Sofisme di Era Digital, Siapa yang Mendikte Kebenaran?

Sofisme di Era Digital, Siapa yang Mendikte Kebenaran?

FOKUS, dawainusa.com Generasi milenial hidup di alam internet. Berkat demokrasi sejak era Reformasi (1998) dan situasi ekonomi yang relatif baik selama ini (1998-2018), generasi milenial bertumbuh dalam alam internet dengan segala keterbukaannya.

Demikian Dr. Setyo Wibowo mengawali perbincangannya seputar Sofisme di Era Google dan Faceebook dalam seminar bertajuk Gen Z, yang digelar Festival Teater Jakarta (FTJ) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Rabu (21/11).

Menurut Setyo, alam hidup generasi milenial sangat berbeda dengan generasi yang tumbuh di Orde Lama, yang mengalami kelaparan dan kelangkaan pangan. Berbeda juga dengan generasi yang tumbuh besar di Orde Baru, yang meski mengalami stabilitas ekonomi dan tidak pernah lapar, namun mengalami pemberangusan politik.

“Sejak saya lahir sampai saya usia 30 tahun, saya hanya mengenal satu presiden. Kalau 5 tahun sekali ada pemilu, berarti 6 kali pemilu Suharto dengan kendaraannya bernama Golkar menang terus,” ungkap Setyo.

Baca juga: FTJ 2018, Memanggil Pulang Gen Z untuk Kembali ke Rumah Seni

Dosen STF Driyarkara itu lantas mengajukan sejumlah pertanyaan penting, semisal: Akankah demokrasi kita langgeng, apakah kebebasan yang relatif kita nikmati saat ini bisa berlanjut? Apakah tingkat ekonomi yang memungkinkan kita berinternet dan mengakses dunia digital sekarang ini akan langgeng?

Ia menegaskan, kaum muda, kaum milenial memegang peranaan penting untuk mampu menggunakan dunia digital guna memelihara demokrasi dan kesejahteraan bersama.

Dalam konteks inilah menurut Setyo, Sofisme serta alogaritma internet yang licin, perlu didiskusikan serta mesti diwaspadai dengan baik. Karena menurutnya, di banyak negara, hal-hal tersebut memiliki potensi besar melemahkan demokrasi.

Sofisme di Era Digital, Siapa yang Mendikte Kebenaran

Dr. Setyo Wibowo – Dawainusa

Sofisme di Era Digital

Sofisme menjadi landasan analisis jebolan Doktor Filsafat Universitas Sorbonne itu soal Google dan Facebook. Sofisme berasal dari kata sophisma (Latin, yang mengambil dari sophisma Yunani) yang arti aslinya “temuan yang cerdik”.

Dari asal-usulnya, Sofisme terlekat dengan sejenis pengetahuan teknis (tekne), kecerdikan menyiasati hal teknis, mirip tukang bangunan saat saat berhadapan dengan kesulitan praktis.

Maknanya kemudian berkembang dari kebijaksanaan dan orang bijak (dari sophia dan sophos) menjadi akal-akalan, mengakali dalam arti menipu. Misalnya, dalam cara berargumentasi yang kelihatan canggih, namun sebenarnya keliru atau menyesatkan.

Menurut Setyo, Sofisme selalu dikaitkan dengan Retorika yang memberi nilai tinggi pada efektivitas bahasa. “Artinya, berbahasa itu bukan omong ngalor ngidul, atau bicara rumit tapi bikin puyeng,” ungkapnya.

Baca juga: 15 Group Teater Akan Meriahkan Festival Teater Jakarta 2018

Berbicara, demikian Setyo, mesti efektif. Hasil bicara bisa membujuk, mempersuasi dan menggerakan pendengarnya. Kepercayaan Sofisme pada efektivitas bahasa menurut Setyo, bahkan bisa menggandakan apa yang dalam pemahaman banyak orang ‘tidak ada’.

Di mata kaum Sofis, semua bersifat relatif. Yang terpenting adalah bagaimana wacana mempengaruhi pendengarnya. Efektivitas wacana tidak ditentukan oleh benar-tidaknya wacana, melainkan apakah wacana itu persuasif atau tidak.

Ada dua nama yang cukup akrab ketika kita bicara Sofisme; Parmenides dan Gorgias. Parmenides tidak menerima gagasan tentang kemenjadian (becoming), bahwa sesuatu dulu tidak ada dan sekarang ada.

Misalkan, bukankah di kandangku kemarin tidak ada anak ayam, tetapi hari ini ada banyak anak-anak ayam. Bagaimana menjelaskannya, bukankah kemenjadian itu riil di depan mata kita, kemarin tidak ada anak ayam, sekarang ada anak ayam?

Di mata Parmenides, demikian Setyo, anak ayam itu tidak muncul dari ketiadaan. Ia muncul dari telu yang ‘ada’, dan telur juga muncul dari ‘ayam yang ada’, dan seterusnya ayam dan telur serta telur dan ayam.

“Di mata parmenides, yang ‘tidak ada’ tidak bisa dipikirkan, maka membicarakan ‘anak ayam kemarin tidak ada dan sekarang ada’, adalah opini yang keliru. Baginya, ‘hari ini ada anak ayam’ dan ia berasal dari ‘telur yang kemarin juga ada’,” ungkap Setyo.

Gorgias, sebagai tokoh Sofis pengusung Retorika yang akan meradikalkan tesis-tesis Parmenides. Setyo menyodorkan beberapa tesis Gorgias. 1) Bila pikiran memang sama dengan ada itu sendiri, maka 2) pikiranlah yang mengadakan segala sesuatunya. Lantas apa itu realitas di lar diri kita? Adakah realitas di luar diri kita? Adakah ayam dan telur? 3) Jawabannya jelas: realitas di luar diri kita tidak ada, karena yang ada hanyalah pikiran kita yang mengadakan semua itu.

Gorgias meradikalkan sedemikian rupa tesis Parmenides sehingga ia menekankan supremasi pikiran manusia, dan menihilkan realitas. Dengan canggih ia menyatakan bahwa realitas itu sebenarnya ‘tidak ada’ karena, sekali lagi hanya pikiran kita yang mengadakannya.

“Secara sederhana, realitas itu tidak ada, yang ada hanyalah persepsi manusia. Lewat pesepsinya, ia mengadakan realitas, dan tidak ada hakim yang bisa mengatakan persepsi satu lebih benar dari persepsi lainnya karena tolok ukrnya (realitas) tidak ada,” kata Setyo.

Menurut Setyo, tesis Gorgias memunculkan kesimpulan yang lebih menakutkan lagi. Kalau persepsi adalah nomor satu, dan realitas sejatinya tidak ada dan tidak penting, maka untuk lebih meyakinkan bahwa persepsi-ku adalah yang paling benar, orang tinggal menciptakan ‘alternative facts‘.

“Tibalah di sini kita pada era di mana fakta itu ternyata hanya dianggap penting sejauh ia mendukung persepsi. Bukan sebaliknya. Kalau umumnya orang-orang baik berusaha mencari kebenaran dengan mendiskusikan berbagai persepsi dengan kembali ke fakta, maka sofisme menempatkan persepsi nomor satu,” katanya.

Dalam konteks persepsi yang menjadi dalil dasar Sofisme, Setyo Wibowo mengangakat contoh soal isu PKI yang dialamatkan kepada Presiden Jokowi. Isu tersebut kemudian digulirkan ke publik yang pada akhirnya membentuk persepsi publik bahwa Jokowi adalah kader PKI.

Dari kasus PKI, demikian Setyo, kubu sebelah telah membangun persepsi sejak kampanye pilpres 2014. “Tentu persepsi ini sangat menggelikan. Atau kala kita hendak serius sedikit, isu ini sangat jahat dan penyebarannya pantas dibawa ke pengadilan.

Setelah Jokowi menjadi Presiden, tidak ada tindak lanjut dari isu PKI ini. Saat Pilpres 2019, mendadak persepsi ini dibangun kemabali bahwa Jokowi adalah PKI,” kata Setyo.

Menurutnya, untuk meyakinkan publik bahwa persepsi itu benar, maka dibatlah ‘alternative facts’ atau fakta alternatif, sebuah foto di mana Jokowi muda tampak menghadiri pidato DN Aidit (pentolan PKI) di tahun 1955.

“Foto rekayasa ini tentu menggelikan. Namun, bagi kubu sebelah yang telah memeluk persepsi bahwa jokowi PKI, foto rekayasa itu menjadi fakta pendukung untuk memperkuat opininya,” ungkap Setyo.

Siapa yang Mendikte Kebenaran?

Ada hal yang menarik yang coba diangkat Setyo Wibowo di balik merajalelanya Sofisme. Menurutnya, persoalan utama saat Sofisme merajalela bukanlah bagaimana menemukan kebenaran. Persoalnnya bukan bagaimana meng-counter kebohongan kubu capres tertentu dengan memberikan alternatif kebenaran lainnya.

“Persoalan utama kita saat ini menurut Setyo adalah ‘Siapa yang memiliki kuasa mendiktekan kebenaran, siapa yang membuat kita semua saat ini seoalah-olah tidak peduli lagi pada kebenaran’,” kata Setyo.

Menurut Setyo, ada dua sumber yang membuat kita kehilangan nalar sehat dalam melihat segala hal saat ini. Pertama, Setyo merujuk pada studi di Amerika yang dilakukan Vaidhyanathan. Studi tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak orang Amerika percaya pada hasil serach di Google sebagai sumber kebenaran.

Baca juga: Sejumlah Hal yang Bikin Kubu Prabowo yakin Kalahkan Petahana

“Mereka tidak lagi peduli pada kanal-kanal resmi kebenaran (seperti koran cetak dengan ivestigasi yang sudah teruji, survei para ahli, pernyataan resmi pemerintah, atau lembaga ilmiah),” ungkapnya.

Bila info datangnya dari Google, demikian Setyo, apalagi dari info Google yang paling atas rankingnya, maka info itu dianggap lebih benar daripada semua pendapat lainnnya.

Kedua, dari Facebook, orang lebih memberi perhatian tentang News Feed di akun mereka bukan pada isi yang di-share, melainkan siapa yang nge-share berita tersebut.

Setyo mengatakan, dua koorporasi paling paling besar dan paling berpengaruh dalam mendiktekan kebenaran bagi pemakainya adalah Google dan Faceebook. Merekalah yang mendiktekan apa yang mesti kita baca dalam soal politik, pendidikan, kesehatan dan segala isu di dnia saat ini.

Sementara institusi-institusi tradisional seperti lembaga resmi agama, para pakar di berbagai lembaga penelitian, lembaga-lembaga demokratis, dengan chek-and-balance-nya yang puluhan dan ratusan tahun dibangun dan dipertahankan untuk langgengnya masyarakat yang plural dan toleran seakan sedang goyah dan krisis kepercayaan diri karena tidak diperhatikan lagi suaranya tentang kebenaran.

Google dan facebook adalah pemilik real power yang mendiktekan kebeanran saat ini,” ungkap Setyo.

Situasi ini menurut Setyo, memunculkan apa yang disebut sebagai Teknopolis: polis (kota/Negara) yang sepenuhnya didikte oleh penguasa-penguasa teknologi. Dalam waktu singkat, demikian Setyo, Google telah mencapai apa yang berabad-abad diupayakan oleh VOC untuk menguasai wilayah seluas nusantara.

“Dan hebatnya, Google melakukan penguasaa itu tanpa melakukan kekerasan apapun. justru orang-orang sedunia yang berbondong-bondong menyukainya karena merasa dibantu,” kata Setyo.

Setyo berpendapat, dalam teknopolis, teknologi menjadi ‘ilah’ baru yang disembah. Segala hal yang valid, kalau via teknologi; hanya teknologi yang bisa memenuhi dengan puas segala kebutuhan kita; dan akhirnya kita melakukan semua apa yang diperintahkan atau diminta teknologi.

Menurutnya, kita memasuki era disruption: lembaga lama, agama lama, tradisi lama, kebiasaan lama, tatanana lama dianggap layak dibuang karena tidak sesuai lagi dengan teknologi. Belajar tidak lagi soal proses kita masuk dalam masalah, tinggal di dalamnya dan berdeliberasi, melainkan sekedar searching, copying dan pasting.

Di sisi lain, agama menjadi oversimplified, portable dan menjadi kendaraan berbagai macam emosi dan ego identitas. pada akhirnya, tiap pribadi manusia tinggal menjadi angka, bisa dihitung datanya, tak bisa mengelak dari pantauan mesin karena teknopolis tidak memberi alternatif.

“Satu-satunya alternatif hanyalah teknologi, taklid buta padanya, percaya padanya sebagai penyelamat manusia,” kata Setyo.* (Andy Tandang)

COMMENTS