Sejumlah Tanggapan di Balik Politik Sontoloyo ala Jokowi

Sejumlah Tanggapan di Balik Politik Sontoloyo ala Jokowi

JAKARTA, dawainusa.com – Pada acara pembagian 5.000 sertifikat tanah untuk warga DKI Jakarta di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (13/10) kemarin, Presiden Jokowi menyerukan kepada masyarakat supaya lebih hati-hati dengan praktik politik sontoloyo.

“Hati-hati, banyak politik yang baik-baik, tapi juga banyak sekali politik yang sontoloyo,” kata Jokowi.

Praktik politik sontoloyo ini, demikian Jokowi, dilakukan oleh banyak politisi di Indonesia dengan tujuan untuk mendapatkan simpati dari rakyat demi meraih kursi kekuasaan.

“Segala jurus dipakai untuk memperoleh simpati rakyat tapi (dengan cara) yang gak baik, sering menyerang lawan politik dengan cara-cara yang tidak beradab juga tidak ada tata kramanya,” ujar Jokowi.

Baca juga: Politikus Sontoloyo ala Jokowi, Siapa Sesungguhnya yang Sontoloyo?

Pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden Jokowi tersebut merupakan reaksi atas polemik soal dana kelurahan, yang dalam agendanya akan dikeluarkan pada 2019 mendatang.

Dana kelurahan tersebut oleh sebagian politikus di Indonesia, dalam hal ini ialah poros oposisi dipelintir menjadi sebuah isu politik. Padahal, menurut Jokowi sendiri, masalah soal dana kelurahan tersebut tidak ada kaitannya dengan kepentingan politik.

Dana tersebut, jelas dia, diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan masyarakat di kampung-kampung. “Kehidupan bukan politik saja, ada sosial, budaya ekonomi, kenapa semua dihubungkan dengan politik,” ujar Jokowi.

Politik Sontoloyo, Mengorbankan Kewarasan

Pernyataan Jokowi soal politik sontoloyo tersebut melahirkan sejumlah tafsiran dari berbagai pihak. Anggota TNK Jokowi-Ma’ruf Amien, Budiman Sudjatmiko misalnya mengartikan praktik politik seperti itu sebagai cara berpolitik yang mengorbankan kewarasan.

Menurut dia, politik sontoloyo kerap tidak peduli kepada kategori-kategori yang rasional. Semangatnya didorong oleh rasa kebencian dan dilakukan untuk memenuhi kepentingan jangka pendek serta cenderung provokatif.

Baca juga: Petikan Debat Panas Adian Napitupullu vs Gamal Albinsaid

Sebagai akibat dari praktik politik seperti ini, demikian Budiman, persatuan dan kesatuan berbangsa dan bernegara menjadi terganggu.

Budiman Sudjatmiko

Budiman Sudjatmiko – ist

“Kalau pecah belah berhasil yang rugi bukan Pak Jokowi, tapi bangsa. Mengorbankan kewarasan bangsa, keutuhan bangsa itu kemudian rusak hanya karena kebencian, emosi sesaat yang bisa membakar banyak hal yang berkaitan dengan bermasyarakat dan bernegara itulah masalahnya,” kata Budiman.

Politik Sontoloyo, Praktik Politik yang Suka Beri Janji Palsu kepada Rakyat

Sementara itu, pihak oposisi sendiri memberikan arti lain soal politik sontoloyo yang diucapkan oleh Presiden Jokowi tersebut.

Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra, Andre Rosiade mengatakan, politik sontoloyo dapat dilihat pada pemimpin yang suka memberikan janji kepada masyarakat tetapi tidak pernah mewujudkan janjinya tersebut.

“Politisi sontoloyo itu, politisi yang berjanji sama rakyat sudah menjabat dia lupa sama janjinya dengan rakyat. Ya silakan masyarakt menilai. Anda berjanji A-B-C-D, Anda memimpin nggak menepati janjinya, itu sontoloyo. Itu adalah pemimpin yang tidak prorakyat,” kata Rosiade di Jakarta, Selasa (23/10).

Baca juga: Seruan Hindari Politik Bohong, Sebuah Sindiran untuk Kubu Prabowo?

Selain itu, politikus sontoloyo ini juga ialah mereka yang ketika membuat suatu kebijakan tidak pernah dilakukan melalui perencanaan dan payung hukum. Hal itu, kata dia, terlihat dalam kebijakan dana kelurahan yang dilakukan yang sedang ramai dibicarakan.

Andre Rosiade

Andre Rosiade – ist

“Sontoloyo kalau di KBBI artinya konyol. Konyol itu apa? Politikus yang ambil kebijakan tanpa ada perencanaan. Kebijakan itu harus pakai perencanaan, harus pakai payung hukum. Contoh dana kelurahan itu kayak dana desa, harus ada aturan hukumnyalah, lalu harus ada perencanaan,” ujar Rosiade.

Rosiade sendiri enggan untuk memberikan komentar yang jelas terkait siapa politikus sontoloyo itu. Ia mengatakan bahwa biarkan semuanya itu dinilai oleh masyarakat Indonesia sendiri. Ia percaya bahwa rakyat akan mampu melihat secara kritis dan benar siapa sebenarnya yang sontoloyo.

“Kita sepakat sama Pak Jokowi kita harus all out, politisi sontoloyo. Siapapun itu sontoloyo masyarakat bisa menilai siapa yang sontoloyo,” kata dia.*