Soal Aksi Bentak, Anggota DPRD Sebut Viktor Laiskodat Seperti Preman

Soal Aksi Bentak, Anggota DPRD Sebut Viktor Laiskodat Seperti Preman

KUPANG, dawainusa.com – Aksi bentak yang dilakukan oleh Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat terhadap Anggota DPRD NTT Noviyanto Umbu Pati Lende dalam sidang Paripurna dengan agenda Pengantar Nota Keuangan atas Rancangan Perubahan APBD pada Senin (17/9) kemarin mendapat tanggapan dari sejumlah pihak.

Salah satu pihak yang menanggapi aksi Laiskodat tersebut ialah Anggota DPRD NTT dari Daerah Pemilihan Manggarai bernama Johanis Rumat. Ia mengatakan, apa yang ditunjukan oleh Gubernur NTT lewat aksinya itu patut disesalkan. Bahkan ia dengan berani mengatakan bahwa apa yang dipertontonkan oleh Laiskodat itu sama seperti gaya seorang preman.

Padahal, jelas dia, keberadaan para anggota dewan di dalam sidang tersebut ialah sebagai mitra dari pemerintah. DPR, kata Johanis, ialah sebuah lembaga rakyat, yakni kepentingan-kepentingan rakyat diwakilkan melalui lembaga tersebut.

Baca juga: Karena Ini, Viktor Laiskodat Naik Pitam dan Bentak Anggota DPRD

“Dengan eksekutif kita kan bermitra. Ini lembaga rakyat. Kami-kami yang duduk di lembaga dewan adalah wakil dari jutaan rakyat NTT. Sedangkan gubernur hanya satu orang saja yang juga punya mekanisme jika melaksanakan rapat. Dalam sidang dewan kami punya mekanisme baku,” kata Johanis dilansir CITRANEWS, Selasa (18/9).

“Sehingga dalam rapat bersama eksekutif hargailah mekanisme itu. Bukan paksa berbicara lalu dengan gesture tubuh yang agak-agak premanisme begitu,” lanjut Johanis.

Terkait dengan gaya preman dari aksi Laiskodat tersebut, Johanis menjelaskan demikian, “Dari gesture tubuh awal mau bicara itu, pak Gubernur Viktor seperti menarik mikrofon. Lalu omong KAU…KAU…Sampai-sampai pak Ketua DPR (Anwar Puageno) memegang lengan pak Gubernur. Semua kita lihat koq. Inikan tidak etis. Apalagi berbicara sebelum pimpinan sidang belum memberi kesempatan,” kata dia.

Hal senada juga disampaikan oleh Anggota DPRD lainnya yang bernama Jefry Banunaek. Sependapat dengan Johanis, ia juga menilai bahwa gaya yang ditampilkan oleh Viktor Laiskodat di dalam sidang paripurna tersebut lebih terlihat seperti seorang preman yang tidak paham terhadap etika.

“Saya sering nonton di televisi bagaimana suasana sidang dewan dengan eksekutif. Tapi tidak ada kejadian seperti sidang dewan kita hari ini. Kita ini bermitra untuk membangun NTT. Kalau bermitra sudah tentu harus menjunjung etika. Bukan menunjukkan etika yang menjurus pada premanisme. Iya, ekspresi dan gesture tubuh yang mengancam,” Jefry Banunaek.

Soal Aksi Bentak Viktor Laiskodat

Seperti diberitakan sebelumnya, Gubernur Viktor Laiskodat membentak Anggota DPRD Noviyanto Umbu Pati Lende dalam rapat paripurna itu dengan alasan karena ia melakukan interupsi sementara sidang berlangsung.

Adapun ketika membentak anggota dewan tersebut, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno selaku pimpinan sidang dan Wakil Gubernur NTT Josef Nae Soi berusaha mencairkan suasana dengan cara meredam aksi Gubernur NTT itu.

Sementara itu, kepada Dawai Nusa pada Senin (17/9), Noviyanto sendiri telah memberikan klarifikasi soal maksud dirinya melakukan interupsi di dalam sidang tersebut. Ia mengatakan, saat itu ia hendak mengajukan sejumlah hal terkait masalah yang dibahas di dalam agenda sidang.

Pertama, dirinya mempertanyakan mengapa anggota yang tanda tangan daftar hadir sudah korum tetapi paripurna belum dimulai. Karena itu ia memohon penjelasan dari pimpinan sidang.

Kedua, Noviyanto mempertanyakan dan memohon penjelasan pimpinan sidang, kenapa dokumen paripurna yang sudah ada di meja dewan ditarik kembali dengan alasan tidak lengkap.

Baca juga: Bentak Anggota DPRD, Viktor Laiskodat Dinilai Rendahkan Martabat DPR

Ketiga, Noviyanto melihat ada pihak lain yang di luar sistem melakukan pembicaraan serius dan melakukan lobi dengan Sekda Provinsi NTT. “Semoga ini tidak menjadi titik awal ada pihak lain yang di luar sistem mengintervensi proses di lembaga ini,” tegasnya.

Pernyataan ini rupanya membuat Laiskodat naik pitam dan langsung membentak Noviyanto. “Pada poin ini Gubernur NTT langsung bentak saya dengan kata ‘kau diam jangan kritik pemerintah dan gubernur’,” ungkapnya.

Dirinya mengaku kaget dengan peristiwa tersebut. Namun, pimpinan sidang meredam Gubernur mempersilakan Noviyanto menyampaikan poin keempat.

Keempat, Noviyanto mengapresiasi atas kehadiran ASN yang begitu banyak dalam paripurna. “Gubernur dan Wakil Gubernur NTT telah mengembalikan marwah dan kehormatan lembaga rakyat NTT ini, dimana pada forum-forum sebelumnya tingkat kehadiran ASN rendah.

“Empat poin ini normatif saya sampaikan dengan cara intonasi kalimat yang sopan dan tidak ada keinginan menyerang Gubernur NTT,” ujar dia.*