Soal Kampung Adat Gurusina, Asita Harapkan Bantuan BUMN

Soal Kampung Adat Gurusina, Asita Harapkan Bantuan BUMN

KUPANG, dawainusa.com – Pihak Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) berharap agar pihak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) segera memberikan bantuan untuk pembangunan kembali Kampung Adat Gurusina, Kabupaten Ngada yang terbakar beberapa waktu lalu.

Kepala Asita Abed Frans mengatakan, pihak BUMN dapat memberikan bantuannya tersebut melalui tanggungjawab sosial perusahaan atau yang biasa disebut sebagai Corporate Social Responsibility (CSR).

“Kami berharap semoga ada beberapa BUMN yang peduli terhadap pelestarian peninggalan budaya di Gurusina yang sangat berharga,” ujar Abed Frans di Kupang, Rabu (29/8).

Baca juga: Intip 10 Tempat Wisata Populer di Nagekeo, Flores, NTT

Kampung Adat Gurusina, demikian Frans, memang tidak sepopuler dengan Kampung Adat Wae Rebo yang terletak di daerah Manggarai. Akan tetapi, kampung ini juga merupakan salah sati kampung yang memiliki jejak peradaban masyarakat tradisional.

Selama ini, terang dia, kampung tersebut sudah menjadi salah satu aset wisata tradisional NTT dan sudah banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

“Teman-teman operator tur yang banyak memiliki market dari luar seperti Eropa dan Amerika, kebanyakan ada paket-paket budaya ke desa-desa adat termasuk Gurusina,” kata dia.

Dengan mengingat hal tersebut, ia berharap agar kampung ini dapat dibangun kembali dan karena itu bantuan dari pihak BUMN menjadi sangat diharapkan.

“Tentunya untuk membangun kembali tidak menggunakan bahan-bahan seperti beton dan lainnya namun tetap dengan bahan-bahan tradisional dari alam seperti sedia kalanya,” tutur Frans.

Kemensos Akan Salurkan Bantuan untuk Kampung Adat Gurusina

Rencana pembangunan kembali Kampung Adat Gurusina ini memang sudah mendapat tanggapan dari pihak pemerintah pusat, yakni dari pihak Kementerian Sosial (Kemensos).

Mereka diketahui akan segera memberikan bantuan berupa uang senilai Rp25 juta per rumah untuk pembangunan setiap rumah yang terbakar di kampung tersebut.

Informasi tersebut disampaikan langsung oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT Marianus Ardu Jelamu di Kupang, Selasa (21/8).

“Kementerian Sosial sudah menjanjikan untuk segera membantu Rp25 juta per rumah bagi warga di Kampung Gurusina yang rumahnya terbakar,” terang Jelamu.

Baca juga: Kaya Potensi Pariwisata, DPRD NTT Minta Dukungan Pemerintah Pusat

Bantuan dari Kementerian Sosial tersebut, demikian Jeramu, akan diprioritaskan untuk pembangunan rumah yang mengalami kerusakan berat dan akan disalurkan secara langsung ke dalam rekening setiap warga yang terdampak kebakaran.

“Untuk sementara sentuhan bantuannya itu sesuai kriteria kerusakan berat, nantinya pihak kementerian akan menyalurkannya ke rekening warga yang terdampak,” jelas Jeramu.

Sebelumnya, pihak dari Dinas Pariwisata NTT sendiri bersama sejumlah pihak lainnya, yakni Direktur Bencana Alam Kementerian Sosial, Dinas Kebudayaan dan Dinas Sosial tingkat provinsi telah melakukan pengamatan langsung di lokasi kejadian.

Dalam pengamatan itu, terang Jelamu, mereka telah meninjau segala bentuk dampak dari kebakaran yang menimpa Kampung Adat Gurusina di Kecamatan Jerebu’u tersebut dan juga telah berhasil mencatat sejumlah kerugian yang terjadi.

Segala bentuk kerusakan yang terjadi dalam peristiwa tersebut juga, terang Jelamu, sudah disampaikan secara rinci kepada pihak Kementerian Pariwisata.

Karena itu, selain mengharapkan bantuan dari Kementerian Sosial, bantuan juga diharapkan akan datang dari pihak Kementerian Pariwisata sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.

“Selain itu kami juga sangat berharap ada bantuan CSR dari BUMN karena dampak kerugian ini cukup besar,” kata Jeramu.

Butuh Dana Rp200 juta untuk Satu Rumah Adat

Bantuan dari sejumlah pihak tersebut memang sangat diharapkan. Sebab, untuk pembangunan kembali satu rumah adat yang hangus terbakar itu, dibutuhkan dana yang cukup besar.

Jeramu mengatakan, setelah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Ngada, untuk pembangunan kembali satu rumah adat tersebut, dibutuhkan biaya mencapai Rp200 juta.

Dana tersebut, terang dia, akan dipakai tidak hanya untuk pengadaan material bangunan seperti alang-alang, kayu, dan bambu. Tetapi juga untuk mendanai hal-hal lainnya seperti soal ritual adat yang akan dilakukan selama proses pembangunan rumah adat tersebut.

Baca juga: Soal Penataan Kapal Wisata di Labuan Bajo, Pemerintah Terbitkan Perda

“Ada banyak varian yang dilakukan dalam membangun kampung adat dari ritual adat yang bisa saja harus mengumpulkan banyak pihak, ada penyembelihan hewan, dan pengadaan lainnya. Belum lagi ada barang-barang sakral yang ikut hangus terbakar,” ujar Jeramu.

Karena itu, kerja sama dan bantuan sejumlah pihak terkait hal ini menjadi sangat dibutuhkan. “Jadi memang ini harus dibangun bersama-sama, terlebih saya mengajak BUMN dengan dukungan CSR-nya agar kampung adat Gurusina ini bisa secepatanya dibangun kembali sebagai bagian dari kekayaan wisata Indonesia,” ujar dia.*