Setahun Dawai: Mempertegas ‘Gnothi Seauton’ Dawainusa

Setahun Dawai: Mempertegas ‘Gnothi Seauton’ Dawainusa

OMONG DENG, dawainusa.com – Bila bulan November dalam text-text lagu ataupun text puisi dan naskah cerita fiksi selalu dikaitkan dengan bulan yang kelabu, yakni ditandai dengan linangan air mata dan rintik hujan yang menghukum sukma, tidak demikian bagi segenap crew Dawainusa, sebab yang terjadi justru sebaliknya.

Bulan November adalah bulan untuk menepuk dada (bukan untuk menyombongkan diri) seraya mengakui bahwa Dawainusa cukup berani, dengan tekad baja, mengambil waktu setahun berjalan di atas ketidakpastian sementara mimpi dan harapan tebal membaja terkantong dalam dada.

Pasalnya, tanggal 2 November adalah hari jadi atau hari ulang tahun Dawainusa. Untuk tahun ini, Dawainusa merayakan ulang tahunnya yang pertama. Usia yang sangat belia, seumur pernikahan Raisa dan Hamish Daud. Demikian perbandingan saudara seperguruan Andy Tandang yang ditugaskan untuk mengawangi bagian redaksi.

Namun mengapa ulang tahun harus dirayakan. Terlebih dalam konteks Dawainusa. Haruskah? Kata mbah google, pada awalnya, perayaan ulang tahun hanya dilakukan untuk raja, sebagai upaya menangkal kemalangan yang akan terjadi padanya. Seiring dengan berkembangnya zaman, perayaan ulang tahun anak kemudian dilakukan.

Baca juga: Awal Mulanya, Sebuah Catatan Pinggir untuk Setahun Dawainusa

Dalam buku karya Charles Panati yang memuat tulisan-tulisan kuno philochorus berjudul “Book: Extraordinary Origins Everyday Things”, dikatakan bahwa kue ulang tahun pertama datang dari Yunani. Orang-orang yunani kuno pada saat itu merayakan hari kelahiran dewi Artemis.

Ulang tahun sendiri adalah hari kelahiran seseorang, menandai hari dimulainya kehidupan di luar rahim. Menurut Rabbi Yissocher Frand, seorang rabbi Yahudi, ulang tahun kelahiran seseorang merupakan hari khusus karena doa seseorang tersebut pada hari itu, dapat terkabulkan.

Rikardo Sambulawa

Kembali ke Dawainusa. Dawainusa memiliki banyak mimpi yang ingin dicapai. Dalam perjalanan mengapai setiap mimpi itu, banyak tantangan bahkan ancaman datang menghadang.

Banyak pula kegetiran, ketakutan yang menjelma dalam simbahan air mata (hanya tim internal yang tahu, publik tak boleh tau. Iya to). Untuk menangkalnya, perlu doa. Doa di hari jadi, atau menyampaikan ujud kepada yang Esa di hari jadi, kata Rabbi Yahudi tadi, diyakini paling sangat dikabulkan.

Setahun Dawainusa, Getarnya Sudah Terasa

Dalam setahun yang berlalu, Dawainusa telah berkontribusi untuk Flobamora. Kendati belum banyak memang. Namun lihat saja, dalam dua bulan Dawainusa keluar dari rahim, dia telah mengantongi rangking teratas secara alexa dalam katogori website dari seluruh website yang ada di tanah Flobamorata.

Dawainusa akui, memang gema dari senandungnya belum sampai pada titik menjatuhkan daun kuping para pembuat kebijakan. Namun Dawainusa pernah dan barangkali sering membuat telinga yang mendengarnya merah maron.

Masih ingat Kemendikbud, Muhajir Effendi? Sang menteri membuat pernyataan yang seolah-olah mengambinghitamkan anak-anak NTT terkait kualitas pendidikan Indonesia yang sungguh sangat buruk di mata dunia.

Baca juga: Antara Media Online yang Tidak Laku, Bujang Lapuk dan Perawan Tua

Sontak saja, pernyataan itu menuai protes yang yang sangat massif dari warga NTT di berbagai belahan nusantara selepas Dawainusa memuat ulasan dan interpretasi terkait pernyataannya.

Protes masyarakat NTT ini cukup beralasan. Sebab banyak yang mengakui, seperti apa sepak terjang para putra-putri NTT baik di kancah nasional maupun internasional.

Sebuah kenyataan yang tak bisa diganggu gugat bahwa putra-putri NTT luar biasa, cerdas-cerdas. Dalam berbagai kompetisi, putra-putri NTT banyak kali mengharumkan nama bangsa. Kurang apalagi.

Di media sosial misalnya, video-video yang diposting Dawainusa ditonton hingga ratusan ribu kali. Komentar-komentar yang diterima Dawainusa pun lebih banyak yang positif dan menyentuh seperti, “Sa jadi kangen kampung”. Ada juga yang komentar, “Pinginnya cepat-cepat pulang, tanahku NTT ternyata luar biasa ya“, dan banyak lagi.

Mempertegas Gnothi Seauton Dawainusa

Gnothi Seauton adalah sebuah frasa yang berasal dari bahasa Yunani yang berarti “Know Thyself” dalam bahasa Inggris. Sementara dalam bahasa Indonesianya kira-kira terjemahannya adalah ‘ketahuilah dirimu sendiri.’

Frasa ini sangat lekat dengan seorang tokoh filsafat Yunani Kuno, yakni sang guru kebijaksanaan bernama Socrates. Sebab frasa ini tercetus dari alam pikirannya.

Bagi orang-orang Yunani Kuno, frasa ini memiliki makna yang sangat mendalam. Karenanya mereka mematrinya di mana-mana. Bagi mereka, mengenal diri sendiri adalah hal yang mahapenting.

Karena hal itu menyadarkan bahwa manusia berada ‘untuk’ dan ‘demi’ orang lain. Manusia hidup tak sendirian. Dan, hidup berarti menggenggam tanggung jawab bersama.

Ulang tahun Dawainusa, bukan semata-mata tentang doa-doa yang didengungkan di kuping Tuhan untuk dikabulkan atau tentang harapan-harapan yang digantungkan di langit sana, berharap para malaikat Tuhan menjaganya agar tak jatuh.

Ulang tahun Dawainusa, bukan juga semata-mata tentang litani yang terus dihunuskan ke jantung Sang Penguasa Jagat. Namun tentang bagaimana memantapkan semangat awal agar Dawainusa terus dan akan terus bersenandung.

Tentunya, senandung tak asal bersenandung. Senandung yang membuat setiap kuping yang mendengar, tak salah dalam menerka bahwa alunan itu adalah senandung Dawainusa.

Baca juga: Setahun Dawai: Tentang ‘Danong’ yang Pernah jadi Mimpi Bersama

Apa hubungannya Gnothi Seauton dengan ulang tahun Dawainusa? Menyadari bahwa setiap langkah awal yang selalu semangat, tak menutup kemungkinan langkah itu lama kelamaan akan gontai.

Setahun perjalanan, Dawainusa sudah menyaksikan sendiri bagaimana senar-senar itu datang dan pergi. Senar-senar itu datang dengan alasan yang digenggamnya sendiri. Pun ketika ia memilih pergi. Dia pergi dengan sebab dan alasan yang digenggamnya sendiri.

Untuk itu, di kesempatan ini, sebuah ucapan terima kasih dari lubuk hati yang terdalam untuk yang pernah berjuang bersama Dawainusa perlu didaraskan. Terimaksih yang sebesar-besarnya.

Doa saya, “wish you all the best in life, in whatever endevors you do“. Bagi yang masih menetap, saya yakin, Penguasa Langit dan Bumi tak mungkin menutup mata dan membiarkan Dawainusa berjalan di atas bara api duniawi tanpa bimbingan-Nya.

Ibarat sebuah Dawai, pertama kali dimainkan, senar-senarnya pastilah kencang dan kuat, namun bila sering dimainkan, sekuat dan sekencang apapun senar-senar itu, maka dia pasti akan kendor juga. Iya to?

Gnothi Seauton secara harafiah artinya “kenalilah dirimu sendiri”. Mengenal diri sendiri di sini merupakan sebuah tugas mahapenting. Kau tak bisa memberikan sesuatu kepada orang lain, bila kau tak tahu apa sebetulnya yang kamu miliki.

Dalam proses mengenali diri sendiri, seseorang akan melalui sebuah perjalanan panjang ke dalam diri. Bila sudah sampai pada dirinya, ia akan diperhadapkan dengan beberapa pertanyaan seperti “siapa saya? Apakah yang saya berikan untuk diri saya? Apakah yang saya berikan untuk keluarga saya? Untuk lingkungan sekitar saya? Untuk tanah air saya? Untuk kaum saya? Untuk seluruh umat manusia?”

Bangsa Yunani memang amat dekat dengan ‘cinta kebijaksanaan’ atau philosophy (filsafat). Bagi mereka ungkapan indah — Gnothi Seauton— tak boleh menjadi klise dalam text book semata.

Karenanya, ia harus diantar ke tempat yang kudus. Tujuannnya agar budi yang arif tak menjadi milik dunia belaka tapi bagian dari tata kehidupan mahaluas bersama sang Pencipta.

Di sana kearifan diberdayakan dalam apa yang mereka sebut ‘iman’ akan Yang Maha Kuasa. Mereka tak mengajar agama semata. Namun mereka percaya, moralitas, sebagai mahkota budi, berasal dari Yang Kuasa. Untuk itu harus selalu dikejar.

Perlu disadari, adanya kebijakan mengenai kebebasan pers belakangan ini, informasi dan berita yang disajikan cenderung dapat menjadi ancaman yang sangat serius dan meresahkan masyarakat terlebih mengenai kerukunan dan persatuan antar individu.

Dengan alih-alih kebebasan pers, banyak media-media online yang mulai seenaknya mempublikasikan berita-berita yang dapat merusak moral bangsa. menyebarkan berita hoax dll.

Dawainusa hadir dengan idealisme untuk melaksanakan peran media massa sebagaimana mestinya. Selama ini, saya pikir, Dawainusa sudah melaksanakan salah satu fungsinya yakni pengawasan dengan menyediakan informasi dan peringatan kepada masyarakat tentang apa saja yang terjadi di lingkungan mereka.

Selain itu, dalam fungsinya meng-up date pengetahuan dan pemahaman manusia tentang lingkungan sekitarnya, pun sudah dilakukan. Juga dalam menjalankan fungsinya sebagai sarana memproses, menginterpretasikan dan mengkorelasikan seluruh pengetahuan atau hal yang diketahui oleh manusia. Dawainusa sudah lakukan.

Pun ketika berbicara mengenai fungsi transmisi nilai, yakni menyebarkan nilai, ide dari generasi satu ke generasi yang lain serta fungsi hiburan yakni menghibur manusia yang cenderung untuk melihat dan memahami peristiwa atau pengalaman manusia sebagai sebuah hiburan, dsb.

Fungsi-fungsi tersebut di atas, Dawainusa sudah lakukan dalam perjalanannya setahun ini. Mempertahankan  poin-poin yang tersebut di atas sungguh berat, seberat rindunya Dilan.

Namun, yang terpenting adalah menjadikan poin-poin di atas sebagai idealisme yang memang sudah ditanam sejak awal berdirinya Dawainusa dan tetap berpegang teguh padanya. Niscaya, langkah-langkah Dawainusa pasti akan tetap berjalan meski jalan yang dilaluinya tak selalu lapang.

Di atas segalanya, menjaga moralitas dan terus bersenandung (menulis, red) dengan kearifan adalah hal mahapenting yang terus dipertahankan kedepannya.

Akhirnya, Gnothi Seauton hanyalah aksara. Mungkin hampir tanpa makna bagi yang tak paham. Ia bahkan bukan nilai, layaknya keutamaan ‘kasih’ dan ‘bela rasa’. Ia hanya sebuah pesan untuk ‘mengenali diri sendiri’.

Karena dengan mengenal diri sendiri, moralitas yang kita anut mendapat pencerahan. Harapannya, Dawainusa menjadi media penjaga moral bangsa dengan tulisan-tulisan yang arif dan bijaksana.

Salam

Rikard Djegadut
Salah satu penggagas Dawainusa

COMMENTS