Soal Kampanye Terbuka, Ini Pesan Wakil Ketua MPR Mahyudin

Soal Kampanye Terbuka, Ini Pesan Wakil Ketua MPR Mahyudin

Dawainusa.com – Wakil Ketua MPR RI Mahyudin meminta kepada konstestan pemilu untuk tidak menggunakan isu SARA dalam berkampanye.

Mengingat, isu SARA hanya akan membuat bangsa Indonesia terpececah belah. Hal ini ia sampaikan setelah kampanye terbuka dimulai hari ini.

Menurutnya, kedua kubu di pemilu 2019 memiliki peran mendidik masyarakat dengan politik yang sehat. Hal ini dilakukan dengan cara memaparkan gagasan yang sifatnya membangun kepada masyarakat. Bukan sebaliknya, menggunakan cara-cara yang kurang santun.

“Semua harus memberikan pembelajaran politik yang baik dan cerdas kepada masyarakat, supaya masyarakat kita menjadi lebih luas wawasannya dan lebih cerdas dalam berkehidupan berpolitik, berbangsa dan bernegara,” kata Mahyudin di Jakarta, Minggu(24/3/2019).

BacaSiti Zuhro: Keberadaan DPD Telah Menyimpang dari Tujuan Awal

Diketahui, jadwal kampanye terbuka sudah dimulai hari ini dan berakhir jelang masa tenang. Para konstentan pemilu memulai kampanye sesuai dengan jadwal masing-masing. Adapun pembagian zona kampanye telah ditentuka oleh KPU RI.

Pancasila dan Pilar Kebangsaan Mesti Diperkuat

Mahyudin melanjutkan, semua warga berkewajiban untuk memperkuat Pancasila dan pilar kebangsaan. Sebab, pancasila menjadi kunci persatuan Indonesia. Tanpa pancasila, persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia akan terganggu.

MPR RI, jelas Mahyudin, secara rutin melakukan sosialisasi terhadap Pancasila dan pilar-pilar kebangsaan. Ini merupakan program rutin dari MPR secara kelembagaan. Program ini juga telah diatur dalam UU MD3 No. 17 tahun 2014.

BacaAHY: Tenaga Honorer Kurang Diperhatikan Selama Masa Jokowi

“Sosialisasi ini untuk seluruh masyarakat Indonesia”.Sosialisasi tidak hanya sebatas di perkotaan saja, tapi sampai masuk ke pelosok-pelosok daerah hingga kecamatan dan desa,”jelasnya.

Ia menegaskan, politik Indonesia masih diwarnai dengan cara-cara yang kurang baik. Ini disebabkan karena pemahaman akan nilai pancasila yang masih minim. Elit politik juga cenderung mencari jalan pintas untuk menang dalam politik.

Kondisi seperti ini, demikian Mahyudin, tidak boleh dipertahankan. Untuk mengubah kondisi ini, bangsa Indonesia mesti melihat kembali nilai luhur dalam Pancasila. Ia menambahkan,UUD dan prinsip Bhineka Tunggal Ika juga mesti menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara menanamkan nilai-nilai pancasila dalam berpolitik di tengah masyarakat. Masyarakat perlu diberikan pemahaman yang benar tentang pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI.

Kedepan, pihaknya akan tetap melanjutkan program sosialisasi agar masyarakat tidak mudah terjebak dengan isu-isu yang memecah belah bangsa.

Ini juga menjadi komitmen dari MPR secara kelembagaan selama lima tahun ke depan. Penerimaan masyarakat terhadap program sosialisasi empat pilar sangat tinggi. Masyarakat diharapkan untuk berpartisipasi dalam menyukseskan program seperti ini.

BacaBawaslu Segera Bentuk Tim Patroli Awasi Masa Tenang

Empat Pilar jadi Sumber Inspirasi

MPR berharap, pancasila dan pilar-pilar kebangsaan lainnya menjadi sumber inspirasi. Tidak hanya bagi masyarakat bawah, tetapi juga bagi elit-elit politik. Elit politik menjadi orang terdepan memberi contoh kepada semua lapisan masyarakat.

Hal ini penting karena bangsa Indonesia tengah menghadapi tahun politik. Konstentan pemilu berupaya dengan segala cara untuk meraih simpati masyarakat. Dengan adanya pancasila, menjadi penangkal terhadap hal-hal yang ingin mengadu-domba masyarakat.

Selain itu, kostentan pemilu perlu memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Masyarakat mesti diberikan contoh program pro rakyat saat berkampanye. Cara-cara kampanye seperti sudah ada dalam pilar -pilar kebangsaan.

“Harapan kami nilai-nilai dalam Empat Pilar yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, bisa meresap dan merasuk di setiap jiwa masyarakat Indonesia serta bisa menjadi perilaku kita dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.*

COMMENTS