Rocky Gerung Soal Kuis Ikan Jokowi: Itu Namanya Pembodohan

Rocky Gerung Soal Kuis Ikan Jokowi: Itu Namanya Pembodohan

Menurut Rocky, yang harus dilakukan oleh seorang Presiden adalah membuat pertanyaan yang merangsang daya nalar dan logika anak-anak. (Foto: rocky Gerung - ist)

JAKARTA, dawainusa.com Dosen Filsafat Universitas Indonesia (UI), Rocky Gerung, mengomentari ‘Kuis Ikan’ yang kerap dilakukan oleh Presiden Jokowi. Rocky mengatakan, kebiasaan dilakukan oleh mantan Wali Kota Solo itu merupakan sesuatu yang buruk dan merupakan suatu proses pembodohan.

Menurut Rocky, proses pembodohan itu terjadi karena Presiden memaksa anak-anak untuk menghafal nama-nama ikan. Padahal, sedianya, demikian Rocky, yang harus dilakukan oleh seorang Presiden adalah membuat pertanyaan yang merangsang daya nalar dan logika anak-anak.

“Kini, setiap ada Presiden, dia (anak) buru-buru menghapal nama ikan. Karena itu, namanya pembodohan, dipaksa menghapal,” kata Rocky di Gedung Juang, Jakarta, Senin (30/7).

Baca juga: Wasekjen DPP Demokrat Bongkar Tuntas Keaslian Rocky Gerung

Rocky kemudian mencontohkan pertanyaan logis yang ia maksud dengan mengajukan pertanyaan “mengapa ikan tidak bisa memanjat Pohon”. Dengan mengajukan pertanyaan semacam ini maka daya kritis anak akan terbentuk sehingga dengan demikian ada pembelajaran logika dasar dan filsafat bagi anak SD.

“Bayangkan kalau kuis ini datang dari seorang Presiden. Maka si anak akan bertanya kepada orang tua dan kepala sekolah. Hal ini akan memancing anak berpikir keras,” terang dia.

Selain itu, Rocky mengaitkan ‘Kuis Ikan’ Jokowi dengan jargon revolusi mental yang menjadi salah satu program unggulan Presiden ke 7 RI itu. Ia mengatakan, kalau Presiden pandai membuat pertanyaan yang cerdas kepada anak-anak, maka dengan sendirinya akan terjadi revolusi mental.

“Kalau pertanyaan cerdas datang dari yang cerdas akan terjadi kritisisme dia enggak akan menghapal lagi. Itu yang disebut revolusi mental merubah paradigma. Tapi itu kalau presidennya punya otak,” kata Rocky.

Diketahui, Presiden Jokowi sering membagikan kuis menanyakan soal nama binatang, ikan hingga pengetahuan soal Indonesia saat blusukan ke daerah. Bagi yang bisa menjawab, biasanya Presiden memberikan sepeda sebagai hadiah.

Jangan Tanya Nama Ikan, Tetapi Tanya Daya Beli masyarakat

Sebelumnya, kebiasaan ‘Kuis Ikan’ Jokowi ditanggapi juga oleh Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon. Fadli mengatakan, Presiden Jokowi seharusnya jangan tanya nama-nama ikan melainkan harus memikir dan menanyakan bagaimana kondisi ekomoni dan daya beli masyarakat saat ini.

“Pak Jokowi harusnya jangan hanya tanya nama ikan, bagi-bagi sepeda, tapi tanya juga dong bagaimana kondisi ekonomi mereka. Tanya dong, ‘bagaimana, Bapak, Ibu, hidup sekarang makin enak kan?’ atau ‘bagaimana, cari pekerjaan  makin gampang kan?’ Kalau itu dilakukan, baru saya angkat jempol,” kata Fadli Zon.

Baca juga: Mendeteksi Nuansa Politis di Kantor Staf Presiden

Fadli meyakini, jika Presiden melontarkan pertanyaan seperti itu, maka kebanyakan masyarakat akan menjawab bahwa kondisi perekonomiannya semakin sulit. Menurut dia, hal ini disebabkan karena kenaikan harga listrik, bahan bakar minyak, sejumlah objek pajak, hingga sembako.

Fadli mengungkapkan hal itu menanggapi pernyataan Jokowi yang sebelumnya menuding isu soal turunnya daya beli masyarakat sengaja diciptakan oleh lawan politik untuk menghambat elektabilitasnya pada Pemilu Presiden 2019 mendatang.

“Isunya hanya daya beli turun. Saya liatin siapa yang ngomong, (orang) politik oh enggak apa-apa. Kalau pengusaha murni saya ajak ngomong. Kalau orang politik kan memang tugasnya itu, membuat isu-isu untuk 2019. Sudah kita blakblakan saja,” kata Jokowi.*