Sebar Berita Hoaks Demo di MK, Dua Pelaku Kembali Ditangkap

Sebar Berita Hoaks Demo di MK, Dua Pelaku Kembali Ditangkap

JAKARTA, dawainusa.com – Dua orang tersangka baru penyebar berita bohong alias hoaks di MK berhasil diringkus oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri. Keduanya ditangkap karena mengubah simulasi polisi terkait pengamanan pemilu 2019 di MK menjadi aksi unjuk rasa mahasiswa turunkan Presiden Jokowi dan menyebarkannya ke media sosial.

Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Rachmad Wibowo menjelaskan, dua tersangka baru tersebut ialah Syahid Muhammad Ridho (35) dan Kharis Muhammad Apriawan (21). Keduanya ditangkap di Jawa Barat dengan lokasi yang berbeda.

Baca juga: Penyebar Hoaks Kericuhan di Gedung MK Berhasil Dibekuk Polisi

“SMR ditangkap pada pukul 20.00 WIB di Kecamatan Cijeruk, Bogor, sedangkan KMA ditangkap pada jam 20.15 WIB, di Kecamatan Setu, Bekasi,” kata Rachmad di Jakarta, Selasa (18/9).

Diketahui, kedua tersangka telah mengunggah video terkait simulasi pengamanan demonstrasi di MK itu dengan menggunakan YouTube. Sementara video yang disebarkan tersebut berasal dari grup MTS. Adapun motif kedua tersangka melakukan perbuatan tersebut karena permintaan rekannya.

Jumlah Tersangka Penyebar Hoaks Jadi Empat Orang

Hingga kini, Bareskrim Polri telah menahan empat orang tersangka dalam kasus penyebaran berita hoaks ini. Keempat orang ini memiliki peran berbeda dalam kasus tersebut.

Seperti dijelaskan oleh Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Brigadir Jenderal Rachmad Wibowo, keempat tersangka terbukti melakukan dugaan tindak pidana dengan menyebarkan berita hoaks melalui akun Facebook.

Rachmad lebih lanjut menjelaskan, untuk tersangka bernama Gun Gun Gunawan, terbukti menyebarkan berita hoaks melalui akun Facebook miliknya bernama Wawan Gunawan. Adapun berita bohong yang disebarkan yakni #MahasiswaBergerak.

Baca juga: Sejumlah Kabar Hoaks yang Menyesatkan dalam Minggu Ini

“Dia telah menyiarkan berita bohong, tidak pasti atau berlebihan tentang unjuk rasa mahasiswa di depan Gedung MK yang diperoleh tersangka dari WhatsApp Grup tanpa mengonfirmasi berita tersebut,” jelas Rachmad.

Adapun tersangka bernama Suhada Al Syuhada Al Aqse melakukan penyebaran berita hoaks melalui akun Facebook dengan nama Syuhada Al Aqse.

Sementara tersangka Muhammad Yusuf menyebarkan berita hoaks melalui akun Facebook bernama DOI. Sementara tersangka terakhir bernama Nugrasius ST menggunakan akun Facebook bernama Nugra Ze.

“Tersangka (Nugrasisun) tanpa mengetahui kejadian sebenarnya langsung diposting di Facebook miliknya. Konten itu pun dikomentari sebanyak 97 kali dan dibagikan sebanyak 30 ribu kali,” jelas Rachmad.

FPI Meminta Penangguhan Penahanan

Sementara itu,  Ketua Bantuan Hukum FPI DKI Jakarta Mirza Zulkarnaen meminta kepada Bareskrim untuk menangguhkan penahanan terhadap salah satu tersangka bernama Suhada al Syuhada Al Aqse alias SSA.

Upaya tersebut dilakukan karena SSA merupakan anggota FPI. FPI secara kelembagaan akan memberikan bantuan hukum kepada anggotanya tersebut. “Pasti karena dia merupakan pengurus FPI, kedua setiap anggota FPI yang ditahan wajib dibantu,” jelasnya.

Mirza menjelaskan, apa yang dilakukan oleh anggotanya tersebut bukan merupakan tindakan dengan unsur kesengajaan. Perbuatan tersebut muncul hanya kelalaian semata. Karena itu, pihak kepolisian tidak memiliki alasan yang kuat untuk menahan pelaku.

Baca juga: Post-Truth dan Fenomena Hoaks dalam Cyber Space di Indonesia

“Insyaallah penangguhan penahanan kita ajukan karena ini kan bukan merupakan faktor kesengajaan beliau karena hanya lalai saja kan. Karena beliau juga enggak tahu isi kontennya itu apa. Hari ini (mengajukan penangguhan penahanan) insyaallah,” ungkapnya.

Meskipun demikian, ia sendiri mengakui kesalahan anggotanya tersebut karena tidak mengecek video sebelum disebarkan. Video tersebut tidak dibuat oleh tersangka SSA tetapi didapatkan dari group yang ia ikuti.

“Yang pasti beliau dapat video dari grup, kesalahan beliau, kelalaian beljau tidak mengecek kembali isi video seperti apa,” ungkap Mirza.

Tersangak SSA, jelas Mirzal, mengaku kaget karena video yang diunggah melalui akun Facebooknya viral di media sosial. Terlebih karena jumlah akun yang berteman dengannya hanya berjumlah 800.

“Saya enggak tahu beliau dapat dari grup yang mana, yang pasti Jumat itu video viral banyak di group-group. Beliau enggak nyangka bakal seviral itu di Facebook-nya, karena member cuman 800 orang, ternyata yang nonton lebih banyak daripada yang membernya,” pungkasnya.*