Singgung SBY di Kasus Bank Century, Demokrat Perkarakan Asia Sentinel

Singgung SBY di Kasus Bank Century, Demokrat Perkarakan Asia Sentinel

JAKARTA, dawainusa.com – Pada 12 September 2018 lalu, sebuah media yang berbasis di Hong Kong, Asia Sentinel, memuat berita mengenai Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Artikel yang ditulis langsung oleh John Bertelsen, menyinggung keterlibatan SBY dalam kasus Bank Century.

Menurut berita tersebut, Century dijadikan sebagai alat rekayasa dan dianggap sebagai bank yang gagal pada tahun 2008. Kasus yang terjadi satu dekade silam sempat mengguncang masyarakat, namun masih menyisakan teka-teki penyelesaian yang tidak kunjung terselesaikan.

Laporan Asia Sentinel menjadi bahan percakapan publik dan cukup menyudutkan Partai Demokrat dalam beberapa hari terakhir. Namun, Asia Sentinel kemudian meminta maaf kepada Presiden Ke-6 RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono terkait tudingan tersebut.

Baca juga: Andy Arief Sebut SBY Bom Nuklir yang Tak Boleh Diobral

“Kami sudah menarik berita tersebut, tapi kami juga turut meminta maaf kepada SBY, Partai Demokrat, dan berbagai pihak yang merasa tersinggung dengan artikel itu” tulis Asia Sentinel melalui web-nya,” Rabu (19/9).

Asia Sentinel juga mengucapkan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia atas kerugiaan yang ditimbulkan oleh berita tersebut. Media asal Hong Kong itu mengakui bahwa berita yang ditulis oleh kepala editornya, John Berthelsen, tidak memenuhi kaidah jurnalistik.

Media tersebut mengakui bahwa mereka seharusnya mengkonfirmasi dugaannya dengan mewawancarai nama-nama yang ditulis dalam artikel tersebut terlebih dahulu. Karena tanpa konfirmasi, pemberitaannya jadi tidak berimbang dan melenceng dari kaidah jurnalistik.

Selain itu mereka mengakui bahwa headline berita yang ditampilkan cenderung bernada menghasut dan tidak bersikap adil terhadap Susilo Bambang Yudhoyono. Terkait permintaan maaf ini, Demokrat mengapresiasinya.

Demokrat Akan Tetap Mengambil Langkah Hukum bagi Asia Sentinel

Namun, Partai Demokrat telah memutuskan untuk tetap mengambil langkah hukum terhadap pemberitaan Asia Sentinel. Tim dari Demokrat sudah berangkat ke kedua negara, Hongkong dan Mauritius, untuk memperkarakan media tersebut.

Ketegasan Partai Demokrat ini sesuai dengan pernyataan ketua umum Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya yang akan terus mengejar pihak-pihak yang memfitnah dirinya dimanapun mereka berada.

“Kami sudah kirim tim ke Hongkong dan Mauritius untuk melakukan investigasi dan mengumpulkan bahan-bahan,” ujar Kepala Divisi Hukum dan Advokasi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean, melansir Kompas.com, Kamis (20/9).

Ferdinand menginformasikan bahwa tim yang diutus ke Hong Kong ditugaskan untuk mengunjungi kantor Asia Sentinel. Tim tersebut juga akan melaporkan persoalan ini ke Dewan Pers Hong Kong untuk segera menindak tegas pemberitaan merugikan yang dirilis oleh Asia Sentinel.

Baca juga: Fahri Hamzah Minta SBY Jangan Diam Sikapi Kondisi Bangsa

Ke Mauritius, tim akan mengkonfirmasi materi gugatan persidangan antara Weston Capital vs LPS di pengadilan yang dijadikan sumber oleh Asia Sentinel untuk pemberitaannya mengenai SBY dan Bank Century. “Tim akan mengumpulkan keterangan dari kedua negara itu,” kata Ferdinand.

Ferdinand mengatakan bahwa Demokrat sebetulnya ingin segera ke Amerika Serikat untuk menemui John Bertelsen. Namun, rencana tersebut urung dilakukan, karena Demokrat sudah menghubungi John.

Dari komunikasi jarak jauh tersebut, John akhirnya meminta maaf dan bersedia menarik berita yang telah ia rilis. Selain Asia Sentinel, Demokrat juga akan bertindak tegas terhadap media nasional yang sudah menggoreng isu provokatif ini.

John mengklaim bahwa, tindakan tersebut adalah bentuk ketegasan terhadap siapapun yang berani menyeberkan informasi palsu terkait partainya. “Ini agar menjadi pembelajaran agar kita tidak asal menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya,” tutur Ferdinand.

Sekalipun berita Asia Sentinel ditarik, kebenaran terkait kasus Bank Century satu dekade silam tetap tidak terungkap. Politisi di negeri ini masih terus menghindari diri dari isu tersebut, tanpa adanya kehendak baik untuk bersungguh-sungguh membongkar kejahatan keuangan tersebut.*