Soal Keyakinan Zuckerberg dan Intervensi Pemilu dalam Facebook

Soal Keyakinan Zuckerberg dan Intervensi Pemilu dalam Facebook

NEW YORK, dawainusa.com – Mark Zuckerberg, CEO Facebook, mengatakan bahwa Facebook sudah siap menghadapi pemilhan umum. Persiapan ini terkait dengan intervensi politik yang menggunakan platform tersebut untuk kepentingan propaganda.

Melansir Antara, Zuck mengakui bahwa persiapan Facebook pada tahun 2016 berisi hal teknis seperti antisipasi serangan siber dan peretas. Facebook saat itu tidak mengantisipasi adanya diseminasi informasi yang menyesatkan.

“Hari ini, Facebook lebih siap untuk serangan seperti ini. Kami telah mengidentifikasi dan menghapus akun palsu sebelum pemilu di Prancis, Jerman, Alabama, Meksiko dan Brazil,” tutur Zuckerberg melalui Facebook dalam unggahannya Rabu (12/9).

Baca juga: Debat dengan Bahasa Inggris, TKN Jokowi Usul Lomba Ngaji dan Salat

Untuk memastikan jalannya pengawasan tersebut, Facebook bekerja sama dengan negara-negara untuk memperbaiki sistem keamaan pemilu. Selain itu, Facebook juga memperketat tingkat keamanan dan transparansi untuk iklan.

Terkait niat ini, mantan petinggi Facebook, Alex Stamos, menyatakan bahwa antisipasi Facebook terbilang terlambat. Presiden Donald Trump bahkan sudah merilis hal-hal apa saja yang tergolong intervensi asing dalam pemilu di AS.

Intervensi tersebut termasuk akses tidak resmi terhadap infrastruktur pemilu dan kampanye atau diseminasi propaganda dan disinformasi secara terselubung. Bagi Pemerintahan Trump akses tidak resmi tersebut tergolong sebagai ancaman keamanan nasional.

Facebook Akan Diperbaiki Sampai 2019

Zuckerberg mengakui bahwa tantangan terberat dalam hidupnya adalah memperbaiki Facebook. Intervensi pemilu yang dilakukan peretas melalui platform tersebut adalah hal yang menyulitkan perusahaannya.

Zuckerberg mengakui, penyelesaian persoalan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. Baginya, hal yang paling penting adalah menemukan konten berbahaya secara proaktif, tanpa menunggu laporan pengguna Facebook terlebih dahulu.

Baca juga: Soal Avengers dan Jokowi yang Meniru Narasi Milenial Sandi

Sekalipun berat, Zuckerberg menargetkan agar persoalan ini dapat diselesaikannya dalam waktu 3 tahun. Namun, bukan berarti usaha Facebook belum berjalan sama sekali. Usaha ini sudah dimulai sejak 2017 dan akan ada progress yang lebih baik di tahun 2019 nanti.

Dalam penanganan persoalan ini, Zuckerberg mengakui, platform ini ibarat pedang bermata dua. Ia bisa dilakukan untuk tujuan kemanusiaan, namun dapat pula digunakan untuk hal-hal yang negatif. Oleh karena itu, keputusan apapun yang ia ambil akan memunculkan harga yang mahal.

Misalkan, pembuatan enkripsi memang dapat meningkatkan keamanan. Namun, di sisi lain, hal itu dapat menyulitkan mereka untuk melawan misinformasi dalam skala yang besar. Jadi, hal yang tepenting menurutnya adalah bagaimana menghasilkan kebijakan sistem yang tepat.

Zuckerberg mengakui, hal ini sedang digarap perusahaannya dengan sangat serius. Mereka telah terlibat dalam konsultasi dengan para ahli untuk mengetahui sudut pandang mereka dalam melihat persoalan ini.

Kedepan, ia akan menulis kebijakan-kebijakan yang dilakukan Facebook untuk memerangi kejahatan politik di alat digital tersebut. Hal yang paling krusial adalah mencegah intervensi kelompok kejahatan terhadap pemilu melalui platformnya.

Tahun ini akan ada pemilu lokal di Amerika Serikat dan pemilu presiden di Brazil. Hal yang sama juga akan terjadi di Indonesia di tahun 2019 yang akan datang. Persoalan yang terkait dengan keamanan dan privasi dalam dunia digital menjadi sesuatu yang krusial dalam kontestasi demokrasi ini.

Melansir Antara, 26 persen pengguna Facebook di Amerika Serikat mengatakan bahwa mereka sudah menghapus aplikasi tersebut di ponsel mereka selama satu tahun terakhir. Survei yang dilakukan Pew Research Center juga menemukan hal yang menarik.

42 persen responden mengatakan bahwa mereka sudah tidak lagi mengakses Facebook selama beberapa minggu atau lebih. Selain itu, 54 persen mengatakan bahwa mereka sudah melakukan pengaturan privasi dalam satu tahun terakhir.

Respon netizen yang terjadi secara global ini menunjukkan bahwa Facebook bukan lagi tempat yang aman. Perusahaan yang menggunakan platform ini tidak mengindahkan privasi pengguna, sebagaimana yang ditunjukkan dalam kasus Cambridge Analytica.

Akankah perubahan yang dilakukan Facebook nanti dapat menjawab tantangan digital tersebut?*