Dawainusa.com —¬†Di Kota Semarang, Jawa Tengah, belakangan memang sering terjadi tindakan penipuan yang menyasar para pedagang lanjut usia (lansia).

Pada Jumat (4/9) kemarin, peristiwa penipuan itu kembali menimpa Waginem (65), pedagang lansia warga di Jalan Setiyaki, Bulu Lor, Semarang Utara.

Nenek ini biasanya berjualan nasi dan jajanan pasar dengan berjalan kaki keliling Kampung Poncowolo, Semarang.

Ia tertipu oleh seorang pembeli yang pura-pura membeli dagangannya. Sebanyak 70 nasi bungkus senilai Rp200 ribu dan uang tunai Rp400 ribu raup dari dompet Mbah Waginem.

Sadar menjadi korban penipuan, Mbah Ginem menangis karena khawatir tak bisa menyetorkan hasil penjualan kepada pemilik dagangan.

Meski begitu, ia tak mau melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib. Bagi dia, rezeki telah diatur oleh Tuhan, sehingga ia memilih bersabar.

Baca Juga: Tega, Sekelompok Remaja Rekam dan Tertawakan Nenek Tergeletak di Jalan

Kronologi Penipuan terhadap Pedagang Lansia

Kepada Kompas.com, Mbah Waginem menceritakan bahwa insiden penipuan terjadi pada Jumat kemarin, sekitar pukul 09.00 WIB.

Ketika berjalan keliling dan sampai di pinggi jalan di daerah PKL, seorang perempuan misterius tiba-tiba memanggil hendak membeli dagangannya.

“Mbah dodol opo to mbah?’ Tak tebas kabeh kene segone. (Mbah jual apa? Tak borong semua sini nasinya),” ujar Mbah Ginem menirukan perkataan perempuan itu.

“Kulo wis seneng nek ditebas kabeh mikire kulo mulih esuk. (Saya sudah senang kalau diborong semua saya bisa pulang lebih awal),” terangnya.

Pedagang lansia tersebut mengaku curiga karena sebelumnya pembeli yang mengendarai sepeda motor tersebut sempat mengikutinya.

Saat berbincang, pembeli tersebut meminta Mbah Ginem naik ke atas motor. Namun karena curiga, Mbah Ginem menolak permintaan pembeli tersebut.

“Kene tak boncengke (sini saya boncengin). Ajeng diboncengke kulo mikir nek kesasar meh nangndi melih (Mau diboncengin saya mikir kalau nyasar mau kemana lagi) tapi akhirnya saya tolak, saya ndak berani naik motor karena pernah jatuh,” ujarnya.

Secara tiba-tiba, pembeli perempuan tersebut mengambil 70 bungkus nasi dan dompet berisi uang Rp400.000 dari tas Mbah Ginem kemudian kabur.

Mbah Ginem akhirnya tertinggal seorang diri di pinggir jalan. Ia pun berjalan ke sebuah warung lalu menangis karena harus menyetor uang dagangan ke pemilik dagang.

“Saya nangis waktu berhenti di warung karena mikir bagaimana nanti setorannya. Dagangan belum dibayar sudah dibawa kabur orang,” ucapnya.

Di tengah kekecewaan itu, Mbah Ginem beruntung karena bertemu dengan tetangganya yang kemudian mengantarnya pulang ke rumah.

Meski mengalami kerugian, Mbah Ginem mengaku tak akan melaporkan kejadian itu ke polisi. Ia menganggap kejadian tersebut adalah cobaan yang harus ia jalani dengan ikhlas.

“Kulo pasrah ikhlas lahir batin. Mboten laporan. Rejeki pun enten sing ngatur (Saya pasrah dan ikhlas. Rejeki sudah ada yang mengatur,” ujar pedagang lansia tersebut.

Mbah Ginem pun memutuskan tetap berjualan walaupun baru saja mengalami kejadian yang tak mengenakkan. Karena dari jualan itu ia memenuhi kebutuhannya.

Setelah mendengar kejadian yang menimpa nenek lansia tersebut dari media sosial, beberapa donatur pun memberikan bantuan uang tunai pada Mbah Ginem.

“Kami berharap penipunya bisa segera ditangkap. Karena kejadian ini yang saya tahu sudah beberapa kali terjadi di Semarang dan mengincar pedagang lansia,” jelas Tonex, seorang relawan Semarang Peduli.

Diketahui, Mbah Ginem sudah ditinggal suami beberapa tahun lalu. Ia kini hidup bersama kakak kandung dan keponakannya di rumah sederhana.*