Sebut Prabowo Asu, Bupati Boyolali Dilaporkan ke Bareskrim Polri

Sebut Prabowo Asu, Bupati Boyolali Dilaporkan ke Bareskrim Polri

JAKARTA, dawainusa.com Pidato Prabowo Subianto beberapa waktu lalu yang menyingung ‘Tampang Boyolali’ tidak mampu masuk hotel mewah di Jakarta berbuntut panjang. Setelah aksi bela ‘Tampang Boyolali’ yang digelar warga Boyolali, kali ini Bupati Boyolali Seno Samodro harus berurusan dengan aparat kepolisian.

Kader PDI Perjuangan itu dilaporkan ke Bareskrim Polri lantaran dianggap menghina Prabowo Subianto. Seno dituduh menyebut Prabowo dengan bahasa Jawa, asu, yang artinya anjing.

Melansir Viva.co, Ahmad Iskandar yang menjadi palapor dalam kasus tersebut mengatakan, kehadiran Bupati Boyolali dalam demo massa sesuai dengan fakta dan rekaman video yang ada. Dalam demo itu, Seno Samodro sempat berpidato dan menyatakan Prabowo asu.

Baca juga: Aksi Bela ‘Tampang Boyolali’: Pesanan dari Jakarta?

“Perkataan Bupati Boyolali itu dengan sengaja menerbitkan keonaran di kalangan masyarakat. Dikarenakan yang dituju dalam pernyataan tersebut adalah seorang capres yang banyak memiliki pendukung di kalangan rakyat,” ujar Ahmad, Senin (5/11).

Pasal yang dilanggar sekaligus dalil hukum yang digunakan pelapor dalam kasus ini adalah Pasal 156 KUHP Jo pasal 14 dan 15 UU No 1 tahun 1946.

Pelapor juga  mengaku membawa barang bukti berupa video dan hasil screenshot dari media online. Laporan tersebut terdaftar dengan nomor laporan LP/B/1437/XI/2018/BARESKRIM, tanggal 5 November 2018.

Bupati Boyolali Tendensius

Sorotan yang sama juga datang dari Wakil Ketua BPN Prabowo-Sandiaga, Yandri Susanto. Yandri membandingkannya dengan pidato Prabowo Subianto. Menurutnya, ucapan Bupati Seno yang seharusnya disoroti karena tidak pantas dilontarkan dari seorang kepala daerah.

“Orang-orangan yang sok membela orang Boyolali justru katakan kata-kata tidak pantas, terutama bupati Boyolali yang katakan Prabowo Asu, itu lebih tendensius dan ujaran kebencian dan kita akan laporkan itu pada kepolisian,” kata Yandri di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/11).

Baca juga: Gara-gara ‘Tampang Boyolali’ Prabowo Subianto Dipolisikan

Berbanding terbalik dengan pidato Bupati Seno, menurut Yandri, pidato Prabowo yang ramai dibicarakan karena dinilai meremehkan tampang warga Boyolali itu sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkan.

“Kalau pidato Prabowo diikuti secara lengkap dan tuntas, sebenarnya nggak ada nada ataupun kata-kata Prabowo yang tujuannya menghina orang Boyolali,” ujarnya.

Pernyataan Yandri merujuk pada konteks pembicaraan Prabowo. Tampang Boyolali disebutkan Prabowo dalam konteks pembicaraan kemiskinan di Indonesia. Ia membandingkan timpangnya ekonomi di Indonesia.

Ia melihat pertumbuhan di Jakarta, sangat berbeda dengan daerah lain, indikatornya banyak gedung tinggi, termasuk hotel-hotel ternama dunia.

Potongan Pidato Prabowo

Berikut potongan pidato Prabowo:

Seharusnya kami pensiun, seharusnya kita istirahat tapi kami melihat bahwa negara dan bangsa masih dalam keadaan tidak baik, saya memberi usia saya untuk bangsa ini, saya memberi jiwa dan raga saya untuk bangsa ini.

Tapi begitu saya lihat Jakarta, saya melihat hotel-hotel mewah.

Gedung-gedung menjulang tinggi.

Sebut aja hotel paling mahal di dunia, ada di Jakarta.

Ada Ritch Calton, ada wardlof astoria, ngomong aja kalian nggak bisa sebut.

Dan macem-macem itu semua.

Dan saya yakin kalian nggak pernah masuk hotel-hotel tersebut, betul?

(betul, sahut hadirin yang ada di acara itu).

Mungkin kalian diusir, tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang kalian ya tampang orang Boyolali ini.

COMMENTS