Soal Air Minum, dari Sebut Kades Bere Bohong hingga Dugaan Korupsi

Soal Air Minum, dari Sebut Kades Bere Bohong hingga Dugaan Korupsi

FOKUS, dawainusa.com – Pernyataan Kepala Desa (Kades) Bere, Cibal Barat, Manggarai, NTT, Ignasius Beon yang menyebut bahwa warga Kampung Nanga tidak pernah mengusulkan pengadaan air minum bersih di forum desa dinilai tidak benar alias bohong.

Dalam keterangan yang disampaikan kepada Dawainusa.com pada Sabtu (22/12), Ketua RT Nanga, Angelus Barus menjelaskan bahwa setiap kali diundang dan menghadiri rapat atau musyawarah desa, pihaknya selalu menyampaikan persoalan air minum bersih ini kepada pemerintah desa.

“Apa yang disampaikan oleh Pak Ignasius Beon (Kades Bere) itu bohong. Dalam setiap rapat di desa, kami selalu usulkan pengadaan air minum bersih untuk Kampung Nanga,” jelas Angelus Barus di Nanga.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh tokoh masyarakat dari Kampung Nanga, Yosep Ngebos. Ia menyampaikan bahwa tanggapan dari Kades Bere itu sangat mengada-ada.

Bahkan ketika mendengar pernyataan dari Kades Bere tersebut, Yosep Ngebos mengaku sangat marah, karena apa yang disampaikannya itu sama sekali tidak benar.

“Terus terang, saya marah dengan pernyataan dari Pak Ignasius Beon ini. Mungkin kalau dia keluarkan pernyataan begini pada saat rapat desa, saya pasti orang pertama yang akan menantangnya,” kata Yosep Ngebos dengan nada yang tegas.

Baca juga: Keluhan Warga Kampung Nanga Soal Air Minum Bersih

“Seperti yang telah disampaikan oleh Pak Angelus (Ketua RT), setiap kali kami diundang untuk menghadiri rapat di desa, kami selalu mengajukan permohonan untuk pengadaan air minum bersih di Kampung Nanga,” lanjut dia.

Sementara itu, tokoh pendidikan dari Kampung Nanga, Kosmas Jehamur juga menyatakan hal yang sama. Ia menjelaskan bahwa dalam setiap rapat desa, dirinya selalu membicarakan persoalan air minum bersih untuk Kampung Nanga.

“Saya pernah mengusulkan agar di beberapa titik yang letaknya di ketinggian mesti dibangun bak penampung air, misalnya dengan membeli tandon. Itu dilakukan agar air yang ada bisa ditampung dan kemudian dengan mudah disalurkan ke berbagai kampung yang ada, termasuk Kampung Nanga,” jelas Kosmas Jehamur.

“Saya juga pernah usul di rapat desa, kalau memang debit air yang ada sekarang berkurang, apa salahnya kita melakukan cara yang lebih modern, yakni undang ahli dan bor air di titik-titik yang ada air di dalam tanahnya,” kata Kosmas Jehamur.

Terkait usulan untuk melakukan bor air ini, Kosmas Jehamur menerangkan bahwa hal itu sebenarnya tidaklah sulit. “Pak Servas Lawang pernah menceritakan kepada kami soal cara bor air ini. Itu sangat mudah, dan tidak memakan biaya yang mahal. Apalagi kan sekarang ada dana desa. Jadi tidak sulit sebenarnya,” ungkap dia.

Tanggapan yang disampaikan oleh Ignasius Beon ini, bagi warga Kampung Nanga, mengindikasikan bahwa dirinya tidak memiliki kemauan apalagi komitmen untuk membangun desa, secara khusus bagi Kampung Nanga.

Tokoh adat Kampung Nanga lainnya, yakni Kanisius Buja bahkan menerangkan bahwa pembangunan yang terjadi di Desa Bere selama ini sangat politis. Ia mengatakan, dalam hal pembangunan, masyarakat Kampung Nanga tidak pernah diprioritaskan.

“Pembangunan di sini (Desa Bere) tidak pernah merata. Semuanya tergantung pada pilihan politik saat Pilkades beberapa tahun lalu. Siapa yang mendukung beliau (Kepala Desa Bere) pada saat Pilkades, mereka-lah yang paling banyak diperhatikan dalam hal pembangunan,” jelas Kanisius Buja.

Keluhan Warga Kampung Nanga, Desa Bere Soal Air Minum Bersih

Anak-anak di Kampung Nanga mandi dan minum air keruh di Sungai Wae Racang – Dawainusa

Soal Debit Air

Sebagaimana dalam berita yang diturunkan oleh Dawainusa.com sebelumnya, Kades Bere, Ignasius Bon juga berdalil bahwa salah satu alasan kenapa Warga Kampung Nanga tidak dapat menikmati air minum bersih ialah karena debit air yang ada sangat berkurang.

“Mata air kami debitnya kurang, makanya pembangunan air bersih kami fokus di Golo Koe. Nanti kami ukur lagi kekuatan air, baru bisa sambung ke Nanga, ” kata Beon.

Meski tidak dijelaskan kekuatan debit air untuk dialirkan ke Kampung Nanga, Ia mengaku tidak akan membuka jaringan air minum ke Kampung Nanga supaya tidak sia-sia. “Percuma nanti kita buka jaringan pipa ke Nanga kalau kondisi debit air kita kurang. Kita pasang pipa tapi air tidak jalan, kan sia-sia, ” jelas Beon.

Dawainusa.com kemudian menggali informasi dari warga di Kampung Nanga terkait debit air ini. Warga Kampung Nanga menegaskan bahwa dalil yang disampaikan oleh Kepala Desa Bere ini sangat tidak masuk akal.

Ada beberapa alasan yang diajukan oleh warga Kampung Nanga untuk memperkuat pernyataannya tersebut. Pertama, secara topografis, letak Kampung Nanga berada di dataran yang sangat rendah, sementara sumber air yang dimanfaatkan oleh kampung selain Kampung Nanga di Desa Bere selama ini berada di dataran yang lebih tinggi.

Baca juga: Warga Minum Air Kali, Kades Bere: Tak Pernah Ada Usulan Pembangunan Air Bersih

“Soal debit air, Wae Ngeluk mempunyai debit air yang sangat besar. Masalahnya sekarang ialah bagaimana pemerintah desa sendiri mau mengelolah sumber air tersebut, dan soal pengadaan jaringan ke Kampung Nanga,” jelas warga Kampung Nanga.

Pihak Dawainusa.com sendiri memang belum melihat secara langsung  mata air yang disebutkan itu. Akan tetapi, dari pengakuan warga Kampung Nanga, letak “Wae Ngeluk” itu sendiri berada di tempat yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan letak Kampung Nanga.

Selain itu, dari berbagai informasi yang dihimpun, ternyata sumber air bersih di Desa Bere tidak hanya berasal dari “Wae Ngeluk”. Ada juga sumber air lainnya yang sangat besar, yakni “Wae Lindi” yang terletak di dekat Kampung Cipi.

Air yang ada di “Wae Lindi” ini disalurkan ke empat kampung besar, yakni Kampung Cipi, Kampung Golo Koe, Kampung Roho, Kampung Golo Munde. Anehnya, kalau dilihat dari kondisi topografis, letak keempat Kampung yang dialiri air dari “Wae Lindi” tersebut berada di ketinggian.

Alasan kedua ialah terkait dengan usulan yang pernah disampaikan oleh Kosmas Jehamur dalam rapat desa soal bor air. Warga Kampung Nanga mengatakan bahwa kalau memang mata air yang ada sekarang tidak dimungkinkan untuk disalurkan ke Kampung Nanga;

“Kenapa Pemerintah Desa tidak pernah berinisiatif melakukan cara-cara yang lebih modern seperti bor air untuk menambah debit air tersebut? Apalagi banyak titik di wilayah Desa Bere yang potensi kandungan air di dalam tanahnya sangat melimpah.”

Terkait dengan ini, Yosep Ngebos kemudian menilai bahwa alasan yang disampaikan oleh Kades Bere tersebut sama sekali tidak berbobot, tidak argumentatif, dan tidak sesuai dengan fakta.

“Kalau dia (Kades Bere) mengatakan begitu, lalu kenapa air yang dari mata air itu (Wae Lindi) bisa mengalir ke Kampung Munde? Padahal kalau dilihat dari keadaannya, Kampung Munde ini berada sangat jauh dari sumber air yang ada dan letaknya berada di ketinggian,” terang dia.

Bak Air yang berada di Kampung Akel, Desa Bere

Bak Air yang berada di Kampung Akel, Desa Bere. Sumber airnya berasa dari “Wae Ngeluk”. Sampai saat ini, volume airnya melimpah bahkan banyak yang dibuang begitu saja – Dawainusa

Pengerjaan Jaringan Air Tidak Melalui Musyawarah Desa

Dawainusa.com lebih lanjut menelusuri soal berbagai program pengadaan air minum bersih yang pernah ada di Desa Bere selama ini. Dari keterangan sumber yang tidak mau disebutkan namanya, pada bulan Mei lalu, ada tim dari kabupaten yang melakukan sosialisasi program di Desa Bere bersama para aparat desa.

Program itu diketahui ialah PAMSIMAS (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat), yakni salah satu program yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia dengan dukungan Bank Dunia. Program ini difokuskan untuk wilayah perdesaan dan pinggiran kota.

“Pada saat sosialisasi, tim dari kabupaten – sebagai fasilitator program PAMSIMAS ini – meminta kepada Pemerintah Desa untuk melakukan identifikasi masalah yang ada di Desa Bere. Saat itu, aparat desa mengungkapkan kepada tim tersebut bahwa masalah utama yang terjadi di Desa Bere ialah air minum bersih,” ungkap sumber tersebut.

Bahkan, pada saat sosialisasi ini, sumber itu mengatakan bahwa dirinya pernah menyuarakan, “Kalau bisa program PAMSIMAS ini dipakai untuk pengadaan air minum bersih di Kampung Nanga. Sebab, Kampung Nanga merupakan satu-satunya kampung yang ada di desa tersebut yang tidak tersentuh oleh air minum bersih.”

Baca juga: Tiga Prioritas Pembangunan di Kabupaten Manggarai Tahun 2018

“Namun, pada saat sosialisasi program tersebut, tidak ada kejelasan apakah Pemerintah Desa Bere akan menindaklanjuti hal tersebut. Tiba-tiba, pada bulan November lalu, ada beberapa pipa yang didatangkan ke Desa Bere dan diturunkan tepat di depan rumah pribadi Kepala Desa Bere yang terletak di Kampung Akel,” jelas dia.

“Beberapa minggu lalu, pipa tersebut digunakan untuk pemeliharaan jaringan air yang bersumber dari “Wae Ngeluk”. Semua pipa lama yang ada diganti dengan pipa yang baru. Padahal pipa lama (yang diketahui berasal dari PPIP atau Program Pembangunan Infrastruktur Perdesaan tahun 2014/2015 dengan total dana Rp250 juta) masih sangat bagus. Kalau dilihat dari kualitasnya, pipa lama itu sangar kuat, karena terbuat dari bahan karet, dan tidak mudah pecah walaupun diinjak ban mobil,” jelas sumber tersebut.

Sumber tersebut mengungkapkan bahwa pemeliharaan jaringan air tersebut tidak pernah disinggung apalagi dibicarakan di dalam rapat atau musyawarah desa. Masyarakat Desa Bere sendiri juga mengaku, mereka tidak tahu bahwa akan ada pengerjaan jaringan air di desanya. Apalagi, saat pengerjaannya, tidak ada papan tender yang terpasang di sana.

Sejumlah pipa sisa yang dipakai dalam pemeliharaan jaringan air di Desa Bere. Pipa ini diduga dibeli dari dana program PAMSIMAS. Saat ini, pipa tersebut ada tepat di depan ruma Kades Bere

Sejumlah pipa sisa yang dipakai dalam pemeliharaan jaringan air di Desa Bere. Pipa ini diduga dibeli dari dana program PAMSIMAS. Saat ini, pipa tersebut ada tepat di depan ruma Kades Bere – Dawainusa

Dari Dugaan Ada Program PAMSIMAS hingga Dugaan Korupsi

Lebih lanjut, kepada Dawainusa.com, seorang sumber yang tidak mau disebutkan namanya juga mengatakan bahwa ada dugaan bahwa dana yang dipakai dalam pengerjaan pemeliharaan jaringan air tersebut bersumber dari program PAMSIMAS.

Ia bahkan mengatakan bahwa dari informasi yang diketahuinya, ada dugaan bahwa dana yang didapatkan dari program PAMSIMAS untuk persoalan air minum bersih di Desa Bere itu mencapai Rp175 juta.

Selain itu, sumber tersebut juga melaporkan bahwa anggota-anggota pelaksana program tersebut tidak ditetapkan melalui musyawarah desa. Ia mengatakan, semua anggota yang mengerjakan program itu ditetapkan secara sepihak oleh Kades Bere.

Padahal, demikian dia, berdasarkan ketentuan Undang-undang, semuanya harus melalui musyawarah desa. Apalagi, jelas dia, ada badan khusus di desa yang sebenarnya bertanggung jawab untuk persoalan air ini.

Baca juga: Alokasi Dana Desa untuk NTT Pada 2018 Mencapai Rp2,5 Triliun

“Ada divisi yang mengurus segala hal terkait air. Orang-orang di dalamnya ditentukan secara resmi melalui musyawarah desa. Mereka bahkan mendapatkan gaji setiap bulan dari Dana Desa. Tetapi, saat pengerjaan air ini, mereka ini tidak dipakai. Ada apa?” kata sumber tersebut.

Bahkan ia menemukan bahwa setelah diselidiki soal jumlah pengeluaran untuk pembelian pipa yang digunakan dalam pengerjaan pemeliharaan jaringan air yang sudah berlangsung tersebut, hanya menghabiskan dana mencapai Rp36 juta. Karena itu, ia mempertanyakan;

“Kalau memang benar dugaan bahwa pengerjaan pemeliharaan jaringan air tersebut ialah dari program PAMSIMAS dengan jumlah dana mencapai Rp175 juta, kemana sisa dana tersebut, yakni yang jumlahnya Rp139 juta?”

Adapun untuk mengetahui kebenaran di balik pengakuan atau keterangan dari berbagai sumber tersebut, Dawainusa.com sendiri masih berusaha menelusurinya lebih lanjut.*

COMMENTS