Tahun 2019 Bandara Komodo Akan Jadi Bandara Internasional

Tahun 2019 Bandara Komodo Akan Jadi Bandara Internasional

Saat ini Kementerian Perhubungan sedang melelang calon pengelola Bandara Komodo untuk dibenahi menjadi bandara bertaraf internasional. (Bandara Komodo - ist)

LABUAN BAJO, dawainusa.com Pemerintah pusat terus memberi perhatian untuk meningkatkan status Bandara Komodo di Labuan Bajo, Pulau Flores bagian barat untuk menjadi bandara internasional.

Kepala Bidang Promosi Wisata Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Eden Klakik mengatakan, saat ini Kementerian Perhubungan sedang melelang calon pengelola Bandara Komodo untuk dibenahi menjadi bandara bertaraf internasional.

“Nanti mulai tahun 2019, Bandara Komodo sudah bisa ada penerbangan internasional,” katanya di Kupang, Jumat (29/6).

Baca juga: Pengembangan Bandara Komodo Dinilai Tingkatkan Arus Wisatawan

Eden mengatakan, dalam tahun ini diharapkan fasilitas dasar untuk Bandara Internasional seperti navigasi, pekerjaan runway dan perbaikan apron sudah selesai dibangun agar 2019 sudah bisa melayani penerbangan internasional.

Dengan peningkatan status bandara itu, lanjut Eden, akan memberi dua kemudahan sekaligus yakni memberikan kemudahan akses bagi wisatawan yang berkunjung ke daerah itu, juga harga tiket bisa lebih murah dan tidak sulit terjangkau.

Selain itu Eden mengatakan, rencana peningkatan status Bandara Komodo menjadi bandara internasional akan berdampak pada peningkatan kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo dan Komodo.

“Kalau sudah menjadi bandara internasional, maka kemungkinan ada penerbangan langsung dari luar negeri ke Bandara Komodo, dan itu akan memberikan kemudahan akses bagi wisatawan,” katanya.

Bandara Komodo Jadi Prioritas Pemerintah

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur Marius Ardu Jelamu mengatakan, pengembangan Bandara Internasional Komodo di Labuan Bajo, menjadi prioritas pemerintah untuk mendukung hadirnya penerbangan langsung internasional.

“Bandara Komodo merupakan prioritas pemerintah untuk dikembangkan karena merupakan salah satu dari 10 daerah wisata unggulan nasional,” kata Jelamu.

Baca juga: Pengembangan Bandara Internasional Komodo Akan Diprioritaskan

Ia menjelaskan, pada 10 destinasi wisata unggulan nasional, pembukaan penerbangan langsung internasional menjadi salah satu agenda utama pemerintah pusat.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, kata Marius, telah menyampaikan bahwa ketika landasan Bandara Komodo selesai diperpanjang maka penerbangan internasional bisa langsung masuk ke Labuan Bajo yang terkenal sebagai daerah wisata Taman Nasional Komodo.

Marianus juga mengatakan, layanan penerbangan internasional ke Nusa Tenggara Timur masih menunggu kesiapan Bandara Komodo di Labuan Bajo.

“Ketika selesai dikembangkan nanti, maka kami berharap penerbangan internasional seperti dari China, Jepang, Australia, dan lainnya segera masuk ke Labuan Bajo,” katanya.

Ia mengatakan, terkait layanan penerbangan domestik dari dan menuju provinsi setempat sejauh ini sudah terhubung secara baik. Bahkan untuk Bandara Komodo sendiri melayani hingga 28 kali penerbangan (kedatangan dan keberangkatan) setiap hari.

“Layanan penerbangan langsung dari Jakarta, Surabaya, Bali, Makassar, juga sudah terkoneksi dengan NTT, kemudian untuk antardaerah sendiri di NTT juga sudah terhubung dengan 14 bandara aktif, yang masih kami nantikan itu hadirnya penerbangan internasional,” katanya.

Lahan Pengembangan Bandara Digugat Masyarakat

Untuk meningkatkan status Bandara Komodo menjadi Bandara Internasional, perpanjangangan landasan bandara merupakan suatu persyaratan yang mutlak.

Untuk tujuan itu maka dibutuhkan lahan baru. Namun Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula mengatakan, lahan baru untuk itu belum tuntas karena masih digugat oleh masyarakat setempat.

Baca juga: Labuan Bajo Ditetapkan sebagai Destinasi Wisata Super Prioritas

“Ada komplain dari masyarakat pemilik lahan. Mereka masih menggugat di pengadilan, karena lahan mereka tidak terakomodasi dalam rencana pengembangan bandara,” kata Bupati Agustinus Ch Dula sebeleumnya di Kupang, Selasa  (12/6).

Kendati demikian, menurutnya, gugatan ini bagus untuk mendapatkan kepastian hukum kepemilikan lahan di sekitar bandara sehingga tidak menimbulkan persoalan di kemudian hari.

“Tinggal nanti kalau sudah ada keputusan hukum tetap maka langsung kami ajukan ke pemerintah pusat untuk diberi ganti ruginya,” katanya.

Menurut Dulla, pemerintah daerah terus mendorong dan memfasilitasi agar persoalan lahan tersebut segera dituntaskan. Pengembangan Bandara Komodo merupakan salah satu prioritas pemerintah pusat untuk mendukung hadirnya layanan penerbangan langsung internasional yang akan berdampak positif bagi sektor pariwisata.

Ia mengatakan, saat ini panjang landasan Bandara Komodo mencapai 2.250 meter dan pemerintah berencana menambah lagi 450 meter.

“Memang untuk sekarang pesawat besar sudah bisa mendarat di Bandara Komodo, tetapi landasan perlu diperpanjang untuk kebutuhan penerbangan internasional yang lebih memadai,” katanya.*