Seruan Hindari Politik Bohong, Sebuah Sindiran untuk Kubu Prabowo?

Seruan Hindari Politik Bohong, Sebuah Sindiran untuk Kubu Prabowo?

JAKARTA, dawainusa.com – Seruan Presiden Jokowi agar jangan memainkan politik bohong secara khusus dalam konstelasi politik menuju Pilpres 2019 membuat kubu oposisi merasa tersudutkan.

Hal itu terbukti dari berbagai reaksi dari sejumlah pihak oposisi terhadap himbauan yang dikeluarkan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta itu saat memberikan acara dalam acara HUT ke-54 Golkar di Hall D2, Jakarta International Expo, Jakarta Pusat, Minggu (21/10).

Salah satu pihak oposisi, yakni Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon misalnya memberikan tanggapan reaktif atas apa yang disampaikan oleh Jokowi tersebut.

Dengan nada penuh tersinggung, Fadli Zon menilai bahwa himbauan Presiden Jokowi soal politik tanpa kebohongan tersebut justru menjadi sebuah kritik sekaligus sindiran terhadap dirinya sendiri.

Baca juga: Pilpres 2019, Pantaskah Kedua Kubu Bicara soal Politik Kebohongan?

Menurut Fadli Zon, pihak yang selama ini sudah sangat banyak melakukan praktik politik bohong justru ialah kubu Jokowi sendiri. Sebab, selama sudah empat tahun masa kepemimpinannya sebagai Kepala Negara RI, masih banyak janji kampanye Jokowi yang belum terwujud.

Fadli Zon

Fadli Zon – ist

“Saya kira dia sedang menyindir dirinya sendiri ya. Mungkin dalam rangka refleksi kali, yang jelas kalau menurut saya yang banyak melakukan politik kebohongan siapa? Kebohongan itu adalah orang yang membuat janji-janji kemudian janji itu tidak ditepati itu namanya politik kebohongan,” kata Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (22/10).

“Dan itu mudah sekali dilakukan dalam empat tahun selama menjabat ya saya kira ini sudah tepat empat tahun, banyak sekali janji-janji itu yang tidak ditunaikan,” lanjut dia.

Reaksi Fadli Zon terhadap pernyataan Jokowi soal politik bohong tersebut memang sangat wajar. Pihaknya sudah pasti tersinggung dengan apa yang disampaikan oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut.

Apalagi ucapan itu dikeluarkan di tengah stigma publik Indonesia terhadap kubu oposisi sebagai ‘koalisi bohong’ atau ‘koalisi hoaks’ masih sangat kuat.

Stigma tersebut dibentuk setelah salah seorang tim pemenangan Prabowo-Sandi, yakni Ratna Sarumpaet melakukan kebohongan terhadap publik tanah air bahwa dirinya dianiaya oleh sejumlah orang tak dikenal sehingga membuat mukanya menjadi lebam.

Lebih-lebih sebelum diketahui hanya sebagai sebuah cerita bohong, sejumlah pihak dari jajaran oposisi, seperti Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, dan Amien Rais juga sempat membuat konferensi pers atas kejadian yang menimpa Ratna Sarumpaet tersebut dan menyakini itu sebagai kebenaran.

Bahkan dalam cuitannya di akun Twitter, Fadli Zon juga sempat menyebarkan kabar bohong soal penganiayaan Ratna Sarumpaet tersebut kepada publik, tanpa terlebih dahulu memeriksa status kebenaran di balik peristiwa tersebut.

Seruan Hindari Politik Bohong, Tidak untuk Menyindir Kubu Prabowo

Tetapi, apakah seruan Presiden Jokowi agar jangan melakukan praktik politik bohong tersebut memang sengaja diucapkan untuk menyerang dan menyindiri kubu oposisi?

Ataukah hal itu lebih merupakan sebuah perintah etis yang dimaksudkan kepada semua pihak agar dapat membangun peradaban politik yang berkualitas pada Pilpres 2019 mendatang?

Himbauan Jokowi soal praktik politik bohong tersebut memang sudah mendapat klarifikasi dari Juru Bicara Koalisi Indonesia Kerja Irma Suryani Chaniago.

Ia mengatakan bahwa apa yang diucapkan oleh Presiden Jokowi tersebut sama sekali tidak bermaksud untuk menyindir kubu Prabowo-Sandi.

Baca juga: Sejumlah Argumen di Balik Resolusi Jihad Ekonomi ala Sandiaga

Menurut Irma, Jokowi ialah seorang petarung yang cukup santun dan tidak pernah menyerang kekurangan lawan politiknya untuk kepentingan mendapatkan kekuasaan.

“Pak Jokowi itu orang yang santun, tidak pernah menyerang, apa lagi membuka kekurangan orang lain,” ujar Irma di Jakarta, Selasa (23/10).

Presiden Jokowi

Presiden Jokowi – ist

Himbauan jangan melakukan praktik politik bohong itu, demikian Irma menjelaskan, sebenarnya ditunjukkan untuk para juru bicaranya serta para influencer, dengan maksud agar semua pihak tersebut dapat membantu masyarakat untuk memerangi hoaks, isu SARA, dan fitnah yang ada.

“Beliau meminta kami untuk bekerja dan mengadvokasi rakyat dalam menghadapi hoaks, SARA dan fitnah dengan data,” tutur dia.

Jokowi juga kata dia telah meminta kepada seluruh tim suksesnya agar dapat menghadapi Pilpres 2019 dengan cara yang lebih beradab. Apabila ada kritik, demikian Irma menjelaskan himbauan Jokowi itu, hal tersebut mesti dijawab dengan solusi kinerja pemerintah.*