Terciduk Layani Seorang Pria, Perempuan Ini Diancam Hukuman Cambuk

Terciduk Layani Seorang Pria, Perempuan Ini Diancam Hukuman Cambuk

MALAYSIA, dawainusa.com – Pada 17 September lalu, aparat dari Kementerian Urusan Agama Terengganu, Malaysia menggerebek sebuah kamar hotel yang terletak di wilayah tersebut. Dalam aksi penggerebekan itu, mereka menemukan seorang perempuan yang mengenakan gaun malam tak berlengan sedang bersama dengan seorang pria.

Diduga, keduanya sedang hendak melakukan hubungan seksual. Dugaan tersebut beralasan karena saat penggerebekan berlangsung, aparat menemukan sejumlah alat bukti seperti pakaian dalam, kondom, cairan pelicin dan satu telepon genggam.

Dari laporan The Straits Times, perempuan tersebut diketahui menawarkan jasa seksual kepada para pelanggan dengan harga 300 ringgit dan 3.000 ringgit. Tetapi, ia hanya sering mendapatkan bayaran 100 ringgit atau setara dengan Rp358 ribu dari kliennya.

Baca juga: Cerita PSK Tertangkap Basah Saat Layani Pelanggan di Warung kopi

Pihak pengadilan di daerah setempat telah melakukan persidangan atas kasus yang menimpa perempuan tersebut. Dalam keterangan yang ia berikan selama persidangan, perbuatannya itu dilakukannya secara terpaksa akibat keadaan dirinya yang sulit untuk menghidupi ekonomi keluarga.

Diketahui, perempuan tersebut ialah seorang janda cerai. Ia bercerai dengan suaminya sudah sejak tujuh tahun silam. Dari hasil hubungannya dengan mantan suaminya itu, mereka dikarunia seorang anak yang saat ini tinggal bersama perempuan itu.

Selama keduanya bercerai, demikian perempuan itu menjelaskan situasinya, ia tidak pernah diberikan uang oleh suaminya untuk membiayai kehidupan anak mereka. Padahal, tuntutan untuk hidup tetap terus berjalan.

Dengan kondisi seperti itu, untuk dapat bertahan hidup dengan anaknya, perempuan tersebut secara terpaksa harus menanggungnya sendiri dengan mengambil jalan pintas, yakni dengan menjual harga dan martabat diri dengan cara menjadi seorang pekerja seks komersial (PSK).

Terancam Hukuman Cambuk dan Penjara

Tindakan seperti yang dilakukan oleh perempuan tersebut, yakni menjadi seorang pekerja seks komersial memang merupakan barang ‘haram’ di wilayah tersebut. Setiap orang yang diketahui melakukan hal demikian, ia pasti akan mendapat hukuman dari pihak berwewenang.

Terkait dengan apa yang telah dilakukan perempuan itu, dalam sidang di pengadilan, ia sendiri juga telah mengakui dan menegaskan hal itu sebagai sebuah tindakan bercelah dan melanggar ketentuan hukum yang berlaku di daerah setempat.

Karena itu, ia diancam akan mendapat hukuman cambuk paling banyak enam kali sesuai dengan ketentuan hukum yang ditetapkan di dalam Pasal 25 Undang-Undang Kriminal Syariah (Takzir) Tahun 2001.

Baca juga: Kronologi 4 Atlet Jepang yang Dipulangkan Karena Menyewa PSK

Selain diancam akan mendapat hukuman cambuk, lewat pasal tersebut perempuan itu juga dimungkinkan akan mendapatkan hukuman lain seperti hukuman penjara tak lebih dari tiga tahun, atau denda tak maksimal 5.000 ringgit.

Terkait dengan masalah ini, Hakim Rosdi Harum yang memimpin jalannya persidangan sempat memberikan kesempatan kepada perempuan itu untuk meminta keadilan.

Ia diberikan wewenang untuk mengajukan banding agar hukuman yang diberikan atasnya itu menjadi lebih ringan mengingat pertimbangan kondisi ekonomi keluarganya yang lemah.

Soal Hukuman Cambuk

Hukuman cambuk di daerah itu memang sudah lama diterapkan. Banyak pelaku hubungan seksual yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum itu telah menjadi korban dari penerapan atau pemberlakuan hukuman tersebut.

Pada 3 September lalu misalnya, dua orang perempuan yang diketahui melakukan hubungan seksual sesama jenis terpaksa harus menerima hukuman cambuk yang dijatuhi oleh Pengadilan Tinggi Syariah daerah setempat. Keduanya diketahui melakukan hubungan intim di dalam sebuah mobil di Dungun pada Agustus lalu.

Adapun keputusan  Pengadilan Tinggi Syariah yang memberlakukan hukuman tersebut menuai polemik di hadapan publik. Tidak sedikit orang yang memberikan kecaman dan kritikan atas penerapan hukuman ini.

Baca juga: Usai Bercinta dengan Pelanggan, PSK Ini Dilarikan ke Rumah Sakit

Salah satu pihak yang memberikan krtik atas penerapan hukuman cambuk ini ialah Perdana Menteri Malaysia  Mahathir Mohamad. Ia mengatakan, hukuman seperti ini semestinya tidak boleh terjadi karena hal itu sama sekali tidak mencerminkan nilai kasih dan keadilan dalam Islam.

Bagi Mahathir, seharusnya para pelaku tindakan seperti ini tidak boleh mendapat perlakuan demikian dari pihak pengadilan. Mereka, kata dia, semestinya hanya mendapat hukuman ringan seperti diberikan bimbingan.

“(Hukuman) itu memberi nama jelek pada Islam. Kita harus memperlihatkan Islam bukan agama yang kejam yang menerapkan hukuman keras untuk mempermalukan manusia,” kata Mahathir melalui sebuah video yang diunggah lewat akun Twitternya.*