Tanggapan Komnas Perempuan Soal Pemerkosaan Mahasiswi UGM

Tanggapan Komnas Perempuan Soal Pemerkosaan Mahasiswi UGM

JAKARTA, dawainusa.com Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) angkat bicara soal kasus pemerkosaan yang dialami mahasiswi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Mahasiswi yang diketahui bernama Agni itu diperkosa rekannya sendiri saat melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Seram, Maluku pada 2017 silam.

Menurut Wakil Ketua Komnas Perempuan Budi Wahyuni, dalam kasus ini wanita tidak bisa disalhkan sebagai pemicu terjadinya kekerasan seksual.

Wahyuni meminta seluruh pihak civitas akademika UGM untuk mendegarkan testimoni korban yang merupakan mahasiswi Fisipol angkatan 2014 itu.

“Kami menyerukan semua pihak untuk mendengar suara korban. Hindari penyangkalan bahkan menyalahkan perempuan korban sebagai pemicu kekerasan seksual terjadi dan lindungi integritas korban,” kata Budi melalui siaran pers yang diterima Suara.com, Kamis (8/11).

Baca juga: Baru Terbongkar, Ini Kronologi Mahasiswi UGM Diperkosa Rekannya saat KKN

Budi juga meminta agar pihak UGM dapat segera bertindak tegas dalam menyelesaikan kasus itu. Pihak kampus pun berkewajiban untuk memberikan rasa aman kepada korban dan memberikan efek jera pada pelaku.

“Kami meminta pihak akademik untuk melakukan investigasi independen, melakukan langkah yang memberi rasa adil pada korban dan penjeraan bagi pelaku,” lanjut Budi.

Kejadian kasus kekerasan seksual di lingkungan kampus pun menunjukkan bahwa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sangat mendesak untuk segera dihapuskan. Pasalnya, kasus kekerasan seksual sangat kompleks sehingga membutuhkan penanganan yang serius.

“RUU Penghapusan Kekerasan Seksual mendesak untuk segera disahkan, karena isu kekerasan seksual sangat kompleks, bukan sekedar perkosaan dengan penetrasi, tetapi juga harus menjamin hak ketidakberulangan,” pungkasnya.

Baru Terbongkar

Selama ini, kasus tersebut terkesan ditutup-tutupi dan baru mengemuka dan menjadi polemik di internal kampus setelah Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa (BPPM) Balairung menulis kasus tersebut dengan judul “Nalar Pincang UGM atas Kasus Perkosaan”.

Berdasarkan cerita Agni yang ditulis Balairungpress, peristiwa pelecehan terjadi pada 30 Juni 2017, ketika Agni singgah di pondok pria karena terjebak hujan di perjalanan menuju pondok rekan wanitanya.

Karena sudah larut malam dengan kondisi desa yang gelap dan hujan, Agni dipersilahkan pelaku HS yang merupakan sesama Mahasiswa UGM untuk menginap. Terbatasnya tempat dan segala kondisi di luar membuat Agni dan HS pun tidur satu kamar dengan posisi tidur yang berjauhan.

Baca juga: Prabowo Bahas Langkah Penyelamatan EKonomi Bersama Gus Sholah

HS melakukan asusila terhadap Agni saat sedang tertidur. Agni sempat membalikkan badan menjauhi HS, tetapi HS menarik badannya dan mengulangi perbuatannya dengan lebih beringas.

“Saya pura-pura tidur dan berharap pelaku segera menghentikan perbuatannya. Saat itu aku tidak mampu berkata-kata. Aku hanya tanya ‘kamu ngapain?’” tutur Agni.

Esok harinya Agni memutuskan untuk menghubungi temannya yang di Jogja untuk bercerita karena merasa gelisah. Teman Agni lantas menyuruhnya untuk melaporkan pelaku kepada Koordinator Mahasiswa Subunit (Kormasit), Koordinator Mahasiswa Unit (Kormanit), dan Dosen Pendamping Lapangan (DPL).

Tak butuh waktu lama sampai kejadian tersebut diketahui seluruh anggota subunit, mereka pun sepakat melaporkan HS kepada Adam Pamudji Rahardjo, DPL mereka. HS mengatakan bahwa ia khilaf meraba dan memainkan bagian tubuh Agni, tanpa menyebutkan bahwa tindakan itu dilakukan tanpa izin.

Sebelumnya, Kabid Humas dan Protokol UGM Iva Ariani menanggapi kasus dugaan pelecehan seksual yang dialami Agni. Iva menyatakan bahwa pihak UGM akan membawa kasus ini ke ranah hukum.

“Tim investigasi juga telah memberikan rekomendasi ke pimpinan universitas,” jelas Iva pada Selasa (06/11) malam.

Rekomendasi yang dimaksud Iva adalah evaluasi nilai KKN, pemberian hukuman serta pemberian konseling psikologi. Ia juga memastikan bahwa UGM akan melindungi penyintas yang melaporkan kasus tersebut, dan memastikan ia mendapatkan keadilan.

Pihak UGM akan memberikan sanksi secara akademik apabila tindakan tersebut terbukti kebenarannya.*

COMMENTS