Sidang Pembacaan Dakwaan, Novanto Mengeluh Sakit

Sidang Pembacaan Dakwaan, Novanto Mengeluh Sakit

Novanto mengeluh sakit ketika hendak membacakan dakwaan kasusnya yang ditaksir merugikan anggaran negara sebesar Rp2,3 Triliun. (Foto: Setya Novanto - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Sidang untuk terdakwa kasus korupsi e-KTP, Setya Novanto digelar hari ini di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta, Rabu (13/12). Namun anehnya, dalam sidang tersebut, Novanto mengeluh sakit ketika hendak membacakan dakwaan kasusnya yang ditaksir merugikan anggaran negara sebesar Rp2,3 Triliun.

Awalnya, Novanto ditanyai Majelis Hakim terkait identitasnya sebagai terdakwa, namun politisi Partai Golkar itu terlihat kurang responsif terhadap berbagai pertanyaan hakim. Dirinya menampilkan adegan sakit, sehingga tidak menjawab pertanyaan hakim.

“Apakah Saudara mendengar pertanyaan saya?” tanya hakim. Pertanyaan itu diajukan hakim sebanyak dua kali, tetapi, Novanto enggan memberikan jawaban.

Baca juga: Wabah Difteri, Mendagri Instruksikan Seluruh Pemda Segera Tangani

Kemudian, hakim kembali bertanya, “Siapa nama Saudara?” Pertanyaan ini juga diajukan dua kali, namun, Novanto tak kunjung merespon.

Melihat hal itu, hakim terus mencoba mengajukan pertanyaan, “Apakah nama Saudara Setya Novanto?” Tetapi, Novanto rupanya enggan memberikan tanggapan.

Novanto Sedang Berbohong

Menanggapi hal ini, Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi, Irene Putri menilai, terdakwa Setya Novanto sedang berbohong dan berpura-pura sakit. Ia memastikan, Novanto masih dalam kondisi sehat.

Irene menyampaikan, pihaknya telah membawa dokter yang memeriksa Novanto pagi tadi. Sebelumnya, kata Irene, ada juga tiga dokter lainnya yang turut memeriksa kondisi kesehatan Novanto. Semua dokter itu, jelas Irene, memastikan terdakwa sehat dan siap mengikuti persidangan.

“Yang Mulia, kami meyakini terdakwa dalam kondisi sehat dan dapat mengikuti persidangan. Ketiga dokter spesialis tadi, yang juga pada pukul 08.50 WIB terakhir dilakukan pemeriksaan yang bersangkutan,” ujar Irene.

Baca juga: Banjir di Jakarta, Mengintip Strategi Anies-Sandi dan Komentar Djarot

Suasana hampir keruh ketika Kuasa Hukum Novanto, Maqdir Ismail melayangkan protes. Ia keberatan dengan tudingan Jaksa Irene yang menyebutkan kliennya itu cuma berpura-pura sakit untuk menghindari proses persidangan.

“Kami keberatan yang mulia,” kata Maqdir.

Namun, di tengah situasi itu, sidang pun langsung diskors oleh Majelis Hakim karena Ketua Umum Partai Golkar itu minta ke toilet.

Adapun sidang dengan agenda pembacaan dakwaan hari ini dianggap penting karena terkait dengan gugatan Novanto atas penetapan dirinya sebagai tersangka dalam kasus e-KTP.

Sebelumnya, Hakim tunggal praperadilan, Kusno telah mengatakan, gugatan praperadilan Novanto akan gugur dengan sendirinya jika perkara korupsi proyek e-KTP itu mulai disidangkan.

Hal itu, katanya, sesuai dengan Pasal 82 Ayat 1 huruf d Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 (KUHAP) tentang Wewenang Pengadilan untuk Mengadili. Dalam pasal itu dikatakan bahwa praperadilan gugur apabila hakim pokok perkara mulai memeriksa terdakwa dalam persidangan.

Hakim Kusno bahkan sampai menanyakan kepada KPK dan pengacara Novanto, apakah sidang praperadilan masih ada manfaatnya jika dakwaan Novanto dibacakan sebelum putusan?

Namun, pengacara Novanto bersikukuh untuk tetap menjalankan sidang praperadilan bagi kliennya itu. Bahkan, mereka ingin agar putusan dipercepat menjadi hari Rabu ini.

Kuasa Hukum; KPK Paksa Segera Putuskan Praperadilan

Sementara itu, Kuasa Hukum terdakwa Setya Novanto, Ketut Mulya Arsana menilai, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memaksa Majelis Hakim untuk segera putuskan praperadilan.

Hal itu dikatakan karena Ia melihat, pihak KPK telah mempersiapkan semua peralatan sidang mulai dari layar, proyektor, sampai pengeras suara.

Ini membuktikan, jelas Ketut, sidang perdana perkara korupsi e-KTP ini sudah berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta.

“Kita lihat saja seperti apa mereka sudah siapkan proyektor. Artinya dengan posisi seperti itu hakim tunggal dipaksa untuk mengambil putusan hari ini, tinggal kita lihat keputusannya seperti apa,” kata Ketut di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.* (YAH).