Tolak Pendapat Petinggi PKS, Fahri Hamzah: Sandiaga Itu Pedagang

Tolak Pendapat Petinggi PKS, Fahri Hamzah: Sandiaga Itu Pedagang

JAKARTA, dawainusa.com – Polemik identitas menguat menjelang Pemilihan Presiden 2019. Masih dalam lingkup SARA, identitas dimainkan sebagai dagangan. Tidak heran labelisasi dadakan digunakan untuk mengkapling pemilih. Pertanyaannya, apakah penilaian publik sesederhana itu?

Terkait labelisasi ini, identitas Cawapres Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, menarik untuk diamati. Ketika diumumkan sebagai pendamping Prabowo, Sandi dilabeli PKS sebagai santri Pos Islamisme. Sekarang, dalam hitungan satu bulan, status Sandi dinaikkan menjadi Ulama.

Sama seperti identitas sebelumnya, labelisasi “ulama” disematkan oleh PKS. Berbagai respon di masyarakat muncul. Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, berpendapat bahwa Sandiaga memang tergolong Ulama.

Baca juga: Sandiaga Uno Sebut Erick Thohir Menangis Saat Dirinya Jadi Cawapres

Terkait hal ini, pendapat berbeda malah datang dari sesama kader PKS, Fahri Hamzah. Menurut Fahri, identitas ini merupakan kekacauan berpikir yang memaksa semua kandidat untuk bermain merek.

Sebelum Pilpres 2019 dimulai, semua kubu memang sudah mengklaim diri sebagai sosok yang paling religius. Fahri menilai bahwa semua orang sudah tersudutkan dalam dikotomi “harus ulama” atau “bukan ulama”.

Berbeda dengan Hidayat, Fahri mengatakan bahwa ulama memiliki makna Ilmuwan. Sebagai ilmuwan, ulama adalah mereka yang menekuni pendidikan agama, menghafal Alquran, dan menguasai hadist.

Menurut Fahri, Sandiaga itu bukan ulama, melainkan pedagang yang dalam bahasa orang kampong disebut tajir. “Lah pedagang seperti Sandi disebut ulama kan nanti jadi repot,” tutur Wakil Ketua DPR itu.

Terkait identitas Sandi sebagai santri, Fahri memang setuju. Baginya, santri adalah orang yang sedang belajar. Namun identitas Sandi sebagai ulama, sama sekali ia tolak. “Jadi karena KH Ma’ruf ulama, Sandi ulama juga? Ya nggak bisa begitu. Ada ketegorisasinya,” jelas dia.

Terkait identitas baru Sandiaga Uno, KH Ma’ruf Amin juga turut bicara. Ma’ruf mempertanyakan definisi ulama menurut PKS, karena sepertinya PKS memiliki kriteria ulama tersendiri.

Menghindari benturan pendapat, Ma’ruf memang memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh. “Saya nggak mau komenlah. Yang memberi label itu alasannya apa?” ucap Ma’ruf di iNews Tower, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/9).

Terkait Identitas Sandi sebagai Ulama, Ini Klarifikasi Hidayat

Hidayat Nur Wahid, dari gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (17/9), menjelaskan pengertian ulama dalam Alquran yang ia rujuk dalam Surat As-Syura dan Surat Al-Fatir untuk menanggapi respon publik terkait keulamaan Sandi.

Dalam kedua surat tersebut, ia berpendapat bahwa ulama juga terkait dengan penguasaan ilmu pengetahuan lain selain Agama. Selain itu, identitas ulama juga mencakup perilaku hidup seseorang yang baik secara Islam.

Perilaku ulama yang ada dalam diri Sandiaga adalah pelaksanaan ajaran agama seperti puasa Senin-Kamis, Salat Duha, Salat Malam, Silaturahmi, dan menghormati orang tua. Selain itu, Sandi juga dinilai sebagai sosok pengusaha yang baik.

Baca juga: Beberapa Strategi Mengejutkan Sandiaga Uno di Pilpres 2019

Menurut Hidayat, Sandi memang tidak bertitel KH, karena memang ia tidak belajar di komunitas tradisional keulamaan. Namun, ketiadaan titel tersebut tidak berarti bahwa Sandi bukan sosok ulama yang sesungguhnya.

Terkait ulama, Hidayat juga memiliki perbedaan pendapat dengan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U). Hidayat, mewakili PKS, tidak setuju dengan pernyataan bahwa adanya cawapres dari kalangan ulama dapat memecah suara umat.

Hidayat menjelaskan pemecah belah bisa terjadi karena banyak faktor seperti perlakuan diskriminatif aparat terhadap dua gerakan tagar dari masing-masing kubu capres-cawapres pemilu 2019.

Melalui pernyataan-pernyataan ini, Hidayat memang tengah membangun argumen bahwa koalisi oposisi siap untuk menghadapi cawapres ulama dan tidak takut dengan ancaman pecahnya suara umat.*