Dawainusa.com — Hidup memang tak selalu mudah. Ada perjuangan yang mesti dilewati tapak demi tapak. Keringat dan darah, tawa dan tangis, kadang menyatu jadi satu.

Pahit getir dan kerasnya perjuangan hidup itu sungguh dialami pasangan suami-istri asal Samarinda, Kalimantan Timur, Andika Pratama (35) dan Yanti (32).

Keduanya menikah pada 2018 lalu. Setelah menikah, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Aditya Pratama. Bayi tersebut masih berusia 1 bulan.

Baca Juga: Kisah Haru Seorang Anak yang Dikucilkan Warga, Angkut Jenazah Ayahnya Sendirian Pakai Sepeda

Tak Mampu Bayar Kos, Andika dan Keluarga Diusir

Setelah menikah tahun 2018, kepada Kompas.com Andika mengaku sempat bekerja sebagai buruh angkut kepiting di Tarakan, Kalimantan Utara.

Namun, setelah dua tahun di sana, Andika bersama istri memutuskan kembali ke Samarinda. Andika diketahui memang warga Samarinda.

Setelah kembali ke Samarinda, ia sudah usaha mencari kerja ke berbagai tempat, namun nasib belum berpihak padanya. Akhirnya, ia bekerja sebagai pemulung.

Di Samarinda, Andika dan keluarga tinggal di sebuah indekos dengan tarif per bulan sebesar Rp350 ribu. Dari hasil jualan, mula-mula ia bisa membayar uang kos.

Namun selama bulan Agustus lalu, ia tak mampu lagi membayar uang kos karena telah habis digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari istri dan anaknya.

Lantaran tak mampu membayar uang bulanan, Andika dan keluarga terpaksa tidur di pinggir jalan di atas gerobak sampah yang biasa digunakan untuk memulung.

Hal itu karena pemilik kos tiba-tiba mengganti gembok pintu kos dan meminta agar Andika harus membayar terlebih dahulu uang kos agar bisa tinggal lagi di kos itu.

“Pemiliknya bilang bayar dulu baru bisa masuk. Akhirnya kami tinggal di gerobak dekat tempat sampah di Jalan Belatuk,” ucap Andika saat ditemui Kompas, Kamis (3/9).

Untuk menahan dinginnya malam dan hujan, Andika menggunakan alas dan menutup bagian atas gerobak sampah itu dengan baliho.

Tepat dua pekan Andika dan keluarga hidup di pinggir jalan beratapkan baliho dan beralaskan gerobak, terhitung sejak Jumat, 21 Agustus lalu.

Selama hidup di jalan, Andika membawa keluarganya bekerja mencari plastik. Uang hasil memulung itu dia gunakan untuk makan sehari-hari.

Nasib baik masih berpihak pada keluarga muda ini. Pada Kamis (3/9) malam, seorang warga datang menemui Andika dan istrinya.

Warga yang belum diketahui identitas itu memotret keadaan Andika dan keluarga kemudian mengunggah fotonya ke media sosial.

Berselang beberapa jam kemudian, tepatnya pada 01.00 WITA, tim relawan di Kota Samarinda yang melihat kondisi tersebut datang menemui Andika dan keluarga, lalu mengevakuasi ke rumah singgah di Jalan dr Soetomo, Gang 4.

Koordinator Relawan Sedekah Mandiri Samarinda Arisna Setiawati mengatakan, rumah singgah itu memang disiapkan bagi mereka yang membutuhkan.

Selanjutnya, tim relawan berniat mendatangi pemilik indekos dan berencana melunasi tunggakan indekosnya keluarga Andika.

Sampai saat ini belum ada respon dari Pemerintah Kota Samarinda terkait kondisi keluarga ini. Andika pun terus berusaha untuk mencari pekerjaan, apapun itu.*