Dawainusa-com — Film pendek berjudul “Tilik” menjadi trending topik di media sosial sejak diunggah ke Youtube 17 Agustus lalu. Diproduksi tahun 2018, film yang menonjolkan karakter Bu Tejo ini telah ditonton lebih dari 9,9 juta penonton.

Meski demikian, film berbahasa Jawa yang tayang perdana di kanal Youtube Ravacana Films ini dinilai oleh beberapa seniman dan kritikus film tidak edukatif.

Hal itu karena film berdurasi 32 menit ini cenderung menstigmatiasi perempuan desa sebagai bodoh dan memperkuat isu hoaks atau kebohongan yang menjadi fenomena sosial yang muncul secara kuat belakangan ini.

Baca Juga: Berita Viral Bu Tejo Dipuji Warganet, Begini Fakta Tentang Film Tilik yang Curi Perhatian Publik

Film “Tilik” Tidak Edukatif

Kritikus film dan pakar komik Hikmat Darmawan menilai bahwa film ini tidak mendidik karena narasi hoaks atau gosip bertebaran sepanjang film.

Film ini, kata dia, memilik ironi, di mana tidak memiliki tujuan yang jelas untuk mendidik masyarakat tentang hoaks atau misinformasi.

“Kemarin nonton Tilik. Dan kesal. Eh hari ini trending, dipuji-puji. Sheesh. Itu film, teknisnya bagus. Tapi idenya buruk. 1. Stereotyping parah pada para ibu-ibu. 2. Endingnya bertentangan dengan jualannya yang katanya bahas isu maraknya hoax dan disinformasi,” tulis Hikmat di akun Twitternya, Rabu (19/8).

“Isu hoax ini udah genting, makan korban, bisa mematikan. Apalagi sekarang. Isu hoax nggak butuh ironi ala ala kayak gitu sih,” imbuh Hikmat.

Sementara itu, wartawan Metro TV Rory Asyari, pada Jumat (21/8), membenarkan pendapat Hikmat. Ia menegaskan, film ini tidak memiliki kontribusi terhadap pendidikan.

“Materi edukatif film ini nol. Nihil. Semua soal prejudice, fitnah, stigmatisasi perempuan, dan kemenangan hoax maker,” tulisnya di akun Twitter.

Rory mengaku terganggu dengan akhir cerita film yang menonjolkan karakter Bu Tejo ini. Dalam film itu, karakter Bu Tejo sebagai penyebar hoaks justru menang ketika beradu pendapat dengan deretan ibu-ibu lain yang memverifikasi tiap informasi hoaks.

“Penyebar hoax dan fitnah justru menang. Pihak yang berjuang untuk ngeyakinin cek dulu kebenaran info di internet (check before you share) malah dikalahkan,” katanya.

Rory memandang bahwa stigmatisasi di film yang diproduksi Ravacana bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Yogyakarta itu tidak mendidik bangsa.

“Perempuan pedesaan dianggap bodoh, biang gosip, tong kosong nyaring bunyinya. Padahal perempuan desa di Jawa yang tangguh, berbobot dan pinter buanyak. Di film ini, yang berisi dan bijak kalah suara, yang mustinya kita tiru, jadi dikesankan dungu,” tegasnya.

Kritik tidak edukatif terhadap film yang disutradarai Wahyu Agung Prasetyo ini kemudian menjadi perbincangan tersendiri di media sosial. Banyak netizen yang menilai bahwa film ini memang tidak edukatif, tetapi banyak yang lainnya menentangnya.

“No Rory. Justru hal-hal kecil yang baik di Tilik lalai begitu saja. Mengunjungi dan menjenguk orang sakit buat itu perbuatan mulia. Materi edukatif nol? Tilik justru ngajarin kita untuk belajar berempati, bersyukur, menjaga silaturahim, banyak,” kicau akun Twitter @ikramwiese pada Sabtu (22/8).

“Baca kritik soal Tilik bikin pengen bilang: yuk biasain nonton film tanpa nyari pesan moral. Kadang film itu cuma media ekspresi, hiburan, dan representasi sosial. Film gak harus selalu ada objektif soal pendidikan moralnya,” cuit akun @katrinahums.

Sutradara Angga Dwimas Sasongko pun ikut menanggapi tentang perdebatan mengenai film ini. Menurut Angga, sebuah film memang layak dikritik oleh kritikus film. Ada keseimbangan antara karya dan kritik.

“Dialektika antara film Tilik dan mas @hikmatdarmawan adalah situasi yang saya sebagai filmmaker impikan. Gagasan dari karya diuji oleh kritikus. Saya menikmati filmnya, dan menikmati tulisan kritiknya. Dari keduanya saya belajar. Asik kan!” cuit Angga, Sabtu (22/8).

Sutradara Joko Anwar pun ikut memberikan pendapatnya mengenai perdebatan kritik film pendek ini. Ia menilai bahwa merupakan sebuah pencapaian baru sebuah film pendek menjadi perbincangan banyak orang dan trending di media sosial.

“Seingat saya, baru kali ini ada film pendek mengundang begitu besar perhatian, diskusi serta perdebatan yang sangat ramai dan menarik di Indonesia. Ini saja sudah satu pencapaian besar buat film Tilik. Great job, buat kru dan pemain. Salut dan selamat,” tulis Joko Anwar di akun Twitternya, Sabtu (22/8).

Baca jugaJago Jadi Foto Model, Deretan Foto Nenek Ini Viral di Medsos dan Tuai Pujian Netizen

“Tilik” sendiri bercerita tentang kisah rombongan ibu-ibu yang menempuh perjalanan dengan truk untuk menjenguk Ibu Lurah yang sedang sakit di rumah sakit.

“Tilik” masih menyedot perhatian publik lantaran nyinyiran Bu Tejo yang dirasa merefleksikan dan lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Gaya nyinyirnya mampu membuat penonton terbawa suasana saat menonton, bahkan merasa geram atas dialog-dialognya yang sangat khas.

Siti Fauziah Saekhoni diakui berhasil memerankan karakter Bu Tejo. Ia dianggap mewakili karakter ibu-ibu di kampung yang senang bergosip.

“Tilik” merupakan pemenang untuk kategori film pendek terpilih pada Piala Maya 2018. Selain itu, juga menjadi Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018 dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019.

Hingga Senin (24/8), film “Tilik” sudah ditonton lebih dari 9,9 juta penonton, disukai 507 ribu orang, dan dikomentari 58 ribu orang.* (Tempo/Kompas)