Dawainusa.com — Sebuah cerita haru dan pilu datang dari ujung timur Pulau Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Seorang ayah tega menghabisi nyawa kedua anaknya yang masih balita pada Selasa (4/8) lalu.

Adalah Andreas Pati (25), warga Kecamatan Witihama, Flores Timur. Karena ditinggal istri yang pergi untuk merantau, ia secara kejam membunuh dua anak kandungnya lantaran tak mampu lagi membiayai hidup keluarga.

Dalam pengakuannya, AP mengakui bahwa peristiwa pembunuhan tersebut telah ia rencanakan beberapa hari sebelumnya. Semula ia berencana akan membunuh dengan pisau, tapi pada hari naas itu menghabisi nyawa anak-anaknya dengan parang panjang.

Sungguh, nyawa kedua anaknya tak lagi tertolong. Ibu, adik dan warga sekitar pun tak mampu membendung niat pelaku karena pelaku melakukannya dalam rumah dengan pintu-pintu yang terkunci, tepat di sore hari sekitar pukul 17.00 WITA.

Rekaman gambar penangkapan AP oleh kepolisian setempat yang beredar di media sosial memperlihatkan AP tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana pendek jeans.

Demikian dengan parang yang digunakannya untuk menghabisi nyawa anaknya, disebarkan oleh beberapa akun Facebook warga Flores Timur.

Sementara itu, foto-foto kedua anaknya yang telah meninggal, YB (3) dan AB (2), membuat warga menyimpan iba mendalam. Ini kisah yang tragis.

Dari hasil visum dari petugas medis Puskesmas Witihama, Flores Timur, diketahui bahwa kedua korban mengalami luka di masing-masing leher.

AP mengatakan kepada kepolisian bahwa ia mengalami stres karena harus menanggung biayai hidupnya kedua anaknya, sementara istrinya pergi merantau.

Kepada Kompas, Kamis (6/8), Kasat Reskrim Polres Flores Timur Iptu I Wayan Pasek Sujana mengatakan, alasan ekonomi menjadi motif utama pelaku melakukan aksinya.

Kronologi Pembunuhan di Flores Timur

Menurut penuturan Sujana setelah memeriksa saksi-saksi, aksi pelaku sempat tepergok ibu dan adik perempuannya, Yuliana Ose Doni (52) dan Hendrikus Boli Ola (20).

Saat itu, Yuliana baru pulang dari kebun dan curiga karena melihat pintu dan jendela rumahnya dalam keadaan tertutup.

Lalu, Yuliana mencoba mengintip dari lubang jendela dan dirinya terkejut saat melihat pelaku sedang membunuh kedua anaknya.

Yuliana lalu mencari pertolongan dengan berteriak memanggil anaknya yang lain, yaitu Hendrikus, dan para tetangga di sekitar.

Kemudian tetangga dan adik pelaku datang dan mendobrak pintu, tapi tidak terbuka. Pelaku yang telah gelap mata justru membuka pintu kemudian mengejar ibu dan adiknya.

Namun, keduanya berhasil selamat. Pelaku lalu melarikan diri karena dikejar warga. Lantas ia memanjat pohon kelapa untuk mengelakkan diri.

Selama berjam-jam pelaku bertahan di atas pohon kelapa hingga akhirnya aparat polisi dari Polres Flores Timur datang dan menciduk pelaku.

Pelaku pun dimintai keterangan dan bertanggung jawab atas kejadian naas tersebut. Polisi pun menetapkan pelaku sebagai tersangka dan menyita semua barang bukti, mulai dari parang, baju dan alat bukti lain yang dipakai pelaku untuk membunuh korban.

Atas perbuatannya, polisi menjeratnya dengan Pasal 80 ayat 3 dan 4 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak subsider pasal 340 KUHP dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. Tersangka juga dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.*