Sebut Prabowo-Sandi, Zulkifli Hasan Dinilai Kotori Mimbar Kampus

Sebut Prabowo-Sandi, Zulkifli Hasan Dinilai Kotori Mimbar Kampus

JAKARTA, dawainusa.com – Ketua MPR Zulkifli Hasan dinilai telah mengotori mimbar akademik kampus dengan agenda politik praktis Pilpres 2019. Pasalnya, Zulkifli menyebut nama pasangan Prabowo-Sandi pada saat seminar kebangsaan dan kuliah umum di Universitas Muhammadyah Purwokerto.

Pemerhati Pendidikan Doni Koesoema langsung memberikan kritik keras atas kejadian tersebut. Kampus sebagaimana dijelaskan Doni, merupakan ruang akademik dengan dialog ilmu pengetahuan sebagai ciri utamanya.

Baca juga: Ruang Siber dalam Moncong Politik Kepentingan

Kampus juga menjadi sarana menelaah secara kritis akademis berbagai hal yang terjadi di masyarakat umum. Karena itu, Doni menegaskan bahwa kampus tidak boleh dinodai dengan politik untuk merebut kekuasaan.

“Kalau ini kuliah umum, acara akademis, maka telaahnya harus akademis. Tapi kalau kuliah umum ada kampanye, itu sudah dinodai. Kan semestinya politisi mengajarkan mahasiswa analisis, situasi pemetaan bangsa, gitu, Kalau itu yang dilakukan, nggak apa-apa,” kata Doni di Jakarta, Rabu (26/9).

Menjadi kewajiban bagi seorang politisi untuk memiliki analisis kritis terhadap kondisi ekonomi dan sosial kenegaraan. Analisis ini juga mesti didasari dengan basis argumentasi yang kuat. Menurut Doni, ini menjadi modal bagi seorang politisi ketika bertemu mahasiswa dalam ruang akademik.

Kampus sebagai Ruang Akademik yang Syarat dengan Kegiatan Ilmiah

Doni kembali menegaskan, kampus merupakan ruang akademik yang syarat dengan kegiatan ilmiah. Tetapi, ia menggarisbawahi, kampus tidak boleh alergi untuk berbicara tentang politik. Satu hal yang ditekankan oleh Doni ialah pembicaraan politik di lingkungan kampus mesti berbasis pada argumentasi dengan kajian ilmiah.

Bagi Doni, dengan adanya ciri khas kampus yang syarat  dengan nuansa akademik tersebut, kampanye politik di kampus tidak cukup dengan menunjukkan slogan-slogan politik kepada mahasiswa. Ruang politik di kampus mesti dibawa pada perdebatan akademik keilmuan.

“Kampus itu tempat akademik. Jadi siapapun calon presiden boleh bicara apa tantangan bangsa, krisis bangsa, apa saja yang bisa dilakukan mahasiswa. Harus ada level akademiknya. Kalau kampus jadi ajang kampanye yang isinya slogan-slogan, itu kurang tepat,” jelas Doni.

Baca juga: Kubu Jokowi: PKS Paling Hebat Kutip Ayat-Ayat untuk Kepentingan Politik

Menurut Doni, penting bagi Capres dan Cawapres untuk membedakan ruang akademik kampus dan ruang politik praktis secara umum. Dengan adanya pemahaman utuh terhadap pembedaan wilayah seperti itu, Capres dan Cawapres mampu menempatkan diri secara benar pada setiap tempat dan situasi tertentu.

Ia juga mengingatkan kepada para politisi terutama Capres dan Cawapres untuk menghargai otonomi kampus. Kampus diisi oleh orang-orang yang memiliki kemampuan intelektual. Menghargai otonomi kampus sama dengan memberi hormat kepada intelektual yang ada di kampus.

“Harus hargai otonomi kampus. Dan kemudian, nasihat saya untuk capres-cawapres untuk hargai mimbar akademik seperti kita menghargai kemampuan intelektual warga negara kita. Jadi jangan dilecehkan dengan slogan-slogan yang tidak argumentatif dan itu tidak edukatif,” tegas Doni.

Sebenarnya, tegas Doni, pasangan Capres dan Cawapres sah-sah saja berbicara tentang politik di depan mahasiswa. Namun, pembicaraan politik dengan mahasiswa mesti disertai dengan pemaparan program kerja yang akan dilakukan ketika diberi mandat oleh rakyat.

Pembicaraan dalam Ruang Seminar Harus Sesuai dengan Tema Kegiatan

Menurut Doni, tema seminar ‘Masa Depan Ekonomi Pancasila dan Tantangan Startup Wirausaha di Era Generasi Millenial’ yang dibahas dalam seminar itu menarik untuk didiskusikan.

Untuk menjawab tema seminar tersebut, semua narasumber berbicara sesuai dengan tema kegiatan. Narasumber juga berbicara sesuai dengan pengalaman dan keilmuannya masing-masing.

“Temanya menarik. Jadi mestinya ditinjau dari segi keilmuannya. Kan kalau Sandi entrepreneur tuh, jadi dia bicara pengalamannya saja. Nggak apa-apa. Kalau dia bicara pilihlah saya dengan program saya begini, begini, begini, kemudian jargon-jargon. Itu nggak tepat,” ungkap Doni.

Baca juga: Moralitas Otentik dan Kebohongan Politik

Doni berharap, kejadian yang dialami oleh Ketum PAN Zulkifli Hasan tidak terulang kembali. Sebelumnya, Zulkifli diteriaki oleh mahasiswa saat mengisi  seminar kebangsaan di Hotel Karlita, Purwokerto, Jawa Tengah. Pada saat itu, Zulkifli berbicara di luar tema seminar yang ada.

Namun, Wasekjen PAN Saleh Partaonan Daulay membantah teriakan mahasiswa tersebut sebagai bentuk sindiran kepada Ketua Umum PAN dan juga Cawapres Sandiaga Uno yang hadir pada kesempatan tersebut. Ia menilai, hal itu merupakan ekspresi wajar dari setiap mahasiswa.

“Mahasiswa dalam berbagai kesempatan biasa menunjukkan ekspresinya. Saya kira ekspresi itu bisa juga ditafsirkan sebagai ekspresi rasa suka dan senang. Tidak perlu dipersoalkan terlalu berlebihan,” tegas Saleh.*