HP Mahal, Seorang Ayah Tunda Sekolahkan Anak
Foto Kolase/Ist

Dawainusa.com – Seorang ayah tunda sekolahkan anahnya gara-gara harga telepon genggam alias handphone (HP) mahal.

Dilansir dari RRI.co.id, Sabtu (24/4/2021), pria yang berprofesi sebagai tukang sewa kuda tunggang itu tinggal di kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Diketahui, sang ayah yang bernama Yanyan Sobiana (30) harus rela sekolah sang anak perempuannya lantaran tidak memiliki uang untuk membeli smartphone.

Baca jugaKapal Selam KRI Nanggala 402 Dinyatakan Tenggelam

Sang Ayah Tunda Sekolahkan Anaknya

Pasalnya di masa pandemi Covid-19, proses belajar mengajar di sekolah harus melalui sistem Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring.

Calon para peserta didik dituntut untuk memiliki Handphone agar dapat mengikuti sekolah daring.

Yanyan menuturkan, saat ini anak perempuannya yang sudah berusia 7 tahun terpaksa harus menunda masuk Sekolah Dasar (SD) karena keterbatasan biaya.

Pasalnya uang yang ia dapat dari hasil menyewakan kuda tunggang pada anak-anak, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Dikatakan, ia dan istrinya pun sama sekali tidak memiliki handphone untuk digunakan anaknya sekolah daring.

“Jangankan buat beli Hp (ponsel genggam) yang harga jutaan, buat beli buku atau seragam sekolah saja udah gak ada uang,” kata Yanyan, saat ditemui di tempat mangkalnya menyewakan kuda, di Jalan Gorontalo raya, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Sabtu (24/4/2021).

Yanyan menceritakan, paling banyak membawa pulang uang dari hasil menyewakan kuda tunggang sebesar Rp30ribu.

Hasil yang Ia dapat tersebut masih kotor, karena Yanyan harus menyisihkan sebagian untuk bayar sewa kuda.

“Saya kan kuda ini nyewa, seminggu Rp200 ribu bayarnya,” ungkap pria asal Bandung, Jawa Barat itu.

Setiap hari Yanyan berangkat dari rumah kontrakannya di Sukapura, Cilincing, menuju Tanjung Priok dengan menaiki angkot.

Sedangkan kuda yang digunakan Yanyan untuk mencari nafkah ditempatkan di penangkaran kuda di kawasan Penjaringan.

Gambar Ilustrasi HP
Foto Ilustrasi/Ist

Baca jugaMin Aung Hlaing Tiba di Jakarta Untuk Hadiri KTT ASEAN

Setiap harinya kuda yang digunakan diangkut menggunakan truk oleh pemiliknya ke lokasi Yanyan mencari nafkah.

Setidaknya ada 7 orang yang setiap hari menawarkan kuda untuk ditunggangi anak-anak di kawasan Tanjung Priok.

Bagi orang tua yang ingin menyenangkan buah hatinya dengan berkuda ditarif sebesar Rp10 ribu, untuk sekali putaran atau jarak sekitar 2 Kilometer.

“Pas ada Corona aja sih turun banget penghasilan, sehari paling banyak 3 tarikan, hari ini saja baru dapat satu,” ungkap Yanyan.

Belum lagi, bila hujan seharian mengguyur Ibukota, Yanyan harus gigit jari karena pulang tak membawa uang.

Tidak jarang selama seharian Yanyan harus mengencangkan ikat pinggang saat musim hujan.

“Kalau lagi hujan sehari ya, bisa nggak dapat uang sama sekali. Untuk makan keluarga di rumah ya sisa dari kemaren. Saya di sini ya kadang cuma makan roti yang harga seribu, sama minum aja seharian,” ungkapnya.*