Setahun Dawai: Tentang ‘Danong’ yang Pernah jadi Mimpi Bersama

Setahun Dawai: Tentang ‘Danong’ yang Pernah jadi Mimpi Bersama

OMONG DENG, dawainusa.com Setahun berlalu. Usianya memang masih terbilang muda, semuda pernikahan Raisa dan Hamish Daud, barangkali. Namun, di balik itu, tersimpan cerita, tentang suka dan duka, tentang marah dan kecewa, tentang nggut cama tau, hingga akhirnya ia bisa bertahan sampai detik ini.

Kerinduan untuk merintis Dawainusa memang sudah muncul sejak lama. Waktu itu, saya dan Ka’e Obeth Thundang masih aktif di Pengurus Pusat PMKRI. Kebetulan kami berdua dijodohkan untuk menggawangi publikasi dan media perhimpunan.

Barangkali, karena back ground Ka’e Obeth, yang selain pernah mengunyah filsafat di STF Driyarkara tetapi juga jago IT, sudah makan garam pulak di dunia digital strategic, plus saya yang gemar menulis ‘joak‘, menjadi salah satu alasan mengapa kami ditakdirkan untuk mengurus barang ini.

Para penggagas awal dawainusa.com

Para penggagas awal dawainusa.com – ist

Saya coba memantik lagi kisah ‘danong‘, sekedar mengingatkan kembali bahwa kami pernah bermimpi.

Pernah di suatu malam. Saat itu, Ka’e Obeth baru pulang kerja. Masih panasnya game pokemon go. kalau Anda masih ingat, pokemon go itu adalah game berbasis augmented-reality yang dikembangkan oleh Pokemon Company bekerja sama dengan Nintendo dan Niantic.

Para pemain berlomba-lomba berlari keluar rumah, bepergian ke lokasi tertentu, dan menangkap monster, yang kebanyakan lucu dan imut, bernama Pokemon. Begitulah kira-kira gambarannya. Ka’e Obeth cukup lama terjebak dalam perang para monster nan imut itu.

Setelah hampir terjebak di gerbang rumahnya Megawati kerena keasikan mecari monster, kami lalu menepi sebentar di pinggir jalan seputaran Menteng. Kompleksnya lumayan sepi. Sambil menunggu sepeda kopi lewat, topik tentang Dawainusa kembali diungkit.

Bagaimana su kita pu rencana bikin media tu Ka’e,?” saya coba memulai percakapan.

Kami memang sudah mengincar beberapa personil yang bakal diajak bergabung untuk bersama-sama merintis Dawainusa nantinya. Masih dalam posisi tunduk incar monster, Ka’e Obeth bilang begini: “Tergantung teman-teman ta Ndik, saya selalu siap ee. Hanya kita kan masih aktif di PP, tidak elok kalau langsung gas, hhh,”.

Yah, kami menyadari, tidaklah etis jika merintis media sementara masih aktif di kepengurusan. Sejarah bakal mencatat, kamilah para pecundang itu! Apalagi ada media perhimpunan yang juga kami kelola saat itu dengan ekpektasi yang cukup tinggi, meskipun akhirnya isap jari.

Si Sintus penjual kopi tetiba lewat. Penjual kopi asal Madura itu memang sangat akrab dengan anak Samratulangi I. Saking akrabnya, nama saya dipanggil Aldo. Soalnya, hampir tiap hari saya ngutang kopi dengan Sintus, nanti kalau datang ambil duit, tanya saja yang namanya Aldo.

“Ntus, kopi dua gelas, filter sebungkus,”. “Siap Bang Aldo,” cetus Sintus.

Banyak topik ‘ganda’ yang coba dilemparkan malam itu. Mulai dari usia berapa akan menikah, hingga mimpi menjadikan Dawai sebesar biji sesawi dengan gaya dan kekhasannya sendiri. Apalagi kalau su ada rokok dan kopi. Lu mau sampe jam berapa dengan topik apa saja, pasti selalu nyambung enak.

Crew dawainusa.com – ist

Kami sepakat bahwa latar di balik kemunculan Dawinusa adalah kerinduan untuk menghadirkan wadah yang menjadi tempat para penulis muda asal NTT untuk belajar sekaligus berkarya. Kerinduan itu pun diikat oleh perasaan yang sama sebagai generasi muda NTT.

Ada satu poin kecil yang disentil Ka’e Obeth waktu itu, yang hingga kini masih melekat di hati. “Ndik, setelah kepengurusan selesai, Kraeng mau kemana?”

Ini pertanyaan yang cukup sulit, setidaknya bagi saya yang dari kampung ini. Di sana ada semacm titipan tantangan sekaligus beban yang mau tidak mau harus dipikul, demi harga diri, di Ibu Kota yang cukup kejam ini.

Saya cukup bingung, mau jawab “langsung nikah”, saat itu belum ada gebetan. Apalagi dengan tren belis yang melangit saat ini, jadi agak susah. Fokusnya masih dua; selesaikan kepengurusan dengan kepala tegak, lunasi harapan orang tua untuk selesai studi.

Setidaknya, pertanyaan setahun yang lalu itu masih sangat relevan hingga saat ini. Mengingat, selesai mengabdi untuk perhimpunan, kita harus sendiri-sendiri bertahan hidup, melawan derasnya arus ibu kota. Lu santai, siap terbantai dan pulang kampung.

Ka’e Obeth tahu betul suka-duka ibu kota. Kita tak bisa berharap lebih ke senior, yang nota bene masih merangkak memintal nasib di ibu kota, hampir sama seperti kita. Betul-betul survive sendiri, sesekali barangkali berkat campur tangan Tuhan dan nenek moyang.

Ada sebuah komitmen yang terucap di sana, bahwa kita bisa bertahan di ibu kota dengan segala daya dan kemampuan yang dimiliki saat ini. Apapun hal yang kelak dibikin nanti, selagi halal, hantam. Kira-kira begitulah narasi optimisme sekaligus menyimpulkan perbincangan malam itu.

Setelah jeda cukup lama, rencana merintis Dawainusa kembali disentil di episode akhir kepengurusan. Saat itu, agenda internal perhimpunan sudah selesai. Semua lagi fokus ke kongres dan MPA. Masing-masing pengurus sedang gencar berkeliaran di malam hari, memetakan arah dukungan di kongres. hehe

Di sebuah kamar kos kecil di kawasan Kenari-Salemba, ide tentang merintis Dawainusa kembali kami kencangkan. Waktu itu, saya sedang kedatangan tamu, sahabat lama yang kebetulan pernah hidup bersama di satu perguruan silat di Mojokerto, dulu. Namanya Rychard Djegadut. Saya memanggilnya Sambulawa.

Boleh jadi, nenak moyang mempertemukan kami, Ka’e Obeth yang mampir di kos untuk minum kopi pagi, dan Sambulawa yang tetiba datang jenguk saya. Setelah basa-basi seadanya, kami mulai mematangkan rencana untuk sesegera mungkin merintis media online.

Akhirnya, Dawanusa berhasil dirintis di kos-kosan kecil di kawasan Genjing Jakarta Pusat. Peran pun dibagi. Ka’e Obeth menggawangi digital strategic plus urusan mesin dan lain sebagainya. Sambulawa menggawangi sosial media dan saya menjaga dapur redaksi. Kami keterbatasan personil. Maklum, belum begitu banyak yang tahu apalagi kenal.

Karena itu, ulasan dan pemberitaan lebih difokuskan pada gaya interpretatif. Ada kabar, data plus analisis. Gaya semacam ini menjadi kekhasan Dawainusa, mengingat begitu banyak media online yang menyajikan kabar dengan gaya yang hampir sama.

Di masa-masa awal, hanya bermodalkan nekat dan semangat, kami coba memulai. Beberapa personil pun mulai bergabung. Ada yang dari STF Driyarkara Jakarta, STFK Ledalero Maumere, Universitas Atmajaya Jogjakarta. Dengan segala keterbatasan, ada optimisme yang tumbuh, bahwa kelak kita bisa menggetarkan dawai ke seluruh pelosok negeri.

Kami berhasil membuktikan itu. Dalam waktu dua bulan, Dawainusa mampu menjadi media dengan ranking alexa tertinggi di NTT. Ini pencapaian yang luar biasa. Semuanya tak pernah terlepas dari konsistensi dalam mengikuti metode yang diajarkan.

Tentu, Dawainusa belumlah apa-apa. Kelasnya pun masih sangat berbeda jauh dengan media-media level atas di republik ini. Tetapi, kami yakin, suatu saat nanti entah kapan, Dawainusa akan menjadi salah satu media yang besar dengan gaya dan kekhasannya sendiri.

Lama memang, tetapi itu caranya. Semuanya harus dilewati seperti anak tangga. Satu persatu, jangan lompat-lompat, karena kalau melompat kemungkinan terpelesetnya tinggi.

Harapan itu akan selalu tumbuh, sekaligus menjadi kekuatan bagi seluruh crew dawai untuk melangkah dengan optimis. Barangkali mimpinya kelewat besar, tetapi selagi semangat masih ada, semuanya pasti baik-baik saja.

Terimakasih untuk seluruh dukungan dari para sahabat Dawainusa hingga mampu bertahan hingga saat ini.  Selamat hari jadi yang pertama. Teruslah bergetar ke seluruh pelosok negeri sambil bersama merawat Indonesia.*

Catatan: beberapa kosa kata yang dicetak miring dengan warna biru adalah kosa kata bahasa Manggarai.

Ka’e: Kakak

Danong: Dulu (menunjukkan peristiwa yang terjadi pada masa lampau)

Kraeng:  Sebuah ungkapan untuk memberi penghormatan kepada pribadi tertentu baik dalam bahasa percakapan resmi maupun yang biasa.

Joak: Tipu-tipu

Ganda: Ngobrol, Bincang-bincang

Nggut cama tau: saling marah

Andy Tandang* (Salah satu penggagas Dawainusa)

COMMENTS