Dawainusa.com Aplikasi FaceApp kembali populer setelah viral Oplas Challenge. Aplikasi edit foto wajah ini kini marak kembali digunakan, meskipun sejumlah isu pencurian data beredar.

Memang, beberapa waktu lalu bahaya aplikasi FaceApp sudah pernah menghebohkan jagat maya ketika Age Challenge viral. Saat itu sempat berhenti, dan kini di pertengahan 2020 kembali ramai digunakan.

Baca juga: Sejumlah Fakta di Balik Pasutri Penyebar Ideologi Khilafah di NTT

Di Indonesia, kembalinya aplikasi ini membuat warga net ramai-ramai menggunakannya. Aplikasi FaceApp membuat orang tampak sangat berbeda dengan aslinya, ada yang tampak muda bahkan sebaliknya.

Bahkan dengan aplikasi ini membuat tampilan wajah sulit dikenali jika dibandingkan dengan aslinya.

Aplikasi ini bukan hanya menjadikan wanita atau pria lebih cantik dan ganteng, tapi juga mengubah yang pria tampak wanita dan sebaliknya.

Sehingga pengguna aplikasi ini nampak senang dan bangga pada tampilan wajah mereka yang tampak berbeda dari aslinya. Mereka belum menyadari bahaya aplikasi FaceApp yang meraka gunakan.

Menurut informasi, aplikasi ini merupakan filter yang berfungsi untuk mengubah wajah-wajah dari satu etnis menjadi etnis lainnya.

Aplikasi ini dibuat untuk dapat mengubah wajah, dan dengan bantuan kecerdasan buatan serta erat kaitannya dengan kemajuan teknologi.

Karena aplikasi ini sangat lengkap dari mulai gaya make up, garis di sekitar mulut, dagu, serta pipi untuk tampilan alami.

Bahkan bisa mengubah ekspresi seseorang yang kosong atau pemarah dari seseorang yang memiliki ekpresi bahagia.

Bahaya Aplikasi FaceApp

Di balik canggih serta ramainya penggunaan aplikasi FaceApp terdapat beberapa isu yang mencuat, seperti pencurian data dan penargetan iklan. Kemudian isu itu dibantah oleh Kepala Eksekutif Perusahaan FaceApp, Yaroslav Goncharov.

Terkait adanya isu pencurian data, Goncharov mengatakan bahwa FaceApp hanya mengunggah foto yang dipilih oleh pengguna untuk diedit.

“Kami tidak menggunakan foto untuk pelatihan pengenalan wajah, aplikasi ini hanya untuk mengedit foto,” jelas Goncharov, seperti dikutip dari BBC, Minggu (31/5/2020)

Sedangkan terkait dengan isu tujuan untuk penargetan iklan, Goncharov pun membantah isu yang beredar tersebut.

“Perusahaan tidak membagikan data apapun untuk penargetan iklan, karena FaceApp menghasilkan uang melalui langganan berbayar untuk fitur premium,” jelas Goncharov.

Sementara itu, menurut Steven James Murdoch seorang peneliti keamanan di Departemen Ilmu Komputer University College London, lebih baik edit sendiri daripada menggunakan FaceApp.

“Akan lebih baik bagi privasi seseorang yaitu dengan memproses foto-foto pada ponselnya masing-masing atau milik sendiri,” jelas Steven.*