LABUAN BAJO, dawainusa.com – Sebuah gereja dan empat rumah milik warga di Desa Lumut, Kecamatan Ndoso, Kabupaten Manggarai Barat, NTT rusak akibat diterjang angin puting beliung yang datang bersamaan dengan hujan lebat, Rabu (11/12) petang.

Dilansir dari Antara, kejadian tersebut diketahui dari informasi yang diberikan oleh Kepala Desa Lumut bernama Maksimus Mujad.

Baca juga: Inovasi Produk dalam Negeri Tekan Ketergantungan Atas Produk Impor

Ia menjelaskan, satu dari empat rumah warga yang diterjang angin tersebut menjadi rata dengan dengan tanah. Sementara tiga lainnya mengalami rusak berat pada bagian atapnya.

Adapun sebuah gereja yang terkena dampak dari angin puting beliung itu, demikian Mujad, juga mengalami kerusakan di bagian atapnya.

Sejauh ini, demikian Mujad menjelaskan, semua warga yang rumahnya terkena dampak dari angin puting beliung itu sedang berada di tempat pengungsian, yakni di rumah warga lainnya.

“Sampai saat ini belum ada distribusi bantuan tanggap darurat dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat,” tutur Mujad.

Masuk Musim Hujan, Warga Mesti Berhati-hati

Seperti diketahui, saat ini, wilayah NTT sudah memasuki musim hujan. Pada musim seperti ini, setiap warga dihimbau untuk selalu berhati-hati, baik ketika sedang berada di dalam rumah maupun saat keluar rumah.

Himbauan itu penting, sebab di saat musim hujan seperti itu, ada banyak hal berbahaya yang sering terjadi, baik itu karena angin puting beliung, maupun bahaya lainnya seperti tersambar petir.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, terkait dengan bahaya tersebut, ada seorang ibu dan anak di Desa Lingu Lango, Kecamatan Tanah Righu, Kabupaten Sumba Barat, NTT meninggal dunia setelah disambar petir pada Selasa (11/12).

Baca juga: Pelaku Industri Apresiasi Percepatan Izin di Badan POM

Informasi ini sendiri diperoleh dari seorang petugas Tenaga Kesejahteraan Sosial (TKS) Kecamatan Tanah Righu bernama Klaudius Pala.

Ia menjelaskan, kedua korban itu disambar petir sekitar pukul 15.00 WITA ketika mereka hendak mengangkat pakaian di tempat jemuran yang berada di halaman rumahnya. Dua korban itu masing-masing berinisial NTI (50) dan YB (35).

“Kedua korban terdiri dari ibu dan anak itu langsung meninggal di lokasi kejadian setelah disambar petir,” jelas Pala.

Selain dua korban itu, lanjut Klaudius Pala, satu ekor kambing yang diikat di sekitar tempat kejadian tersebut juga mati akibat tersambar petir.

Sejumlah Sapi di NTT Tewas Tersambar Petir
Sejumlah sapi di NTT yang tewas tersambar petir – Foto: Antara

“Memang saat itu cuaca sudah mulai mendung sehingga kedua korban ingin mengangkat pakaian yang sedang dijemur, namun ketika mereka sedang berada di halaman rumah, petir langsung menyambar mereka. Keduanya tewas seketika,” tutur Pala.

Sebelumnya, yakni pada Kamis (5/12) lalu, peristiwa tersambat petir ini juga menimpa sejumlah sapi milik warga di dusun lima Kolana, Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT.

Jumlah sapi yang tersambar petir itu ada 14 ekor. Dari informasi terakhir, 13 di antara sapi tersebut mati seketika. Sementara 1 di antaranya selamat.*