Sebelum Tewas Terbunuh, Sarah Mengeluh Tangannya Bau Amis

Sebelum Tewas Terbunuh, Sarah Mengeluh Tangannya Bau Amis

BEKASI, dawainusa.com Bunga Rebista Panjaitan tak pernah menyangka jika tingkah aneh muridnya Sarah Boru Nainggolan, adalah pratanda jika gadis berusia 9 tahun itu harus pergi selamanya.

Sarah bersama sang adik Arya Nainggolan (7) dan kedua orangtuanya adalah korban  pembunuhan keji yang terjadi di Jalan Bojong Nangka 2 RT 002/07, Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa (13/11) kemarin.

Bunga Rebista yang adalah wali kelas Sarah baru menyadari jika ada beberapa kejadian aneh yang sempat dialami Sarah sebelum bocah sekolah dasar itu tewas mengenaskan. Awalnya, Sarah mengeluh mencium bau amis pada tangannya.

Baca juga: Pembunuhan Jurnalis Arab Saudi, Berikut Penggalan Rekamannya

Padahal saat itu Sarah masih mengikuti proses belajar mengajar di kelasnya. Sarah lalu mengeluh ke wali kelasnya, jika ia mencium ada aroma amis di tangannya.

“Sarah bilang ke saya, ‘ibu tangan saya bau amis,’ sampai bolak-balik cuci tangan. Saya cium, enggak kok. Kata dia (Sarah) ah ibu kali hidungnya,” cerita Wali Kelas Sarah, Bunga Rebista Panjaitan, seperti dikutip Grid.ID, Rabu (14/11).

Bunga Rebista meminta Sarah Boru Nainggolan untuk menggunakan sabun cuci tangan agar bau amisnya segera hilang. Padahal, ia sama sekali tidak mencium aroma amis di tangan anak muridnya itu.

“Sudah cukup, sudah enam kali, kalau mau cuci terakhir dengan sabun sekalian ya!” perintah Bunga Rebista pada Sarah Boru Nainggolan kala itu.

Akhirnya Sarah Boru Nainggolan pun mengikuti saran dari gurunya. Ia kembali mencuci tangannya untuk ketujuh kali. “Iya ibu,” begitu celetuk Sarah setelah itu.

Bunga Rebista saat ini baru menyadari jika aroma amis itu merupakan pertanda bagi Sarah Boru Nainggolan sebelum terjadi peristiwa nahas itu.

Sebelum Tewas Terbunuh, Sarah Mengeluh Tangannya Bau Amis

Satu keluarga yang menjadi korban pembunuhan di Bekasi – Tribunnews

Cerita Lengkap Pembunuhan 

Dikabarkan sebelumnya, satu keluarga di Kota Bekasi ditemukan tewas Selasa (13/11). Mereka adalah Diperum Nainggolan (38), Maya Boru Ambarita (37), Sarah Boru Nainggolan (9), dan Arya Nainggolan (7).

Mengutip Tirto.id, orang yang pertama kali menemukan mereka tidak bernyawa adalah tetangganya, Feby (35). Feby melihat gerbang kontrakan keluarga Nainggolan terbuka dan televisi di ruangan korban menyala pukul 03.30.

Tidak ada yang merespons ketika Feby memanggil korban dari luar rumah. Feby juga sempat menelpon korban tapi tidak diangkat. Ia pun kembali ke kontrakannya.

Feby curiga sebab tidak ada aktivitas di rumah tersebut hingga tiga jam setelahnya. Karena penasaran, ia melongok ke dalam lewat jendela. Pada saat itulah ia melibat satu keluarga itu sudah tergeletak bersimbah darah.

Baca juga: Sejumlah Fakta di Balik Pembunuhan Karyawati Bank di Lembang

Ia buru-buru memanggil Aris (35) dan Sulistiyanti (46). Ketiganya langsung lapor ke Ketua RT dan Polsek Pondok Gede. Polisi bergerak cepat. Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Idham Azis memerintahkan jajarannya membentuk tim gabungan yang terdiri dari Direktorat Kriminal Umum Polda Metro Jaya dan Polres Bekasi Kota.

Terduka pelaku

Terduka pelaku pembunuhan di Bekasi – BreakingNews

Tim penyidik, Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri, dan tim Indonesia Automatic Finger Print Identification System (INAFIS) Polri mengolah tempat kejadian perkara. Kepolisian menggunakan metode induktif. Artinya, tim mulai memeriksa lokasi, saksi, lalu mencari barang bukti dan menganalisis temuan untuk menemukan titik terang.

Tak butuh waktu lama, pada Rabu (14/11/2018) sekitar pukul 14.00, polisi berhasil menemukan satu unit mobil Nissan X-Trail warna silver dengan nomor polisi B 1075 UOG yang diduga milik korban. Mobil itu terparkir di halaman indekos di Kampung Rawalintah, Desa Mekarmukti, Cikarang Utara.

Dari pemeriksaan terhadap mobil itu, polisi menemukan bercak darah di gagang pintu kanan mobil, di bawah karpet bagian sopir, dan di sabuk pengaman.

“Tadi pagi kami sudah melakukan olah TKP di mobil. Kami menemukan dua telepon seluler korban dan terdapat darah,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di kantornya, Kamis (15/11/2018).

Kepolisian juga menghimpun informasi dari warga setempat dan mendapatkan titik terang bahwa terduga pelaku berinisial HS, berada di Garut, Jawa Barat. Lantas mereka segera menuju lokasi. HS berhasil ditangkap di kediamannya pada Rabu (14/11) malam.

“Ditangkap kemarin pukul 22.00 WIB, di kaki Gunung Guntur. Di sana dia berada di rumah. Kata dia, ia akan mendaki gunung,” kata Argo.

Dalam penangkapan, polisi menggeledah tas milik HS dan menemukan kunci mobil merek Nissan tadi, satu unit telepon seluler, serta uang Rp4 juta. Ketika ditangkap, terduga pelaku masih mengelak dan mengaku tidak membunuh korban.

“Tapi penyidik akan mendalami keterangan ini,” tambah Argo. Polisi juga sempat mengambil sampel kuku HS. “Kuku ada noda hitam, akan dicek Labfor apakah itu darah atau bukan,” tambah dia.

Indekos HS pun tak luput dari penggeledahan polisi, hasilnya ada bercak darah di celana panjang hitam yang ditemukan dalam kamar tersebut.

“Ini semua kami ambil sampel darahnya dan akan dicocokkan. Nanti Puslabfor akan menggunakan pemeriksaan ilmiah,” terang Argo. Ia menambahkan akan menanti hasil pemeriksaan Labfor soal sampel darah guna mencari kesamaan dari bercak darah yang berada di indekos, mobil, dan kediaman korban.

Usai membunuh, HS sempat menuju klinik untuk mengobati luka di telunjuk tangan kanannya. “Kemudian, pada jam 5 pagi ia berobat ke klinik di dekat indekosnya,” ujar Argo.

Klinik tersebut berjarak 500 meter dari indekosnya. Ketika ditanya perawat, pelaku mengaku habis jatuh. HS diketahui masih punya hubungan keluarga dengan korban.

“Masih keluarga, saudara korban perempuan. Dia sudah tidak bekerja selama 3 bulan,” ucap Argo.

Polisi masih mengusut kasus hingga berita ini ditulis. Setidaknya masih ada dua hal yang perlu dicari tahu: pertama alat yang digunakan untuk membunuh; kedua, motif melakukan tindakan keji tersebut.*

COMMENTS