dawainusa.comVideo seorang warga Desa Lembur, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur ( NTT), yang menolak bantuan sembako dari pemerintah viral di media sosial.

Informasi yag dihimpun dawainusa.com, warga yang menolak bantuan yang disalurkan melalui kementerian sosial tersebut bernama Salomi Malaka, seorang ibu rumah tangga.

Baca juga: 2 Warga Positif Corona di Mabar, NTT Pernah Kontak dengan Ratusan Orang

Dalam video berdurasi 2 menit 37 detik itu, Koordinator Daerah Kabupaten Alor Nazamuddin Syain sempat menanyakan alasan Salomi menolak bantuan sembako pemerintah di tengah pandemi corona.

“Mama jawab dulu, alasan apa mama tak mau terima bantuan dari Pak Presiden RI berupa bantuan sembako melalui kementerian sosial ini?” tanya Nazamuddin.

Salomi terdiam sejenak. Nazamuddin pun terus menanyakan alasan Salomi menolak bantuan tersebut. “Saya tidak mau,” cetus Salomi. “Tidak mau karena? Takut atau apa?” lanjut Nazamuddin menimpali.

“Saya makan free, saya tidak mau. Makanya saya bilang saya tidak mau. Makanya saya harus usaha sendiri dulu. Tuhan sudah kasih saya 10 jari dipakai untuk usaha. Itu yang saya tidak mau, tidak ada alasan lain,” kata Salomi.

Salomi Masuk Kategori Keluarga Miskin

Nazamuddin mengatakan, Salomi masuk kategori keluarga miskin yang berhak mendapat bantuan. Petugas sempat menjelaskan alasan pemberian sembako tersebut kepada Salomi. Namun, Salomi tetap bersikukuh menolak.

“Akhirnya kami datang dan bertemu dengan Ibu Salomi untuk memberikan penjelasan secara langsung terkait program sembako di tengah pandemi Covid-19,” jelas Nazamuddin. seperti dilansir Kompas.com, Sabtu (2/5/2020).

Baca juga: 9 Positif Corona di NTT, Mengapa Hanya 3 yang Terdata di Gugus Tugas Nasional?

Saat itu, menurut Nazamuddin, pihaknya datang ke rumah Salomi juga untuk memberikan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) di Desa Lembur.

Namun, melihat prinsip hidup Salomi dan segala cara petugas untuk meyakinkan Salomi gagal, akhirnya Salomi diberi masker agar bisa digunakannya saat keluar rumah.

Bantuan Sembako Pemerintah

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sosial sembako dari Presiden RI dalam rangka Penanganan COVID-19.

“Merespon cepat arahan Bapak Presiden Joko Widodo untuk segera menyalurkan bantuan sosial, maka Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga miskin dan rentan terdampak COVID-19,” kata Menteri Sosial, Juliari P. Batubara di Jakarta, Jumat (17/4).

Baca juga: Hasil Tes Swab: 9 Warga NTT Dinyatakan Positif Corona Covid-19

Ia menjelaskan, indeks bantuan adalah Rp600 ribu per keluarga per bulan. Setiap bulan bantuan ini disalurkan dua kali masing-masing Rp300 ribu per paket sembako termasuk kemasan dan ongkos kirim.

Bansos sembako terdiri dari beras, minyak goreng, sarden, kornet, sambal, kecap, mie instan, susu UHT, teh celup, hingga sabun mandi.

Waktu pengiriman bantuan adalah April, Mei, dan Juni. Bantuan diberikan kepada keluarga miskin dan rentan terdampak COVID-19, yakni DKI Jakarta, sebanyak 1,3 juta KK.

Mensos mengatakan mekanisme penyaluran bansos dimulai dari penyediaan dan pengemasan sembako di gudang penyedia barang, kemudian dikirimkan ke rumah Keluarga Penerima Mamnfaat (KPM).

Mekanisme ini ditempuh agar penerima bansos tidak keluar rumah di masa pencegahan pandemi COVID-19 ini.

“Mekanisme ini sesuai dengan kampanye yang selalu saya sampaikan agar masyarakat #dirumahaja, karena bansos kami yang antar,” kata Mensos.

Selanjutnya, untuk distribusi bantuan sembako, Kemensos bekerja sama dengan PT. Pos Indonesia serta layanan ojek online.

“Teknisnya diatur di sana, nantinya akan dibantu juga oleh para pengojek online untuk penyaluran hingga ke rumah warga,” katanya.

Apabila KPM tidak ditemukan karena hal-hal tertentu, maka sembako diserahkan ke Suku Dinas Sosial melalui Lurah dengan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM).

Bansos kemudian diserahkan oleh Suku Dinas Sosial kepada KPM pengganti yang layak menerima bansos.*