Saat Fahri Hamzah Pesimis Akan Kemenangan Prabowo

Saat Fahri Hamzah Pesimis Akan Kemenangan Prabowo

Fahri menilai, pihak Prabowo Subianto kurang lihai menghadapi calon presiden petahana, Joko Widodo meskipun ada banyak celah untuk menunjukkan kelemahan pemerintahan. (Fahri Hamzah - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Poros oposisi Prabowo Subianto mesti mencari cara baru untuk menggempur kekuatan petahana Joko Widodo. Jika tidak, besar kemungkinan mantan Danjen Kopassus itu tumbang dalam konstelasi pilpres mendatang.

Wakil ketua DPR RI Fahri Hamzah kembali menyentil soal ini. Fahri menilai, pihak Prabowo Subianto kurang lihai menghadapi calon presiden petahana, Joko Widodo. Padahal menurut Fahri, ada banyak celah untuk mengolah data dan menunjukkan kelemahan pemerintahan Presiden Joko Widodo selama ini.

Kekurangan dari pemerintahan Jokowi, demikian Fahari, bisa menjadi amunisi bagi kubu Prabowo untuk mengkritik pada kampanye Pilpres 2019. Namun, hal itu tidak dilakukan oleh kubu Prabowo. Fahri meyakini, jika masalah tersebut tidak berubah, Joko Widodo akan kembali memenangi pilpres.

“Kalau yang masih ada ini, misalnya grupnya Pak Prabowo, kelihatan Pak Prabowo belum lincah. Kurang lincah. Kalau Pak Prabowo ngadepin Jokowinya kayak begini, dia enggak bakal menang,” kata Fahri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/7).

Baca juga: Pedas, Ini Surat Fahri Hamzah untuk Menteri Susi

Kelincahan Prabowo dalam memanfaatkan data menjadi sebuah tantangan tersendiri. Fahri menghendaki agar Prabowo lebih sering tampil di depan publik, mengorek kelemahan pemerintahan Jokowi dengan basis data, untuk menunjukkan perekonomian Indonesia yang terpuruk.

Meskipun pemerintahan Jokowi melalui Badan Pusat Statistik (BPS) bisa saja merilis data yang menunjukkan seolah perekonomian membaik, namun jika kubu Prabowo jeli, ia meyakini data-data tersebut bisa dibantah kemudian ditunjukkan kekurangan dari pemerintah.

“Cuma itu belum tampak. Jadi ini nasibnya bisa jadi kaya Kroasia. Petahana enggak jebol. Padahal sebenarnya, kesalahan petahana itu banyak. Harusnya oposisi lebih kreatif,” katanya.

Oposisi Harus Punya Banyak Trik

Sebagai oposisi, Fahri juga mengingatkan kubu Prabowo agar memiliki banyak trik untuk menunjukan kelemahan pemerintah saat ini. Ia pun mengaku, jika punya kesemptan akan berusaha menununjukkan kelemahan-kelemahan pemerintah tersebut.

“Oposisi ini harus banyak trik, harus punya kemampuan untuk menjelaskan persoalan kepada masyarakat lebih baik. Karena menurut saya, saya tahu titik lemahnya pemerintahan ini. Dan makanya nanti kalau kita ngomong ya, ya saya akan bicara suatu hari. Ini kelemahan-kelemahannya itu perlu kelincahan gitu loh,” tutur Fahri.

Baca juga: Rembuk Nasional Aktivis 98 dan Kritik Pedas Fahri Hamzah

Trik itu lanjut Fahri, harus betul-betul diperjuangkan karena kubu petahana saat ini memiliki banyak manuver yang dahsyat untuk mempertahankan kekuasaan. “Karena mereka lincah sekali ini, kelompok petahana di Indonesia ini dahsyatlah,” ungkap Fahri.

Sebelumnya, Pengamat komunikasi politik Universitas Paramadina Hendri Satrio, membebeberkan sejumlah kemungkinan Prabowo bisa menang di Pemilihan Presiden 2019.

Pertama, ada perubahan peta politik setelah pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018. Artinya, terang Hendri, banyak calon yang diusung Gerindra dan PKS berhasil menang pada pilkada 2018.

Namun hal itu nampaknya kandas, karena dari hasil Pilkada serentak kemarin justru partai pendukung pemerintah yang banyak memenangi perolehan suara di setiap daerah. Sebaliknya, partai opsisi mendapat perolehan suara yang relatif kecil.

Alasan kedua, apabila Prabowo tepat dalam memilih calon wakil presiden (cawapres), sedangkan Jokowi kurang tepat memilih cawapres. Dengan demikian, Prabowo berpeluang mengalahkan Jokowi.

“Tapi kalau hasil pilkada 2018 ini sama saja, artinya banyak pendukung Jokowi yang menang dan kemudian Jokowi tepat memilih wakil presiden maka hasilnya (akan) sama dengan 2014,” ujar Hendri.

Kemudian, alasan ketiga, terbentuknya koalisi poros ketiga. Hendri menilai, hadirnya poros ketiga ini, dapat memecah belah suara. “Ini berpeluang untuk memecah suara dan biasanya kalau ada perpecahan suara maka peluang kembali menjadi 50:50,” ujar Hendri.

Jokowi Masih Kuat

Terpisah, Politisi PDI Perjuangan Maruarar Sirait menyebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memiliki modal yang lebih kuat untuk kembali jadi presiden pada Pilpres 2019.

Pasalnya, jika dibandingkan pada saat maju di Pilpres 2014, meski sama-sama mendapatkan banyak dukungan namun kali ini dukungan politik juga semakin kuat.

“Beda banget, 2014 elektabilitas Jokowi dengan sekarang jelas berbeda. Lebih tinggi sekarang. Ini bisa menjadi modal penting Jokowi,” ujar Maruarar.

Baca juga: Cuitan Kocak Fahri Hamzah  Soal Jokowi yang Gemar Latihan Tinju

Dari segi dukungan politik, Jokowi kini berhasil merangkul lebih banyak partai politik. PDI-P, Partai Golkar,Partai Nasdem, PPP, Partai Hanura, PSI, Perindo dan PKB telah menyatakan dukungannya pada Jokowi. Jumlah koalisi akan lebih besar dibandingkan 2014 lalu.

Bargaining position politik Jokowi sebagai capres sangat kuat karena didukung tokoh agama, jaringan pemuda, dan berbagai jaringan dan politiknya juga stabil,” kata Maruarar.

Meski begitu, pihaknya tak mau menyombongkan diri. Saat ini tinggal menunggu Jokowi mencari calon wakil presiden yang akan mendampinginya. Siapapun wapresnya, kata dia, harus bisa meningkatkan elektabilitas mereka.

Selain itu, kata pria yang akrab disapa Ara ini, faktor kedua yang juga penting yakni kenyamanan dan kecocokan Jokowi dengan calon wakilnya. Bahkan, akan lebih baik jika Cawapresnya memiliki elektabilitas yang baik.

“Dulu SBY pilih Boediono pasti bukan karena elektabilitas, tapi kenyamanan. Yang paling sempurna kalau satu orang punya elektabilitas dan kecocokan dengan capres. Jokowi sebagai pimpinan pasti punya pikiran bagaimana meneruskan infrastruktur, bagaimana membangun tol laut, dan sebagainya,” tuturnya.*