Tangkal Radikalisme, Sejumlah Organisasi di Palembang Gelar Dialog Publik

Tangkal Radikalisme, Sejumlah Organisasi di Palembang Gelar Dialog Publik

Tiga model radikal yang berbahaya dalam konteks kehidupan berbangsa, diantaranya radikal dalam pemikiran, radikal dalam perkataan dan radikal dalam perbuatan. (Foto: Diskusi Publik - ist)

KIRIMAN PEMBACA, dawainusa.com Dalam rangka mengantisipasi dan menangkal gerakan radikalisme beragama yang marak terjadi akhir-akhir ini, sejumlah organisasi di Palembang menggelar dialog publik di Gedung Catur Sakti Polda Sumatera Selatan, Kamis (1/3).

Dialog tersebut diselenggarakan atas kerja sama tiga lembanga yakni, Forum Pembaruan Kebangsaan Sumatera Selatan, Forum Kerukunan Umat Beragama Sumatera Selatan dan Pemuda NKRI Sumatera Selatan .

Dialog bertajuk ‘Peran Tokoh Agama Sumatera Selatan dalam Mengantisipasi dan Menanggulangi Radikalisme Beragama’ tersebut menghadirkan tiga narasumber, diantaranya Prof. Dr. Alfatum Muschtar, M.A, Dr. Heri Junaidi dan Pjs Kesbangpol Palembang, Fitri.

Baca juga: Terungkap, Pelaku Teror di Gereja Sta. Lidwina Sempat Ingin ke Suriah

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Alfatum Muschtar menyinggung tiga model radikal yang berbahaya dalam konteks kehidupan berbangsa, diantaranya radikal dalam pemikiran, radikal dalam perkataan dan radikal dalam perbuatan. Namun, Prof Muschtar menyebut, radikal yang paling berbahaya adalah radikal dalam perbuatan.

“Ia memaksakan orang lain bertindak untuk merubah sesuai dengan kehendaknya dalam waktu yang cepat,” ungkap Muschtar.

Dalam situasi seperti ini menurutnya, peran tokoh agama, pemuda dan pemerintah menjadi sangat penting demi menjaga melebarnya gerakan radikal yang berbahaya bagi kerukunan hidup bersama.

“Komunikasi menjadi kunci paling penting. Mahasiswa dituntut untuk terlibat dalam upaya menjaga situasi yang mengganggu kedamaian bersama,” lanjutnya.

Sementara itu, Dr. Heri Junaidi menegaskan pentingnya nalar kritis dan akal sehat dalam menfilter propaganda-propaganda berbau agama yang bisa menyeret kaum muda dan mahasiswa. “Mahasiswa harus cerdas dalam memahami apa yang menjadi ajakannya,” kata Junaidi.

Tangkal Radikalisme Beragama

Para peserta seminar kebangsaan (Foto: Eva)

Tangkal Radukalisme, Dialog Kebangsaan Sangat Perlu

Mengomentari kegiatan tersebut, ketua Presidium PMKRI Cabang Palembang Yoseph Aurelius Lado mengatakan, perlu adanya dialog kebangsaan di Palembang, mengingat beberapa bulan terakhir terjadi penyerangan terhadap beberapa ulama.

“Kasus ini harus diredam dengan dialog antara pemerintah, aparat kepolisian, tokoh lintas agama, tokoh pemuda, dan mahasiswa,” ujarnya.

Baca juga: Ketua GP Ansor: Pelaku Teror di Gereja Sta. Lidwina ‘Gila’ Agama

Selain itu ia menegaskan, dengan diadakannya acara dialog kebangsaan, bisa menyatukan persepsi dan adanya kesepakatan bersama untuk menjaga kerukunan dan kedamaian selama proses Pilkada dan persiapan Asian Games di kota Palembang.

“Sehingga efek dari kasus penyerangan terhadap ulama dan isu-isu agama tdak dipolitisir saat momentum Pilkada serentak di Sumatera Selatan,” lanjutnya.

Bicara tentang Palembang, Sumatera Selatan adalah daerah layak huni ke 6 dan daerah dengan predikat Zero Konflik. Untuk itu dengan kegiatan hari ini sebagai salah satu langkah konkret untuk mempertahankan predikat itu.

Pantauan dawainusa.com, seminar kebangsaan tersebut dihadiri oleh POLDA Sum-Sel, Keuskupan Agung Palembang, PMKRI Palembang, Pemuda Katolik, FPK Sum-Sel, FKUB Sum-Sel, PGI, Walubi Sum-Sel, Kesbangpol Sum-Sel, GP ANSOR, PMII Sum-Sel, GMNI, GMKI dan BEM Stisipol Candradimuka Palembang.* (Eva/Palembang)