Serbuan Lalat dari Peternakan Ayam Petelur Resahkan Warga Compang Tuke

Serbuan Lalat dari Peternakan Ayam Petelur Resahkan Warga Compang Tuke

RUTENG, dawainusa.com – Serbuan lalat yang berasal dari peternakan ayam petelur milik Cv. Tri Mitra Bahagia yang berlokasi di Mena, Kelurahan Compang Tuke, Kecamatan Langke Rembong meresahkan warga.

Warga yang berada tidak jauh dari lokasi peternakan itu mengalami hal ini sejak 2017 lalu atau selama dua tahun terakhir. Alfonsisus Dabur, salah seorang warga yang rumahnya diserbu lalat kepada Dawainusa.com mengatakan, dia bersama keluarganya merasa terganggu dengan keberadaan lalat-lalat tersebut.

Baca juga: Bincang Digital: Facebook dan Bangunan Etika

“Kami terganggu dengan lalat-lalat ini pak. Ada ribuan dan mungkin jutaan lalat serang rumah kami, baik di ruang makan, kamar mandi maupun di dapur. Kami sangat terganggu dengan keadaaan ini,” kata Dabur di kediamannya, Kamis (31/01).

Selain itu, Dabur yang rumahnya berjarak sekitar 300 meter dari lokasi peternakan mengaku, dia bersama keluarga bahkan harus berbagi makanan dengan lalat-lalat yang semakin hari semakin banyak.

“Kami juga tidak bisa makan dengan tenang. Sebelum makan, biasanya sudah banyak lalat menyerbu piring dan alat makan yang lain. Kami tidak tahan dengan situasi ini,” ujarnya.

Sudah Lapor Pemerintah, Tapi Tidak Ada Solusi

Tak hanya Alfonsius Dabur, Salestinus Steky Surono, warga lain yang menjadi korban serbuan lalat dari peternakan ayam mengaku, dirinya sangat dirugikan karena sering mendapat keluhan dari pembeli karena banyaknya lalat.

“Kami dirugikan dengan lalat-lalat dari peternakan ini. Banyak pelanggan kita yang complain soal kebersihan toko karena lalat ada dimana-mana,” ujar Surono.

Dia menuturkan, jumlah lalat yang menyerbu tempat usahanya kian bertambah beberapa bulan terakhir. Bertambahnya jumlah lalat ini diduga karena jumlah ayam di peternakan itu semakin banyak.

Baca juga: Penjelasan Koordinator PAMSIMAS Terkait Pengerjaan Air Bersih di Desa Bere

Menurutnya, Dia dan Alfonsius Dabur serta warga di sekitar peternakan selama ini telah mengajukan keberatan melalui RT, RW dan Lurah Compang Tuke. Akan tetapi, hingga saat ini, masalah tak kunjung tuntas.

“Kami sudah lapor RT, RW dan Lurah. Waktu itu ada surat dari Lurah untuk panggil pemilik usaha bertemu warga di kantor Lurah. Waktu di Kantor Lurah pemilik usaha tidak hadir, yang hadir malah karyawan. Lurah perintahkan Peternakan untuk atasi masalah tapi sampai sekarang tidak ada realisasi,” jelas Surono.

Pemilik Peternakan yang diketahui bernama Yudi berdasarkan informasi dari pekerja di peternkan, saat ini berada di Surabaya, Jawa Timur.

Pemilik Peternakan Usir Wartawan

Untuk melihat lansung kondisi peternakan itu, bersama warga setempat Dawainusa.com dan beberapa awak media lain mendatangi lansung peternakan.

Di dalam peternakan, awak media sempat bertemu dengan karyawan yang merupakan penanggung jawab. Pria bernama Surip itu, bungkam saat ditanya awak media terkait persoalan yang dikeluhkan warga.

Surip sempat menjelaskan kepada wartawan terkait jumlah ayam pada peternakan itu sebanyak 7000 ekor ayam petelur. Selanjutnya, dia meminta awak media untuk menunggu karena harus berkonsultasi dengan Yudi melalui telepon.

Baca juga: Warga Pertanyakan Pengerjaan Air Minum dari PAMSIMAS di Desa Bere

Usai berbincang dengan Yudi melalui telepon, Surip selanjutnya meminta awak media pulang atas perintah Yudi sang pemilik peternakan.

“Sampean (Anda) diminta pulang dari sini, itu perintah bos. Katanya, kalian masuk tanpa izin di tempat ini,” kata Surip meniru pernyataan Yudi di telepon dengan nada marah.

Permintaan Surip diladeni oleh awak media dengan meninggalkan tempat tersebut. Meski terdengar beberapa kali surip memanggil kembali, awak media yang tidak terima dengan perlakuan pihak peternakan memilih pulang.*(Elvis Yunani).

COMMENTS