Sejumlah Argumen di Balik Resolusi Jihad Ekonomi ala Sandiaga

Sejumlah Argumen di Balik Resolusi Jihad Ekonomi ala Sandiaga

SURABAYA, dawainusa.com  Calon wakil presiden Sandiaga Uno mencentuskan resolusi jihad ekonomi untuk menjawab persoalan pembangunan yang terjadi selama kepemimpinan Presiden Jokowi.

Resolusi tersebut sekaligus menjawab apa yang menjadi keinginan masyarakat. Karena pembangunan di bawah presiden Jokowi secara umum dinilai cenderung tidak memuaskan rakyat kecil.

Menurut Sandiaga, kesenjangan ekonomi yang masih terjadi di era pemerintahan Jokowi-Kalla mesti segera diakhiri. Setiap calon pemimpin mesti memberikan solusi terbaik agar masyarakat keluar dari himpitan ekonomi.

Baca juga: Bendera Dibakar, dari Kemarahan FPI hingga Klaim Selamatkan Tauhid

Karena itu, Sandi mengkalim bahwa jihad ekonomi merupakan pilihan terbaik untuk keluar dari kondisi ekonomi Indonesia saat ini.

“Buat saya ini adalah momen kita untuk resolusi jihad ekonomi, bahwa kita mengalami pembangunan yang dirasakan masih ada kesenjangan ketimpangan, pembangunan baik, tapi belum memberikan dampak manfaat bagi masyarakat,” kata Sandiaga di Surabaya, Selasa(23/10)

Ia menambahkan, untuk memahami keadaan ekonomi sebenarnya, calon pemimpin harus terjun ke pasar-pasar rakyat. Terjun langsung ke masyarakat diperlukan agar mengetahui kondisi yang sebenarnya. Dengan demikian, situasi ini menjadi dasar merumuskan jalan keluar yang tepat bagi masyarakat.

Tiga Persoalan Utama Ekonomi Hari Ini

Adanya gagasan tentang resolusi jihad ekonomi, menurut Sandiga, dilatarbelakangi oleh berbagai macam persoalan ekonomi yang mendera masyarakat Indonesia hari ini.

Setidaknya ada tiga persoalan utama yang menjadi utang pemerintahan saat ini. Beberapa persoalan tersebut antara lain lapangan kerja, harga bahan pokok dan peluang usaha bagi anak muda.

Ketiga persoalan ini, demikian Sandi, menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dan menjadi pekerja rumah bagi pemerintah. Masalah ketersedian lapanga kerja misalnya, hal ini terjadi karena pemerintah tidak memberikan perhatian yang cukup serius untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang baru bagi masyarakat.

Baca juga: Asisten Ratna Sarumpaet Beri Kesaksian soal Kabar Hoax Penganiayaan

Selain itu, pemerintah juga belum memberikan perhatian yang cukup serius terhadap pengembangan wirausaha bagi anak-anak muda. Sementara dalam struktur pemerintahan, ada kementrian yang cukup relevan untuk mengembangkan konsep kewirausahaan. Namun demikian, upaya pemerintah belum dirasakan oleh anak-anak muda.

“Ini merupakan suatu bukti bahwa harapan masyarakat bahwa resolusi jihad zaman now adalah resolusi jihad bagaimana ekonomi kita perbaiki,” jelas Sandi.

Sandi menyakini, rumusan baru yaitu jihad ekonomi menjadi jalan baru yang mampu menghadirkan pemerataan ekonomi bagi masyarakat. Konsep ini juga diyakini akan mampu mengendalikan perekonomian bangsa Indonesia dari cengkeraman bangsa asing.

“Kita akan memberikan peluang pada anak-anak bangsa lapangan pekerjaan, harga bahan pokok yang lebih terjangkau, bagaimana perusahaan-perusahaan bisa memberikan kelapangan kepada anak bangsa, bukan kepada tenaga kerja asing,” tegas Sandi.

Bangun Kemandirian Ekonomi

Lebih lanjut Sandi menegaskan, bangsa Indonesia harus berani mengambil langkah tegas seperti membangun kemandirian ekonomi nasional. Langkah ini diperlukan agar potensi -potensi ekonomi dan sumber daya manusia dalam negeri dapat dimaksimalkan.

Masalah ketetersedian lapangan kerja, hemat Sandi, tidak perlu membangun perusahaan besar yang membutuhkan biaya besar. Pemerintah cukup hanya memberikan akses yang luas kepada anak-anak muda untuk membangun usaha sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Baca juga: Pilpres 2019, Pantaskah Kedua Kubu Bicara soal Politik Kebohongan?

Bersamaan dengan perayaan hari santri nasional, Sandi kembali menegaskan bahwa Santri dann anak-anak muda pada umumnya harus menjadi garda terdepan untuk memajukan ekonomi Indonesia. Santri harus menjadi warga negara aktif yang giat menjadi pelaku ekonomi.

“Santri harus menjadi pencipta lapangan kerja, jangan sampai menjadi pencari kerja, maka ada program Santripreuneur ini,” kata Sandiaga.

Hal ini tidak terlepas dari peran besar santri dalam usaha-usaha mencapai kemerdekaan Indonesia. Jaringan santri seluruh Indonesia juga sangat cukup untuk membangun kemitraan dalam pengembangan kewirausahaan. Dengan demikian, santri menjadi salah satu penentu kemajuan ekonomi Indonesia.*