‘Sesamaku adalah Aku yang Lain’ bagi Komunitas Perempuan Manggarai

‘Sesamaku adalah Aku yang Lain’ bagi Komunitas Perempuan Manggarai

FOKUS, dawainusa.com –  “Sesamaku adalah Aku yang Lain”. Kalimat tersebut merupakan sebuah ‘tagline’ yang dipilih dan disepakati oleh para perempuan Manggarai, Flores, NTT sebagai spirit yang menggerakkan Komunitas Perempuan Manggarai (KPM) yang mewadahi mereka di Jakarta, dalam perayaan hari jadinya yang pertama di Wisma Slipi, Jakarta Barat, Minggu (21/10).

Ungkapan yang tertuang di dalam kalimat ini memiliki daya reflektif yang sangat dalam. Dari penjelasan Ketua KPM Yosefina Syukur, kalimat tersebut memuat sejumlah permenungan para perempuan Manggarai yang berada di Jakarta terkait makna keberadaan mereka dalam situasi hidup di tengah sesamanya di dunia ini.

Sama seperti filsuf asal Prancis bernama Gabriel Marcel yang melihat orang lain sebagai ‘Ada yang Menjelmah’ dan kepadanya setiap orang dituntut untuk saling berbagi cinta, dengan ungkapan tersebut, para perempuan Manggarai di Jakarta hendak menegaskan bahwa “kehadiran kita di dunia ini dituntut untuk saling berbagi dan bertanggung jawab terhadap sesama”.

Baca juga: Pakai Kata ‘Lingko’, Bupati Manggarai Surati Gubernur Anies Baswedan

“Ungkapan tersebut menyiratkan dan menyuratkan suatu tanggung jawab kemanusiaan para perempuan Manggarai di Jakarta khususnya, untuk dapat menciptakan dunia yang lebih baik dan bermartabat, yakni dengan menjadi pelayan dan pembawa berkat serta kasih terhadap sesama,” jelas Yosefina Syukur kepada Dawai Nusa.

Ibu Yosefina Syukur & Para Perempuan Manggarai

Ibu Yosefina Syukur & Para Perempuan Manggarai – ist

Apa yang disampaikan oleh Yosefina Syukur soal makna di balik kalimat itu juga ditegaskan secara teologis oleh Pater Petrus C. Aman, OFM, yang memimpin perayaan ekaristi dalam misa kudus peringatan satu tahun KPM tersebut.

Sebagaimana melalui refleksi yang diberikannya pada saat misa kudus itu,  Pater Pater menerangkan bahwa ungkapan ini sengaja dipilih oleh para perempuan Manggarai yang tergabung di dalam KPM untuk menunjukkan kepada setiap orang suatu kebenaran yang paling fundamental tentang sosialitas manusia.

Ungkapan ini, demikian Pater Peter melanjutkan, memiliki landasan Biblis, yakni dimuat di dalam Kitab Kejadian yang menceritakan tentang kisah penciptaan manusia pertama oleh Allah. Dalam kitab tersebut diceritakan bahwa Adam menyadari dirinya ketika Allah menghadirkan Eva di hadapan wajahnya.

“Waktu adam melihat Eva, ia mengatakan begini, ‘inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dariku’. Adam melihat dirinya pada Eva. Juga sebaliknya,” ungkap Pater Peter.

Bagi Pater Peter, kisah ini hendak mengingatkan kepada setiap orang bahwa setiap manusia diciptakan Allah untuk saling melengkapi, saling menolong, serta mesti dapat membangun sikap solider terhadap yang lain. Sebab, dengan menjalankan segala kebajikan tersebut, makna dan kualitas diri seseorang akan ditemukan.

Pater Peter Aman, OFM

Pater Peter Aman, OFM – ist

“Ini merupakan kebenaran paling fundamental tentang sosialitas manusia. Orang lain adalah diri kita yang lain, yang mestinya menjadi sumber inspirasi bagi kebersamaan, bagi kehidupan bersama, juga bagi solidaritas,” terang Pater Peter.

Jejak-jejak KPM dalam Pelayanan kepada Sesama

Spirit ‘Sesamaku adalah Aku yang Lain’ yang berusaha sedang dihidupi oleh  Komunitas Perempuan Manggarai (KPM) tersebut sejauh ini sudah memiliki jejak-jejaknya dalam kehidupan nyata dan aksi-aksi konkrit.

Dalam usianya yang sudah memasuki satu tahun tersebut, mereka telah berhasil memberikan begitu banyak pelayanan dan pengabdian sebagai wujud dari keprihatinan, cinta kasih, dan tanggung jawab sosial mereka terhadap sesama atau yang lain.

Perempuan Manggarai sedang Memainkan Alat Musik Tradisional

Perempuan Manggarai sedang Memainkan Alat Musik Tradisional – ist

Dari keterangan yang diberikan oleh Yosefina Syukur, wujud keprihatinan, cinta kasih, dan tanggung jawab sosial itu mereka lakukan dalam bentuk aksi peduli terhadap orang-orang lemah, sentuhan kasih dan bantuan kepada mereka yang menderita akibat sakit.

Baca juga: Anies Baswedan Beri Ucapan Terima Kasih untuk Masyarakat Manggarai

“Pertama, membagi kasih natal kepada orang Manggarai yang dianggap memerlukan bantuan, antara lain kepada orang Manggarai yang tuna netra pada bulan Desember tahun 2017. Kedua, mengadakan kunjungan dan memberikan tanda kasih kepada orang Manggarai yang sedang sakit, baik yang dirawat di Rumah Sakit maupun yang sedang dalam perawatan jalan,” jelas dia.

Tarian Adat Manggarai

Tarian Adat Manggarai – ist

Tidak hanya melakukan hal demikian, KPM juga memiliki semangat yang tinggi dan apresiatif terhadap nilai-nilai budaya yang ada. Banyak hal yang telah mereka wujudkan sebagai bagian dari upaya mereka untuk mendorong pertumbuhan dan kemajuan budaya di Indonesia umumnya dan budaya Manggarai khususnya.

“Kami telah mengadakan misa inkulturasi dan pentas budaya. Juga pernah memberikan apresiasi kepada seniman Manggarai,” kata Yosefina Syukur.

“Kami juga selalu memberi tanda duka cita (Wae Lu’u) kepada beberapa Orang Manggarai yang meninggal. Selain itu, kami juga sangat terlibat aktif dalam menyumbangkan koor dalam misa perkawinan ataupun misa kematian apabila diminta atau diperlukan,” lanjut dia.

Bagi Yosefina Syukur, apa yang telah dicapai oleh KPM di usianya yang pertama ini bukan merupakan suatu akhir dari segalanya. Ia mengatakan bahwa segala hal tersebut hanyalah suatu modal bagi KPM untuk terus melakukan berbagai bentuk pelayanan di hari selanjutnya. Sebab, masih sangat banyak mimpi yang belum diwujudkan oleh KPM.

Tentang Komunitas Perempuan Manggarai (KPM)

Komunitas Perempuan Manggarai (KMP) ini sendiri merupakan sebuah wadah yang menghimpun dan menyatukan semua perempuan Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini sedang berdomisili di Jakarta.

Komunitas ini didirikan pada 21 Oktober 2017 oleh 22 orang perempuan Manggarai di hadapan Notaris Gunawan, SH, M.Kn di Tangerang Banten, dengan legitimasi hukum diperoleh lewat SK Menteri Hukum dan HAM RI No. AHU-0000093.AH.01.07 Tahun 2018 tertanggal 9 Januari 2018.

Seorang Ibu dari Manggarai sedang Membawakan Sebuah Lagu Daerahnya

Seorang Ibu dari Manggarai sedang Membawakan Sebuah Lagu Daerahnya – ist

Sebagai sebuah komunitas sosial, KPM merupakan organisasi masyarakat yang bersifat mandiri, tunggal dan tidak berafiliasi dengan organisasi masyarakat atau organisasi politik apapun.

Baca juga: 10 Tempat Wisata Terbaik di Kabupaten Manggarai, Flores, NTT

Karena itu, dalam menjalankan tanggung jawab sosialnya, KPM melayani setiap orang dalam bingkai semangat kekeluargaan yang menjunjung tinggi sikap sukarela, sosial, dan mandiri, netral dan tidak membeda-bedakan atas dasar profesi, jenis kelamin, suku, agama, ras, dan golongan.

Dasar perjuangan yang diembankan oleh KPM ialah keberpihakannya kepada nilai kebenaran, kejujuran, non diskriminasi, persamaan kedudukan, anti kekerasan, solidaritas, dan gotong royong.

Ketua KPM, Yosefina Syukur sedang Meniup Lilin Ulang Tahun

Ketua KPM, Yosefina Syukur sedang Meniup Lilin Ulang Tahun – ist

“Itu sebabnya, kami datang sebagai perempuan Manggarai dan melepaskan segala atribut kami termasuk profesi kami masing-masing. Kami semua mempunyai kedudukan dan hak yang sama,” kata Ketua KPM, Yosefina Syukur.

Visi yang hendak diwujudkan oleh KPM ialah memupuk, membangun dan mengembangkan semangat kekeluargaan dan gotong royong antar Perempuan Manggarai dalam usaha saling membantu sesama termasuk perempuan Manggarai yang berada di perantauan.

Semua hal itu dimaksudkan untuk mencapai terwujud Perempuan Manggarai yang berwawasan luas, terampil, kreatif dan berkualitas, yang patuh hukum dan berkembang di bidangnya, serta mandiri dan memiliki pengabdian serta tanggung jawab pada pembangunan umumnya dengan penuh kesadaran dan dalam rasa kesetiakawanan.

Keceriaan Para Perempuan Manggarai di Hari Jadi KPM yang Pertama

Keceriaan Para Perempuan Manggarai di Hari Jadi KPM yang Pertama – ist

“KPM masih menerima anggota dengan syarat: perempuan secara perorangan yang mempunyai spirit perempuan Manggarai, yang diwujudkan dalam kecintaan dan kepedulian pada perempuan Manggarai dan pembangunan Manggarai, tanpa melihat asal-usul, keturunan, golongan, agama dan profesi,” kata Yosefina Syukur.*