Sebut Media Memanipulasi Demokrasi, Prabowo Dikritik Dewan Pers

Sebut Media Memanipulasi Demokrasi, Prabowo Dikritik Dewan Pers

JAKARTA, dawainusa.com – Anggota Dewan Pers, Hendry Ch Bangun memberikan komentar soal pernyataan Calon Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut media massa di Indonesia tidak fair karena tidak memberitakan aksi massal yang dilakukan oleh para Alumni 212 di Monas, Minggu (2/12) lalu.

Menurut Bangun, keputusan media massa di Indonesia untuk tidak menjadikan acara ‘Reuni 212’ itu sebagai berita utama sesungguhnya merupakan wujud dari independensi media.

Baca juga: Polemik Soal Kritik Prabowo Subianto kepada Media Pasca Reuni 212

“Ketika menurunkan sebuah headline, media mempertimbangkan dengan baik visi dan misinya. Kalau dikatakan tidak independen, salah besar. Sebab kalau media menulis karena tekanan, justru tidak independen,” kata Bangun dilansi BBC, Jumat (7/12).

Bangun kemudian menyebutkan bahwa Prabowo semestinya membaca dan memahami Undang-undang (UU) tentang Pers. Dengan demikian, ia bisa mengetahui tentang bagaimana seharusnya keberadaan media massa di alam demokrasi.

Pernyataan Prabowo Subianto yang Menyinggung Media Massa

Pernyataan Prabowo Subianto yang menyinggung media massa itu disampaikannya ketika memberikan sebuah pidato pada acara peringatan Hari Disabilitas Internasional di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Rabu (5/12).

“Kita dipandang dengan sebelah mata, kita nggak dianggap, karena dibilang kita nggak punya duit. Mereka sudah tutup semua. Buktinya hampir semua media tidak mau meliput 11 juta lebih orang yang berkumpul, belum pernah terjadi di dunia,” kata Prabowo.

Dengan peristiwa tersebut, Ketua Umum Partai Gerindra itu mengatakan ada upaya besar untuk memanipulasi demokrasi di Indonesia. Caranya, kata dia, lewat duit. Padahal duit itu katanya merupakan uang rakyat yang dirampok dengan modus dan cara yang licik.

“Mereka mengira dengan uang yang besar, uang yang didapat dari praktik-praktik yang tidak benar, kasarnya uang dari yang mereka dapat dari mencuri uang rakyat Indonesia, dengan uang itu mereka mau menyogok semua lapisan bangsa Indonesia. Semua lapisan. Parpol mau dibeli, pejabat mau dibeli di mana-mana, rakyat mau dibohongi, rakyat mau dicuci otaknya dengan pers yang terus terang banyak bohongnya dari benernya,” ujar dia.

Baca juga: Intip Kritikan Prabowo dan Sindiran Jokowi Jelang Pilpres 2019

Selain mengatakan demikian, Prabowo juga berkomentar bahwa banyak media hari ini yang menyuplai kebohongan. Ia mengatakan, setiap pagi dirinya menerima 8 koran dari media. Ia pun mengaku dirinya ingin melihat isi koran itu untuk mengetahui kebohongan apa yang hari itu menurutnya diterbitkan.

“Saudara-saudara, aku tiap hari ada kira-kira 5-8 koran yang datang ke tempat saya, saya mau lihat, bohong apa lagi nih, bohong apa lagi nih, itu aja, saya hanya mau lihat itu. Bohong apa lagi yang mau mereka cetak. Dan puncaknya kemarin hari Minggu, puncaknya mereka menelanjangi diri mereka di hadapan rakyat Indonesia. Ada belasan juta mereka tak mau melaporkan, mereka telah mengkhianati tugas mereka sebagai wartawan, tugas mereka sebagai jurnalis,” ucap Prabowo.

Lebih lanjut ia mengatakan, jurnalis yang suka menyuplai kebohongan lewat pemberitaannya merupakan antek yang ingin menghancurkan republik Indonesia.

“Saya katakan, ‘Hei media-media yang kemarin tidak mau mengatakan ada belasan juta orang atau minimal berapa juta di situ, kau sudah tak berhak menyandang predikat jurnalis lagi. Boleh kau cetak, boleh kau ke sini dan ke sana. Saya tidak mengakui Anda sebagai jurnalis. Ndak usah, saya sarankan kalian tidak usah hormat sama mereka lagi, mereka hanya antek orang yang ingin menghancurkan republik Indonesia,’” tutur Prabowo.

Media Selalu Mengendepankan Kepentingan Publik

Pernyataan Prabowo tersebut bagi Bangun sama sekali tidak benar. Seharusnya, demikian Bangun, apabila hendak memberikan kritik kepada media, hal itu dilakukan dengan benar, bukan dengan menuding dan menghujat.

Selama ini, lanjut Bangun, ia melihat bahwa sejumlah media nasional masih berada di dalam jalur yang benar. Mereka selalu meliput pemberitaan seperti yang berkaitan dengan Pilpres 2019 dengan tetap mengikuti kaidah jurnalistik.

Baca juga: Jawaban-jawaban Menohok Menko Luhut Atas Kritikan Prabowo Subianto

“Media itu kan sejatinya mengedepankan kepentingan publik, tidak partisan, dan itulah yang dilakukan sekarang. Kalau ada yang dianggap partisan, biar masyarakat yang menilai. Sekarang bukan zamannya mengata-ngatai, lalu apa gunanya?” kata Bangun.

Bangun sendiri yakin bahwa masyarakat masih percaya dengan peran dan tugas media massa saat ini. Ia menegaskan, media massa tetap merupakan garda terdepan untuk menangkal berbagai berita bohong atau hoaks yang belakangan ini merangsek masuk ke ruang publik.*

COMMENTS