dawainusa.com Gubernur Nusa Tenggara Timur ( NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat meminta para bupati dan wali kota di wilayahnya, agar tidak lagi mengumumkan hasil rapid test ke masyarakat.

Hal itu disampaikannya saat menggelar rapat kerja telekonferensi dengan para bupati dan wali kota se-NTT di ruang Rapat Gubernur Kantor Gubernur Sasando, Kamis (16/4/2020) sore.

Baca juga: Gubernur NTT Larang Bupati dan Walkot Umumkan Hasil Rapid Test

Viktor mengatakan, hasil rapid test yang diumumkan oleh sejumlah bupati, telah menciptakan ketakutan baru di tengah masyarakat.

Viktor bahkan tak segan menyebut ‘pemimpin bodoh’ bagi bupati yang mengumumkan hasil rapid test.

“Pemimpinnya bikin takut dengan mengumumkan hasil positif itu pemimpin bodoh. Jadi pemimpin harus menjaga suasana masyarakatnya agar jangan takut secara berlebihan,” kata Viktor.

Ia kemudian secara blak-blakan menyebut Bupati Lembata dan Bupati Rote Ndao, yang telah mengumumkan hasil rapid test ke publik.

“Kalau hanya rapid test, terus bapak ibu sampaikan ini positif. Positif dari mana, dari kepalamu. itukan rapid test. Kamu harus menjaga karena publik lagi dalam ketakutan. Itu ke Lembata sedikit-sedikit kalian itu, Rote Ndao umumkan ini positif-positif, kepala mu yang positif,” tegas Viktor.

Bupati Dilarang Umumkan Hasil Rapid Test

Karena itu, Viktor meminta para bupati dan wali kota di wilayahnya, agar tidak lagi mengumumkan hasil rapid test ke masyarakat.

“Selain masalah Covid-19, DBD dan kemiskinan, ada juga masalah yang serius yakni ketakutan psikologi publik. Hari ini publik dalam ketakutan yang luar biasa karena itu saya minta kepada para bupati dan wali kota di NTT agar juru bicaranya hanya satu saja,” kata Viktor.

Baca juga: Susahnya Melacak Sopir Asal NTT yang Bawa 7 Penumpang Corona

Viktor punya alasan, mengapa rapid test tak perlu diumumkan. Menurutnya, masih ada proses pemeriksaan lanjutan setelah rapid test, yakni swab test untuk mengetahui apakah seseorang positif Covid-19 atau tidak.

“Kalau hasil rapid test itu, tidak usah diumumkan karena masih ada lagi proses selanjutnya yakni tes swab, yakni sampelnya pasien kita kirim ke Jakarta,” tegasnya.

Viktor pun optimis, akhir bulan April 2020 ini, pihaknya sudah punya laboratorium sendiri, untuk lakukan swab tes.

“Kita doakan, dua minggu dari sekarang kita bisa melakukan tes swab sendiri karena kita akan menyiapkan sarana prasarannya,” tutup Viktor.*