBL pun menuntut agar guru terus meningkatkan pengetahuan supaya mampu menjelaskan secara detail dan rasional setiap pertanyaan yang disampaikan para murid.

“Mendidik siswa atau murid bukan untuk tahu saja (know) tetapi bagaimana mereka memahami atau mengerti (understand) sehingga mampu meningkatkan kualitas dan kompetensi murid didiknya,” katanya.

Baca Juga: Pengendara Motor di Kefamenanu-NTT Tewas dengan Tubuh Terbakar

Ia kembali menegaskan, kunci dari berhasil tidaknya pendidikan berada di tangan seorang pemimpin. Jika pemimpinnya lemah, maka semuanya tidak akan berhasil.

Namun belum diketahui secara pasti yang dimaksudkan VBL dengan pemimpin. Apakah pemimpin politik (Gubernur) atau pemimpin pendidikan, dalam hal ini guru.*