Soal Penanganan Covid-19, Pemerintah Diminta Utamakan Vaksinasi di Daerah Bermobilitas Tinggi

Pemerintah diminta untuk utamakan pemberian suntikan vaksin bagi warga yang tinggal di daerah bermobilitas tinggi

Soal Penanganan Covid-19, Pemerintah Diminta Utamakan Vaksinasi di Daerah Bermobilitas Tinggi
Ilustrasi - ist

JAKARTA, dawainusa.com – Dalam rangka segera mengatasi Pandemi Covid-19, pemerintah diminta untuk utamakan pemberian suntikan vaksin bagi warga yang tinggal di daerah bermobilitas tinggi.

Permintaan itu disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI Ace Hasan Syadzily lewat keterangan tertulisnya pada Selasa (3/8).

Baca juga: Kasus Covid-19 Naik, Pemerintah Pusat Diminta Kirimkan Tambahan Vaksin ke NTT

“Kami mendorong pemerintah untuk menggencarkan program vaksinasi bagi semua lapisan masyarakat terutama di Daerah yang tingkat mobilitas penduduknya sangat tinggi,” kat Ace.

Selain itu, Ace juga meminta kepada pemerintah agar memperketat mobilitas masyarakat serta mempertegas disiplin protokol kesehatan dan juga harus menggecarkan upaya testing, tracking dan treatment. Dengan demikian, persebaran Covid-19 mudah dideteksi.

Jumlah Vaksin Covid-19 yang Sudah Didistribusikan dan Syarat Penerimaan Vaksin

Adapun berdasarkan keterangan Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dr Siti Nadia Tarmizi pada Selasa (3/8), pemerintah telah mendistribusikan 86.253.981 dosis vaksin, dan 67.884.947 dosis telah digunakan di 34 provinsi.

Untuk menerima vaksin tersebut, setia warga juga haru memenuhi sejumlah syarat. Sejumlah syarat itu ialah sebagai berikut.

Baca juga: Jubir Vaksinasi: 90% Pasien yang Sudah Divaksin Sembuh dari Covid-19

Pertama, tidak terkonfirmasi covid-19. Jika pernah positif corona, sudah sembuh minimal tiga bulan sejak terkonfirmasi. Kedua, berusia di atas 18 tahun. Sementara masyarakat lansia sudah bisa mendapat vaksin covid-19. Ketiga, tekanan darah di bawah 180/110 mmHg.

Keempat, bagi ibu hamil, vaksinasi ditunda sampai melahirkan. Sementara ibu menyusui boleh divaksinasi. Kelima, jika memiliki riwayat alergi berat seperti sesak napas, bengkak, dan urtikaria seluruh badan atau reaksi berat lainnya karena vaksin, maka vaksinasi diberikan di rumah sakit.

Keenam, jika memiliki riwayat alergi berat atau mengalami gejala sesak napas, bengkak, dan urtikaria seluruh badan setelah divaksinasi covid-19 sebelumnya, maka tidak diberikan lagi untuk vaksinasi dosis kedua.

Ketujuh, orang yang mengidap penyakit kronik (seperti penyakit paru obstrujtif kronis dan asma, penyakit jantung, gangguan ginjal, dan penyakit hati atau liver) yang sedang dalam kondisi akut atau yang belum terkendali maka vaksinasi tidak dapat diberikan.

Kedelapan, apabila dalam pengobatan TBC lebih dari dua minggu, maka vaksinasi dapat diberikan. Kesembilan, jika menyandang dan sedang mendapat pengobatan penyakit kanker, maka vaksinasi tidak dapat diberikan, kecuali ada surat rekomendasi dari dokter yang merawat.

Kesepuluh, apabila sedang mendapat pengobatan gangguan pembekuan darah, defisiensi imun, dan penerima produk darah atau transfuse, maka vaksinasi ditunda dan dirujuk.

Kesebelas, bagi penderita penyakit autoimun sistemik, maka vaksinasi ditunda dan dikonsultasikan kepada dokter yang merawat. Kedua belas, pemilik riwayat penyakit epilepsi, vaksinasi dapat diberikan jika dalam keadaan terkontrol.

Ketiga belas, jika menyandang penyakit diabetes melitus yang minum obat teratur, vaksinasi dapat diberikan. Keempat belas, untuk orang dengan HIV yang minum obat teratur, vaksinasi dapat diberikan.

Kelima belas, bila mendapat vaksinasi lain selain vaksin covid-19 kurang dari satu bulan erakhir, maka vaksinasi ditunda sampai satu bulan setelah vaksinasi sebelumnya.*