Tiga Proposal Belum Ditanggapi, Kepsek SMAN 3 Elar Tak Menyerah

Tiga Proposal Belum Ditanggapi, Kepsek SMAN 3 Elar Tak Menyerah

Hingga saat ini, beberapa rombongan belajar SMAN III, Elar, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur masih mengadakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Gedung Aula milik Paroki Salib Suci, Mamba. (Foto: Yeni Veronika Deno - ist)

ELAR, dawainusa.com Hingga saat ini, beberapa rombongan belajar Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) III, Elar, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur masih mengadakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di Gedung Aula milik Paroki Salib Suci, Mamba.

Hal ini dipicu karena lembaga pendidikan itu belum memiliki ruangan kelas yang memadai dan cukup. Dari keterangan Kepala Sekolah Stefanus Ngandung, lembaga yang dipimpinnya itu hanya memiliki enam ruang kelas. Jumlah ruang kelas tersebut, katanya, tidak cukup untuk menampung tiga ratus orang siswa.

Baca juga: Gusur Paksa Warga, PT. Angkasa Pura Dinilai Kangkangi HAM dan Pancasila

“Kami masih pakai Aula Paroki Mamba di Elar Selatan. Aula itu kami sekat jadi tiga ruangan kelas. Ruangan kelas yang dibangun memang ada tapi hanya enam ruangan saja. Kami butuh 10 ruangan sehingga masih kurang empat,” ujar Stefanus dalam pertemuan dengan anggota DPRD NTT, Yeni Veronika Deno, Minggu (3/12).

“Siswa kami 300 orang. Jumlah ini tidak sesuai ruangan kelas yang tersedia. Ada satu ruangan kelas yang kami bangun darurat,” lanjutnya.

Tiga Proposal Belum Ada Jawaban

Di hadapan istri bupati Manggarai, Dr. Kamelus Deno tersebut, Stefanus menuturkan bahwa dirinya selama ini tidak menyerah dengan keterbatasan fasilitas tersebut. Dirinya sudah tiga kali membuat proposal penambahan Ruang Kelas Baru (RKB) kepada pihak pemerintah Provinsi NTT, namun sampai saat ini tidak ada tanggapan.

“Saya sudah tiga kali kirim prpoposal ke provinsi, tapi sampai hari ini tidak ada tanggapan sama sekali dari pemerintah,” ujar Stefanus.

Baca juga: Ini Dua Calon Kuat Pendamping BKH di Pilgub NTT

Menurut Stefanus, tahun depan para peserta didik tidak bisa lagi menggunakan gedung aula milik paroki, karena gedung tersebut akan direnovasi. Dirinya mengaku sangat membutuhkan ruang kelas agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan dengan baik.

“Aula paroki yang kami pakai, mau dibangun baru. Maka itu, tahun depan harus ada ruangan. Kalau tidak ada ruangan kelas maka kami kuatir tidak bisa terima siswa baru. Mau terima siswa baru ruangan tidak ada. Mau minta bantuan orangtua pakai dana komite juga serba salah. Orang tua sudah sumbang satu ruangan darurat. Tidak mungkin kami minta bantuan lagi,” papar Stefanus.

Meski demikian, Ia tetap berusaha agar kegiatan belajar mengajar dan penerimaan siswa baru di sekolah tersebut tetap berjalan dengan normal. Oleh karena itu, Stefanus berharap ada perhatian dari pemeritah untuk sekolahnya itu.

SMAN III Macang Pacar Mengalami Hal Serupa

Hal serupa dialami lembaga SMA Negeri Macang Pacar, Desa Wontong, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Sekolah tersebut bahkan belum memiliki satu pun ruang kelas.

Sejak didirikan pada tahun 2016 yang lalu, sekolah tersebut masih menggunakan gedung Sekolah Dasar Katolik (SDK) Pongkal. Kegiatan belajar-mengajar harus menunggu setelah para siswa sekolah dasar itu selesai.

Kedua lembaga ini yakni SMAN 3 Elar dan SMAN 3 wontong Macang Pacar sedang menanti respon pemerintah. Mereka sangat mengharapkan pemerintah punya hati untuk mereka agar membangun ruang kelas baru sehingga proses pendidikan dan belajar mengajar berjalan sebagaimana mestinya.* (RSF)