Sudah 59 Tahun, NTT Belum Memiliki Detail Tata Ruang

Sudah 59 Tahun, NTT Belum Memiliki Detail Tata Ruang

NTT sebagai sebuah wilayah administrasi provinsi sudah berusia 59 tahun, namun sampai saat ini belum memiliki detail tata ruang. (Foto: Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Andre W Koreh - ist)

KUPANG, dawainusa.com, Provinsi Nusa TenggaraTimur (NTT) sudah menjejaki usia yang ke-59 tahun. Namun, provinsi yang berdiri pada tanggal 20 Desember 1957 itu belum juga memiliki detail tata ruang.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Nusa Tenggara Timur Andre W Koreh, di Kupang, Jumat (29/12). Menurut Koreh, yang ada selama 59 tahun ini hanya sekadar rencana dan belum ada eksekusi.

“Kita baru punya rencana tata ruang wilayah provinsi tapi detail tata ruangnya belum dibuat hingga saat ini,” ujar Koreh, seperti dilansir antaranews.com, Jumat (29/12).

Baca juga: Pilgub NTT, DPC PDIP Sumbar Siap Menangkan MS-Noemleni

Koreh mengatakan, tidak adanya detail tata ruang tersebut, berdampak pada pembangunan di NTT yang tidak proporsional dan tidak merata di tiap-tiap kabupaten/kota.

Keterbatasan Fiskal (?)

Menurut Koreh, hal tersebut dipicu karena minimnya anggaran yang disiapkan untuk tata ruang. Minimnya anggaran tersebut berimbas pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) hanya sebatas wacana dan nihil implementasi.

“Meskipun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dan rencana strategisnya ada namun realisasinya masih kecil karena keterbatasan fiskal itu,” papar Koreh.

Baca juga: Kristo Blasin: Proses Penetapan Cagub/Cawagub NTT oleh PDIP Minus Nilai

Pembangunan embung dan pembangun jalan yang tidak terealisasi sesuai dengan target menjadi bukti nyata dari minimnya anggaran untuk tata ruang di provinsi termiskin ketiga di Indonesia tersebut.

Dari 30 embung yang ada dalam RPJMD realisasinya berada jauh di bawah angka tersebut. Demikian halnya dengan jalan. Dari 285 km per tahun yang terealisasi berkisar antara 40 sampai 50 km. Itu pun angka 40 sampai 50 km itu dibagi dengan 22 kabupaten/kota, sehingga setiap kabupaten/kota rata mendapat 1,5 sampai 2 km per tahun.

NTT: Nusa Tak Tertata?

Tidak adanya detail tata ruang di NTT berujung pada mudahnya orang mempelesetkan kepanjangan dari NTT. Bukan Nusa Tenggara Timur, barangkali menjadi “Nusa Tak Tertata”.

Plesetan ini menambah panjang plesetan-plesetan lain yang bernada sinis selama ini, seperti: “Nanti Tuhan Tolong”, “Nestapa Tiap Tahun”, “Nyolong Terus-Terus”, dll.

Barangkali jika diplesetkan menjadi “Nusa Tak Tertata” tidak perlu diributkan. Karena fakta menunjukkan hal tersebut. Pada November lalu, media ini melansir berita 15 kota cerdas di Indonesia yang terpilih dalam Kegiatan “Rating Kota Cerdas Indonesia (RKCI) 2017”, tidak ada satupun kota-kota di NTT.

Dilansir dari www.penataanruang.com, detail tata ruang tentu sangat penting karena tiga alasan berikut. Pertama mewujudkan keterpaduan pembangunan dalam wilayah provinsi. Kedua, mewujudkan keserasian pembangunan wilayah provinsi dengan wilayah sekitarnya dan ketiga, menjamin terwujudnya tata ruang wilayah provinsi yang berkualitas.* (RSF)