Pasca Terpilihnya Ketum Baru, Mungkinkah Elektabilitas Golkar Berubah?

Pasca Terpilihnya Ketum Baru, Mungkinkah Elektabilitas Golkar Berubah?

Untuk mengembalikan elektabilitas partai, seluruh kader Partai Golkar mesti sama-sama bertekad untuk mengembalikan citranya. (Foto: Airlangga Hartarto - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Citra Partai Golkar belakangan ini kian merosot. Berdasarkan hasil survei Lingkaran Survei Indonesia pada 1-14 November lalu, saat ini posisi partai beringin itu turun tahta menempati posisi ketiga setelah di nyalip Partai Gerindra.

Turunnya elektabilitas partai Golkar lebih disebabkan oleh kasus yang menimpa mantan Ketua Umum Partai ini, Setya Novanto yang sedang didakwa melakukan tindak pidana korupsi e-KTP. Dalam kasus ini, ditaksirkan, negara mengalami kerugian mencapai Rp2,3 T.

Fakta ini membuat kecemasan melingkungi tubuh Golkar. Pasalnya, posisi ketiga yang dicapai partai penguasa Orde Baru itu merupakan fakta buruk yang pernah terjadi dalam sejarah.

Baca juga: Pastor John Djonga: Papua Tidak Lebih Penting Daripada Palestina

Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto mengungkapkan, fakta ini membuat partainya itu berada dalam bahaya ancaman besar.

“Fakta ini menempatkan kami dalam sebuah persimpangan jalan yang tajam,” tutur Airlangga ketika memberikan pidato dalam pembukaan Munaslub Partai Golkar di Jakarta, Senin (18/12) kemarin.

Dengan melihat fakta ini, Airlangga berkomitmen untuk mengembalikan citra partai yang telah rusak akibat deretan kasus korupsi yang menyangkut politisinya. Ia mengatakan, saatnya partai tersebut mesti melakukan pembaharuan dengan membuka lembaran yang baru.

“Saya katakan Partai Golkar pernah menjadi partai nomor satu dan pernah pula menjadi partai nomor dua, tetapi kami tidak akan pernah membiarkan Partai Golkar untuk menjadi partai nomor tiga,” kata Airlangga disambut apresiasi dari para kader Partai Golkar.

Kembalikan Elektabilitas Golkar 

Untuk mengembalikan elektabilitas itu, Airlangga menegaskan, seluruh kader Partai Golkar mesti sama-sama bertekad untuk mengembalikan citranya. Ia menekankan, Partai Golkar mesti menjadi partai yang bersih dan berintegritas serta punya komitmen terhadap nilai-nilai bangsa.

Baca juga: Sindiran Pastor John Djonga Soal Kebijakan BBM Satu Harga di Papua

Sebab, katanya, masyarakat Indonesia saat ini sedang kehilangan kepercayaan terhadap partai dan mencap partai itu sebagai partai para koruptor. Ini katanya, akan berbahaya terhadap masa depan partai secara khusus untuk momentum Pilkada 2018 mendatang.

“Tekad kami sudah bulat, hati kami sudah menyatu, yaitu Munaslub kami akan menjadi momentum baru untuk menyambut Pilkada 2018,” tegasnya.

Rombak Kepengurusan, Idrus Marham Pasrah

Komitmen Partai Golkar untuk mengembalikan elektabilitasnya itu tentu akan diikuti dengan perombakan kepengurusan dalam tubuh partai. Kemungkinan perombakan itu telah didengungkan di internal partai.

Menanggapi hal itu, Sekretairs Jenderal DPP Partai Golkar, Idrus Marham mengaku pasrah jika akan dicopot dari jabatannya di Golkar saat ini.

Ia cukup yakin, Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga pasti akan melakukan hal demikian. Sebab, katanya, Airlangga jelas memiliki barometer tersendiri untuk menunjukkan siap saja yang pantas untuk menjadi pengurus partai. Idrus menyerahkan semua keputusan itu kepada ketua umum itu.

Baca juga: Mengharukan, Sepucuk Surat Jonghyun Sebelum Meninggal Bunuh Diri

“Semua bisa diganti, termasuk sekjen. Yang namanya revitalisasi semua bisa, enggak ada masalah,” tutur Idrus di sela Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar di JCC, Senayan, Jakarta, Selasa (19/12).

Adapun hasil survei LSI memerlihatkan, saat ini, tingkat elektabilitas Golkar berada di bawah Gerinda dengan perolehan 11,6 persen. Gerindra sendiri 13, 0 persen.

Sementara di tingkat puncak diduduki oleh Partai PDI Perjuangan dengan perolehan 24, 2 persen. Hasil tersebut didapat setelah responden diajukan pertanyaan “akan memilih partai apa jika pemilu dilakukan saat ini?”.

Terkait dengan perolehan yang dimiliki Golkar itu, Peneliti LSI, Ardian Sopa mengatakan, ini merupakan hal pertama dalam sejarah Partai Golkar menempati urutan ketiga. “Pertama kalinya dalam sejarah, Golkar terancam terlempar ke urutan ketiga,” jelasnya.

Berbeda dengan pemilu 2014 lalu, Partai Golkar masih menduduki peringkat kedua dengan perolehan suara 14, 75 persen.  Menurut, Ardian, kalau partai ini tidak berubah, kemungkinan besar akan anjlok ke urutan keempat bahkan bisa jadi kelima.

Sebaliknya, apabila segera melakukan perubahan, Ardian menilai Golkar bisa saja kembali menaikkan elektabilitasnya, bahkan bisa menjadi partai pemenang di pemilu 2019.* (YAH).